Wednesday, September 21, 2011

Nita & Anes - Prewedding

Berlokasi di beberapa tempat di Jakarta, Nita dan Anes akhirnya melakukan foto pre-wedding dibantu oleh dua rekan fotografer. Pre-wedding ini mengambil tema casual dan playful. What a fun session all day :)

BEFORE



AFTER

































Happy for you :) God bless u both...


Make-up and hair do for any occasion
08788 5488 788
by appointment only

Friday, September 16, 2011

Evellyn's Birthday Party

SANTI BEFORE



AFTER











































Ini dia yg berulang tahun ke-9



Happy Birthday :* Special thanks to ci Santi and her lil' angel :)


Make-up and hair do for any occasion
08788 5488 788
by appointment only

Sylvia Tan's Graduation

Before















After





Make-up and hair do for any occasion
08788 5488 788
by appointment only

Wednesday, July 6, 2011

After Wed Utet-Ayah





Special thanks to Utet and husband :)


Make-up and hair do for any occasion
08788 5488 788
by appointment only

Wednesday, April 6, 2011

Beauty Shot 3

Model: Rika
Make-up and hair do: Reborn Beauty by Lidya
Photo: TENphotography
Studio: Fleur de Lis


BEFORE



AFTER





*Semua foto di atas adadlah hasil foto murni tanpa editan photoshop


Make-up and hair do for any occasion
08788 5488 788
by appointment only

Beauty Shot 2

Model: Viona
Make-up and hair do: Reborn Beauty by Lidya
Photo: TENphotography
Studio: Fleur de Lis

BEFORE



AFTER




Semua foto di atas adalah hasil foto murni tanpa editan photoshop.


Reborn Beauty
Make-up and hair do for any occasion
08788 5488 788
by appointment only

Monday, March 7, 2011

Insomnia Has To Die!

Setengah dua lewat tengah malam. Cukup lama juga insomnia ini bertahan. Dengan sedikit bunyi-bunyian perut penanda butuh asupan makan, saya hanya bisa bengong menatap televisi tanpa tau cerita yang sedang diputar. Kepala saya berat karena mengantuk, tapi entah mengapa saya seperti menolak untuk tidur.

Saya sudah lupa, seperti apa rasanya berkutat dengan monitor komputer sampai pagi. Hampir setahun ini saya menganggur. Yah, bukan menganggur yang benar-benar menganggur. Hanya saja menyandang gelar 'murid' kembali, kedua setelah 'jobless'. Dulu, ibarat kata pekerja keras, saya pun rela tidur pagi demi pekerjaan yang jarang ada ujungnya. Dan di sinilah saya sekarang. Di depan layar monitor komputer yang terlalu terang, dan kamar yang gelap tanpa penerangan lampu.

Apakah yang menyebabkan saya sulit tidur? Sebuah beban di pundak yang berat (tidak dalam arti sebenarnya) dan seseorang berat yang menguasai kasur (literally). Saya terus-menerus memikirkan hari esok, sehingga tak mau beristirahat. Saya mencoba mengulangi segala rencana supaya tidak gagal. Bangun jam berapa, akan sarapan apa, keramas atau tidak, berangkat les jam berapa, memakai baju apa. Ya, beberapa pertanyaan yang saya yakin 80% tidak akan menjadi nyata dengan alasan utama, TIDAK SANGGUP menyelesaikan bahkan pertanyaan pertama. Saya tidak akan bisa bangun pagi gegara insomnia.

Padahal sudah saya tenggak obat mujarab berwarna pink maha daysat itu. Biasanya (seperti yang sudah saya twit sebelumnya), obat itu bisa mengalahkan segala macam insomnia saya. Tampaknya berkat kesombongan saya yang mengagung-agungkan obat itu di dunia twitter, obat pun pundung. Dia malah malas bekerja untuk menidurkan saya. Ya, mungkin saja.

Tak perlu kesal. Saya hanya ingin mengoceh. Saya hanya mau berbagi malam panjang tanpa tujuan ini.

Baiklah..baiklah.. Saya cukupkan sampai di sini. Secangkir cokelat panas mungkin bisa melemaskan otot dan syaraf lalu membuat saya tertidur nyenyak. I hope.

Dan sebagai penutup, saya mengacungkan kepalan tangan di udara sambil berkata, "insomnia has to die!"

--
Bandung, 7 Maret 2011

Sunday, February 27, 2011

Beauty Shot 1


Photographer: Ten Photography
Make up and hair do: Lidya Agusfri
Model: Queena






Tuesday, February 15, 2011

Another Day After Valentine

Mungkin sebagian cokelat sudah habis tertelan, menyisakan sedikit remah di lantai. Mungkin sebagian kelopak bunga mulai melayu, meruntuhkan sehelai daunnya. Atau mungkin beberapa teguk anggur semalam mulai bereaksi, memaksa keluar dari kerongkongan. Sisanya. Semalam yang indah. Bagi Anda. Bagi pasangan-pasangan muda.

Saya tidak merayakannya dalam sebatang cokelat, buket bunga mawar, atau minuman. Saya hanya melewatinya dg segelintir ucapan dari orang-orang terdekat; keluarga dan kekasih. Saya dan pacar makan malam biasa, di sebuah rumah makan biasa, pulang dan menonton televisi hingga tengah malam. Seperti biasa. Hingga sebuah film selesai ditayangkan, kami memutuskan untuk makan (tengah) malam.

Bandung, 15 Februari 2011, pukul 01.15 WIB.

Beruntung bagi kami, kami berdua kost di daerah stasiun yang masih cukup ramai hingga pagi. Tidak perlu repot untuk mencari makan bila benar-benar kelaparan. Selalu ada gerobak bubur ayam, atau nasi goreng, atau ayam bakar, atau perkedel 'bondon' yang siap sedia 24 jam. Ke sanalah kami pergi, berdua, dengan tangan yang tergenggam, di bawah gerimis hujan.

Selesai makan, dalam perjalanan pulang, saya menyaksikan pria, wanita, anak-anak, lelaki renta tidur menghampar di depan pertokoan tanpa selimut dan hanya beralaskan koran. Ada pula penarik becak yang tidur dalam becaknya. Ada tukang kopi yang terduduk lesu di depan dagangan, di sebuah kursi tanpa lengan. Mereka dan dunianya.

Ke mana perginya valentine bagi mereka? Wahai batangan cokelat, mawar merah, dan alkohol, di mana kalian?

Hari ini, sebelum, sesudah, dan seterusnya. Tak ada bagi mereka sebuah hari kasih sayang yang penuh cinta. Hanya sehelai koran, dan bangku kayu yang dingin. Tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, 14 Februari tetaplah sama seperti biasa.

Tepat ketika kami pulang, hujan deras tercurah seperti langit yang menguras isinya. Dingin. Dan hari kasih sayang pun telat berkata-kata. Mungkin tahun depan ada cokelat, atau bunga, atau minuman bagi mereka.

Yet, another day has come. After valentine, we could see the same old scenes. Such an irony.

Ketika berbatang-batang cokelat, mawar, dan minuman hanya menjadi bingkai memori bagi pasangan-pasangan mudah, kenyataan hidup orang-orang pinggiran terhampar nyata di depan mata.

Monday, February 7, 2011

Ngobrol Soal Mimpi

Mimpi saya adalah berkeluarga, memiliki usaha sendiri, menjadi seorang hair dresser dan make up artist yang profesional.

Sekarang?

Mimpi saya tetap sama. Berkeluarga memiliki usaha sendiri, menjadi hair dresser dan make-up artist profesional.

Bedanya?

Kapan saya berkeluarga, dan yang kedua dengan siapa saya memiliki usaha.

Bisa?

Tentu saja. Karena Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang terbaik untuk saya. Saya yakin saya bisa.

Lalu apa mimpi kalian? Kamu yang duduk di depan komputer setiap hari menatap angka-angka? Atau kamu juga yang sibuk menelepon menawarkan kartu kredit? Atau kamu yang menjaga anak, menyusui, melakukan pekerjaan rumah tangga?

Hebat atau tidak mimpimu, jangan pernah menyerah. Karena mengecewakan diri sendiri itu jauh lebih sakit daripada mengecewakan orang lain. Jadilah akuntan yang handal, atau marketer yang menyenangkan banyak calon pengguna kartu kredit, atau ibu rumah tangga yang hangat bagi keluarga.

Mimpiku sederhana saja. Sekali lagi saya katakan, saya hanya ingin berkeluarga, memiliki usaha sendiri, menjadi seorang hair dresser dan make up artist yang profesional.

Amin.

Friday, November 5, 2010

Rintik Air Mata dan Sebait Doa

Tuhan, aku percaya. Bilamana kehendak-Mu, itulah yang terjadi. Dan jika mungkin aku ingin mendengar. Ku ingin jawaban-Mu atas bencana. Aku enggan menerka. Aku tak mau mengira-ngira.

Ini mungkin menyebalkan, Tuhan. Kau mungkin bosan mendengar ocehan, rengek manja, dan ketidakpuasan yang aku sampaikan. Aku hanya ingin menanyakan, sampai berapa lama lagi bencana itu akan berhenti?

Dan di tengah-tengah kesedihanku melihat tumpukan abu, rumah-rumah terbakar, korban tewas bergelimpangan, manusia-manusia terluka, juga sejumlah pengungsi menderita, aku hanya sanggup menyampaikan protesku. Dan protes itu diiringi air mataku.

Aku ingin kami hidup lebih baik. Aku mau kami terhindar dari derita. Aku butuh Engkau. Kami butuh Engkau. Hadirlah di tengah-tengah luapan kepanikan kami. Juga di sekitar rintih duka kami. Hanya Engkau, ya Tuhan, yang mampu menghapus air mata dari pipi-pipi yang merah akibat api, yang berdebu karena abu.

Tuhan...
Kuatkanlah kami.

Saturday, October 16, 2010

Little Secrets

Each time I wonder why you're keep looking at me when a thousands beautiful girls are around us. And when you say "I love you", the straight look in your eyes makes me fall into a deep peaceful time. No need to worry how much our love is, but keep it in His hands in every prayer at night.

But, hey! Here I want to tell you the little secrets of mine.

Secret #1:
Sometimes I didn't fall asleep just to hear you breathing. I closed my eyes but keep listening the music of your breath and the sound of wind are dancing on my ears.

Secret #2:
Sometimes I only want to sit next to you, side by side, without any word for a while.

Secret #3:
Sometimes I look cold on your motorcycle just so you will hold me.

Secret #4:
Sometimes I memorize the old time with my ex just to remind me that I love you the most.

Secret #5:
Sometimes I check on your email just so I feel calm there's no other girl beside me. Ups, sorry honey.

Secret #6:
Sometimes I say that I'm exhausted just so you'll hug me for more and feel your caress on my head.

Secret #7:
Sometimes I say that you're an old man, whereas I like the way you coddle me as a lil' girl.

Yeah, those are just a few secrets I've never told you. Beside that, there are many other secrets I will confess it later.

I have my little secrets, so does everybody. So what's yours?

Tuesday, September 21, 2010

Apakah Salah?

Sebelum hujan turun, bau yang berbeda tersibak dalam udara. Aku mengangkat tanganku, melebarkannya sejauh yang aku bisa. Kuhirup saja, udara yang berbau basah. Bau tanah. Kurasakan sepelan mungkin, waktu yang sepertinya mundur teratur. Detik yang merambat ke belakang.

Sama seperti hujan yang belum turun. Perlahan namun pasti, memberikan tanda-tanda yang sudah bisa kutebak. Awan yang menggelayut, angin yang berhembus, dan udara yang basah, dan bau tanah. Sama seperti juga kamu yang melangkah pelan-pelan, memberi tanda bahwa hidupku akan berakhir bahagia.

Kini sama saja. Sama seperti waktu dulu aku menyadari perasaanku. Menunggu hujan turun sama ketika aku menunggu hatiku kembali terbit. Sudah terlalu lama redup, kurasa. Entah angin, entah air. Mereka menghanyutkan sisa penantianku. Karena aku tahu pada akhirnya akan tiba juga. Sama seperti menunggu hujan turun di sore ini.

Apakah salah?

Masih saja kumenatap debu yang tertiup angin. Mereka bergelung manja pada buaian, yang menghantarkannya ke tempat-tempat nun jauh. Ada pula di sisi jalan, kokoh berdiri pohon tua yang kini sedang mengalun kiri ke kanan. Mereka berbicara. Aku diam. Mereka menikmati angin yang datang sebelum hujan. Aku mendamba titik air bercucuran. Mereka dan aku. Dan hujan yang terlambat datang.

Apakah salah?

Apakah ada yang lebih benar daripada menemukanmu? Menemukan kembali pelajaran tentang kasih, eksistensi diri, dan penghargaan dari sebuah perasaan cinta? Aku harus akui, kau lah kebenaran itu. Kebenaran yang membuat aku merayap melewati titian waktu selama lebih dari setahun hingga akhirnya kubuka hati dan menerima. Dan ternyata benar adanya.

Aku masih menunggu hujan yang terlambat datang. Angin masih menari, mengajak debu jalan berdansa dan pohon tua berirama. Tapi aku tahu pasti, begitu juga mereka, bahwa hujan sore ini akan turun.

Dari balik jendela, aku lalu mendengar suara rintik yang bersusulan.
Dari balik pintu, aku lalu melihat kamu datang dan memelukku.

Aku tahu tidak ada lagi yang salah. Dengan kita.

Thursday, August 19, 2010

Mencintaimu Lebih Dari Ini

Dukaku yang kularung dalam sebuah kali, menghanyut tanpa sebelumnya tergenang di permukaan air. Dukaku sebanyak itu. Dulu, terbendung dalam hati yang kujahit sendiri lukanya.

Tak terperi, rasa sakit atas masa lalu. Aku dan masa laluku. Denyut-denyut dendam yang perlahan hilang. Sudah terbiasa, kataku. Sudah sering dan terlalu lama aku jatuh dan merasakan sakitnya. Lalu semakin kering mulut dan bibirku. Aku terlalu lama tidak bersuara. Mungkin bukan tuli atau bisu. Hanya saja tak bisa mengatakan apa-apa.

Kesendirian, sekali lagi bukan sahabat yang baik. Ia musuh utamaku. Sendiriku. Merantai kaki dan tubuh. Diam. Merasakan getir yang terus berulang. Dalam sendiriku, sakit dan remuk itu kembali dan selalu datang.

Namun.

Kamu hadir di waktu yang tepat. Ketika itu, dendamku sudah hanyut. Duka yang kularung dalam sebuah kali, yang sudah hanyut tanpa tergenang. Hilang sudah. Kamu melengkapiku. Merajut bidang kosong, bekas aku dan lukaku. Mengisi ruang batin, dulu diam dan sendiriku. Aku jatuh hati padamu. Bukan. Kamu membuatku merasakan cinta pada hidup. Rasanya salah. Kamu mengajariku meletakkan sedu sedan pada kasih.

Dan kini hati itu, cinta itu, kasih itu, membanjiri aku. Semoga juga kamu.

Mencintaimu lebih dari ini. Bagaimana caranya? Bagaimana bisa? Aku hanya mencintaimu secukupnya. Mungkin juga kau ingin aku makin cinta. Tapi bagaimana?

Lalu kumohon, beri tahu aku rahasianya. Kuingin mencintamu, lebih dari ini.

--
Dearest Arif,
I Love you

Jakarta, 19 Agustus 2010

Wednesday, August 4, 2010

Sepenggal Kisah Bumi

Paru-parunya dipaksa bekerja. Darah memompa jantungnya yang berdegup kencang, mengikat oksigen, mengantarkan pada otot yang lelah dan kencang. Ia terus berlari, mengerahkan separuh lagi kemampuannya untuk bisa berpikir. Langkah-langkah panjang yang tersaruk-maruk di rerumputan menggores kaki hingga betis.

Dalam pikirannya hanya satu, bumi yang dipijaknya masih kokoh berdiri. Tapi penopang langitnya sudah rapuh. Ia tidak ingin tersia-sia, menjadi bumi tanpa langit. Ia tidak mau berdusta pada dunia, bahwa bumi bisa sendiri.Ia masih ingin langitnya ada, bersandar pada punggungnya walaupun tak lagi kekar seperti sedia.

Ia hanya lelaki. Dan cintanya sudah mulai teradu pada keadaan yang pilu.

Matahari sudah siap tampil. Fajar bergegas menjemput empunya dunia, sang cahaya yang garang. Dedaunan menegakkan tubuhnya. Embun bergulir sementara bunga tergelitik mekar. Di ufuk timur yang jauh, pagi merayap. Senyap.

Bumi terus berlari.

Di ujung jemarinya yang tergenggam, masih ada sejumput cinta yang ia punya. Di ujung bibirnya yang menghitam, masih ada kata maaf yang belum sempat tersampaikan. Dan sekali lagi, ia tidak ingin terlambat mengotori batinnya. Selamanya dia tidak akan bisa memaafkan diri sendiri. Bumi lambat laun juga mati, jika langitnya luluh runtuh.

Tiang-tiang bambu terpancang di depan rumah usang dengan balutan warna suram, sebelum fajar menyongsong pagi. Gulita dan senyap mengendap-endap dari tanah hingga atap. Tak jauh dari situ, lantai keramik usang dan dinding batu yang beku cuma terdiam. Menatap tanpa berani bicara, darah-darah yang terurai. Bumi tak tahu. Ia belum tahu.

Di sisi langit yang sama, cintanya tak pernah menua. Tak seperti kayu dan keramik dan batu dan rumah itu. Langitnya dan cintanya.

Bumi tergetar. Rasa sesak menggoncangnya hingga ke ujung nadi. Di hadapan tiang-tiang bambu, ia bersimpuh. Menatap nanar langitnya yang tak mau lagi mengarak biru. Ada darah menggenang pada langitnya. Juga air mata. Diujung jarinya yang tergenggam, cintanya memuai. Melayang di udara. Di ujung bibirnya yang menghitam, maafnya terurai. Hilang begitu saja.

Tak sempat terucapkan cinta pada langit sekali lagi. Sejak minggu lalu, langitnya yang dulu teduh, tertutup awan hitam pekat. Sejak minggu lalu, bumi tak peduli langitnya menangis curah hujan yang tak henti. Rahim langit ternodai oleh seorang lelaki. Ia tak sudi. Tadinya. Dan kini ia tak peduli. Bumi hanya ingin langitnya kembali.

Pada kemarik usang dan dinding batu yang bisu, bumi menghempaskan sesalnya yang dalam. Tak lagi bisa dirasakannya ototnya yang mengencang atau napasnya yang menggebu. Ia luruh. Terlambat yang amat menyakitkan. Ia tak dapat lagi berdiri.

"Aku terlambat. Sekali lagi maaf," Kata-katanya bergulir bersama deru deritanya. Keramik usang dan dinding batu mulai berkaca-kaca. Mereka menitikkan air mata. Pada cinta yang teramat dalam, mereka salahkan semua.

"Tunggu aku," terakhir kali ucapnya.

Lalu pisau yang yang membelah langit, direnggutnya. Bumi menghujam dada dan terkulai.

Tepat luruh. Bumi itu.

--
Lanjutan cerita dari Sepenggal Kisah Langit yg terbengkalai lama. Sila liat linknya...
http://salamlangituntukbumi.blogspot.com/2010/01/sepenggal-kisah-langit.html

Jakarta, 19 Agustus 2010

Siapakah Aku Ini, Bapa?

Apakah sebaik itu aku di hadapan-Mu ya Allah yg rahim? Ketika aku tidak menumbuhkan imanku,Kau ketuk hatiku berkali-kali. Ketika aku melemahkan keyakinanku,Kau kuatkan aku terus-menerus. Dan ketika aku terjatuh dalam dosa,Kau angkat aku sekali lagi. Apa lg yg dapat kuberi,selain imanku yg sederhana?

Ya Bapa, maafkanlah anakmu. Aku yang liar dan pemarah. Aku yang pandai berdusta dan berkata buruk. Aku yang pembenci dan menyimpan dendam. Di hadapan-Mu,aku bertekuk lutut dan merendahkan hati. Mana aku berani menatap tubuh-Mu yang terpaku di kayu salib. Terlebih ketika engkau terbaring penuh luka dan wafat dalam goa. Semua cinta itu telah kusia-siakan,seperti juga hidup dan pengampunan yang sudah Kau berikan. Aku tak mampu,Tuhan. Maafkan hamba, anak-Mu yang penuh dosa.

Lalu apa lagi yang bisa kukatakan di hadapan salib-Mu yang kaku? Selain sebuah kalimat yang kukatakan berulang-ulang kali dalam tubuh yang lesu dan suara parau air mataku.......Terimalah imanku yg sederhana ini,Tuhan.

Amin.

--Carmel, 23 July 2010--

Thursday, June 3, 2010

Dad, I Love You

Aku hanya ingin bercerita, tentang seorang yang mulai menua. Tentang sosok lelaki yang belum pernah kulihat menyerah. Tentang urat-urat di dahinya dan senyum khas di bawah kumisnya.

Kuingat, suatu hari ia pernah menamparku. Sakit di hati jauh lebih perih dari pipiku yang merah. Kami diam, melengos ketika bertemu, dan tak pernah saling menyapa. Dua hari. Dua hari yang berat. Bukannya aku tak bisa memaafkannya, tapi kesalahanku terlalu berat untuk bisa aku mengampuni diriku sendiri. Aku benci kelakuanku. Aku tak sanggup menatap matanya. Dua hari itu.

Lalu pada malam ketiga, ia masuk ke kamarku. Ia duduk di ujung tempat tidur dan bicara. Suaranya berat, napasnya putus-putus. Ia melihatku, jauh ke dalam mataku yang basah. Ia bilang bahwa dia mengasihiku. Maaf yang ia ucapkan, aku telan. Rasanya kecut. Karena aku terlalu pengecut untuk memohon maaf juga, bahkan hanya untuk mengatakan iya. Aku diam. Dia juga diam. Lalu sebelum ia keluar dari pintu, aku menangis tersedu-sedu. Tak pernah kusampaikan bahwa aku mengasihinya juga, tapi ia mengerti. Ia cukup tahu dan aku sadar diri. Kami berbaikan. Dia, denganku. Dan aku dengan diriku sendiri.

Suatu hari yang lain, ia menjemputku sepulang pertandingan. Aku kalah dan menangis habis-habisan di pinggir lapangan. Aku berlindung di balik punggung pelatihku yang tinggi besar. Dan ketika pak pelatih mengantarkan aku di pintu gerbang lapangan, ia ada di situ. Ia tahu kekalahanku tanpa aku sempat mengatakan. Dan selama perjalanan pulang, ia bercerita tentang kebesaran hati. Aku tak lagi menangis, kusimpan cerita kekesalanku dan bersyukur. Ia hebat. Aku bersyukur aku memilikinya.

Bukan satu dua kali kulihat dia termenung. Duduk di atas sepeda motor yang diparkir di teras rumah. Kuperhatikan ia merokok sendirian, menikmati kepulan asap, ditemani bunga-bunga anggrek yang juga diam. Sesekali, ia mengerutkan dahi. Mungkin sedang berpikir keras, memperjuangkan hidupku dan keluargaku. Ia berpikir tentang esok pagi mencari makan untuk kami. Ia berpikir, berapa banyak kawat lagi yang harus ia gulung sehingga aku bisa terus pergi ke sekolah.

Pertengahan SMA, tahun 2003 sepertinya. Aku lupa-lupa ingat. Ketika itu, memiliki bengkel dinamo di tengah puluhan lapak lain bukanlah sebuah mata pencaharian yang mengalirkan pundi-pundi uang. Aku tahu sulitnya mencari nafkah untuk seorang istri yang butuh bedak, dan empat anak yang masih haus ilmu. Aku mengerti beratnya mencari uang untuk membeli beras yang bisa dimakan dan sedikit tambahan untuk kedua anaknya yang berlayar ke kota lain demi meraih gelar. Ia tak pernah menangis. Kulitnya yang semakin legam dan lengannya yang semakin kurus, ia dedikasikan untukku. Untuk saudara-saudaraku. Ia tak pernah mengeluh. Tak pernah. Tak akan pernah, kurasa.

Dan ketika kini aku ada di ibukota. Ketika aku memperjuangkan hidupku sendiri. Aku belum bisa membahagiakannya. Aku belum pula sempat mengatakan aku mencintainya. Pada Tuhan kusampaikan permohonanku. Berilah aku cukup waktu untuk bisa memberinya bahagia dan mengucapkan kasihku padanya.

Teruntuk ayah. Aku mencintaimu.

--
Jakarta, 3 Juni 2010

Sunday, May 16, 2010

Siapa Saya?

Siapa saya? Belum pernah saya bilang bahwa saya ini adalah manusia biasa-biasa saja? Saya hanya menyukai huruf yang teratur disusun hingga bisa diucapkan berirama. Bukan berarti bahwa semua tulisan saya indah. Tak pantas rasanya.

Siapa saya? Saya ingin menjalani hidup bukan sebuah ketersia-siaan. Saya ingin melangkah, kalau bisa terbang. Saya menikmati dan mensyukuri, walaupun kadang-kadang saya mencaci dan memberontak pada Tuhan. Hidup saya, sekali lagi, biasa saja. Saya bukan seseorang dengan title pekerjaan yang bonafit, di perusahaan ternama, atau pernah kuliah dengan jurusan luar biasa. Hanya biasa saja. Cukup.

Siapa saya?

Rasanya ingin mengacungkan kepalan tangan dan berkata, "Lho, Anda siapa?"

--
(Tanpa gelar hari ke berapa. Cuma sebuah tulisan saja.)
Home, 16 Mei 2010

Monday, May 10, 2010

Herpes Membawa Duka

-edited-


Hari ini adalah hari yang melelahkan. Saya mengira ini masih Sabtu. Ternyata besok adalah hari saya harus memulai minggu baru lagi, bekerja lagi, dikejar deadline lagi, meeting-meeting lagi, dan menulis report dan lain-lain lagi. Saya harus bersemangat! Minggu ini adalah minggu yang penting karena deadline project TVC sudah makin dekat. Saya tidak mau menyia-nyiakan minggu pendek karena terpotong liburan nanti hari Kamis. Walaupun sakit dan sedang berduka karena virus, saya harus bisa berjuang.

Sebenarnya saat ini saya sedang terkena virus. Setelah selesai melewati hari-hari bersahabat dengan flu, sekarang saya pun tertular penyakit yang menyebalkan. Herpes. Tapi tolonglah, jangan berpikir ini adalah penyakit yang tergolong STD (Sexual Transmitted Disease). Jenis herpes ini bukanlah Herpes Genitalis, jadi bagian 'itu' tetap aman jaya kok. Untungnya juga herpes yang saya derita masih tergolong sangat ringan dengan bintik merah yang tidak terlalu banyak dan tidak separah orang-orang lain. Hanya ada beberapa bintik yang menyebar di sekitar ketiak dan satu bagian ruam sekitar 2 cm di situ. Semua adalah gara-gara cacar air yang pernah saya derita dua tahun yang lalu.

Seseorang yang pernah mengalami cacar air dan kemudian sembuh, sebenarnya virus tidak 100% hilang dari dalam tubuhnya, melainkan bersembunyi di dalam sel ganglion dorsalis sistem saraf sensoris penderita. Ketika daya tahan tubuh (Immun) melemah, virus akan kembali menyerang dalam bentuk Herpes zoster dimana gejala yang ditimbulkan sama dengan penyakit cacar air (chickenpox). Bagi seseorang yang belum pernah mengalami cacar air, apabila terserang virus varicella-zoster maka tidak langsung mengalami penyakit herpes zoster akan tetapi mengalami cacar air terlebih dahulu.

Sama seperti keponakan saya yang baru saya kunjungi minggu kemarin, saya dan dia sama-sama menderita cacar tepat saat lebaran tahun 2008. Saya lebih dulu dua minggu darinya. Sekarang juga dia sedang terkena herpes zoster, tapi pada bagian yang berbeda. Bintik-bintik yang ada pada dia lebih banyak berada di bagian punggung, sedangkan saya berada di lengan atas, dekat ketiak. Yang paling menyebalkan adalah, bintik-bintik ini perih dan membuat saya susah menggunakan tangan sebelah kanan. Sedikit saja bersinggungan dengan pakaian, maka perih pun langsung menyerang.

Sebenarnya bagaimana virus yang sama dengan cacar air ini bisa menular? Secara umum, seluruh jenis penyakit herpes dapat menular melalui kontak langsung. Namun pada herpes zoster, seperti yang terjadi pada penyakit cacar (chickenpox), proses penularan bisa melalui bersin, batuk, pakaian yang tercemar dan sentuhan ke atas gelembung/lepuh yang pecah. Pada penyakit Herpes Genitalis (genetalia), penularan terjadi melalui prilaku sex. Sehingga penyakit Herpes genetalis ini kadang diderita dibagian mulut akibat oral sex. Gejalanya akan timbul dalam masa 7-21 hari setelah seseorang mengalami kontak (terserang) virus varicella-zoster.

Herpes juga bisa menyerang bagian mulut. Dan dikarenakan penyakit ini bisa menular lewat sentuhan, jangan sekali-kali berciuman dengan penderita herpes. Untung saja saya memang belum punya pacar, jadi tidak perlu 'puasa ciuman' sampai saya sehat kembali.

Begini kira-kira gejaa penyakitnya. Gejalanya yaitu berupa luka pada kulit yang terkena virus, dan disertai dengan?rasa nyeri serta panas, kemudian diikuti dengan lepuhan seperti luka bakar dan demam. Lepuhan-lepuhan kulit yang menjadi ciri khas herpes akan mengelupas dengan atau tanpa pengobatan. Terkadang penderita tetap merasa nyeri dan panas meskipun lepuhan-lepuhan itu sudah kering dan mengelupas. Hal itu disebabkan karena virus herpes menyerang bagian saraf.

Sudah cukup informasinya? Bila belum, silahkan klik saja di sini http://www.infopenyakit.com/2007/12/penyakit-cacar-herpes.html

Mudah-mudahan informasi dari saya bisa sedikit berguna. Dan mudah-mudahan juga saya virus itu 'ogah' berlama-lama mendekam dalam tubuh saya. Amin.

--

Home, 10 May 2010

Friday, May 7, 2010

Sebuah Kata Menyerah

Bila memungkinkan, saya mengucapkannya dengan penuh suka rela. Saya terbebani dengan hidup saya sendiri. Saya tidak mau lagi memaki, mencaci, marah, terbakar amarah. Saya hanya ingin menyerah.

Bila memungkinkan, orang-orang memiliki penilaian yang sama sepertiku. Saya berusaha dan terus dan selalu melakukannya. Saya tidak ingin lagi direndahkan, dihina, dilukai, disakiti. Saya hanya ingin menyerah.

Tentang apa?

Tentang dunia dan seluruh isinya. Menyerah saja dan mundur teratur. Bersembunyi di balik rok ibu atau ketiak bapak. Saya ingin melakukannya tidak sendiri. Tidak berani. Saya hilang arah dan hilang asa.

Sebuah kata menyerah yang membingungkan. Sebuah kata yang terkulum di mulut hingga kutersedak olehnya. Saya telan pelan sambil terbatuk. Kata itu mengalir masuk bersama ludah yang terasa kering. Kata menyerah itu sekali lagi membentur otakku dan mati karenanya. Ia sendiri kalah.

Apakah saya lalu menang? Tidak. Bahkan untuk menyerah pun saya tidak berani. Mengucapkannya seperti bersumpah mati. Saya menutup mata, membiarkan udara menyertai beban di pundakku yang terasa semakin berat, melayangkan mereka hingga jauh. Menyerah dan mati. Itu adalah sebuah konsekuensi. Bertahan lalu menangis. Itu adalah sebuah harga diri.

Kata menyerah yang pelan-pelan hancur dalam perutku, mungkin saja terbakar jadi abu. Jangan kembali! Aku mohon, pergi saja. Kau terlalu menyesakkan. Bukan aku tidak ingin mengucapkan menyerah itu, aku hanya ingin bersahabat denganmu.

--

Home, 7 Mei 2010