Showing posts with label syair ku. Show all posts
Showing posts with label syair ku. Show all posts

Friday, November 5, 2010

Rintik Air Mata dan Sebait Doa

Tuhan, aku percaya. Bilamana kehendak-Mu, itulah yang terjadi. Dan jika mungkin aku ingin mendengar. Ku ingin jawaban-Mu atas bencana. Aku enggan menerka. Aku tak mau mengira-ngira.

Ini mungkin menyebalkan, Tuhan. Kau mungkin bosan mendengar ocehan, rengek manja, dan ketidakpuasan yang aku sampaikan. Aku hanya ingin menanyakan, sampai berapa lama lagi bencana itu akan berhenti?

Dan di tengah-tengah kesedihanku melihat tumpukan abu, rumah-rumah terbakar, korban tewas bergelimpangan, manusia-manusia terluka, juga sejumlah pengungsi menderita, aku hanya sanggup menyampaikan protesku. Dan protes itu diiringi air mataku.

Aku ingin kami hidup lebih baik. Aku mau kami terhindar dari derita. Aku butuh Engkau. Kami butuh Engkau. Hadirlah di tengah-tengah luapan kepanikan kami. Juga di sekitar rintih duka kami. Hanya Engkau, ya Tuhan, yang mampu menghapus air mata dari pipi-pipi yang merah akibat api, yang berdebu karena abu.

Tuhan...
Kuatkanlah kami.

Tuesday, September 21, 2010

Apakah Salah?

Sebelum hujan turun, bau yang berbeda tersibak dalam udara. Aku mengangkat tanganku, melebarkannya sejauh yang aku bisa. Kuhirup saja, udara yang berbau basah. Bau tanah. Kurasakan sepelan mungkin, waktu yang sepertinya mundur teratur. Detik yang merambat ke belakang.

Sama seperti hujan yang belum turun. Perlahan namun pasti, memberikan tanda-tanda yang sudah bisa kutebak. Awan yang menggelayut, angin yang berhembus, dan udara yang basah, dan bau tanah. Sama seperti juga kamu yang melangkah pelan-pelan, memberi tanda bahwa hidupku akan berakhir bahagia.

Kini sama saja. Sama seperti waktu dulu aku menyadari perasaanku. Menunggu hujan turun sama ketika aku menunggu hatiku kembali terbit. Sudah terlalu lama redup, kurasa. Entah angin, entah air. Mereka menghanyutkan sisa penantianku. Karena aku tahu pada akhirnya akan tiba juga. Sama seperti menunggu hujan turun di sore ini.

Apakah salah?

Masih saja kumenatap debu yang tertiup angin. Mereka bergelung manja pada buaian, yang menghantarkannya ke tempat-tempat nun jauh. Ada pula di sisi jalan, kokoh berdiri pohon tua yang kini sedang mengalun kiri ke kanan. Mereka berbicara. Aku diam. Mereka menikmati angin yang datang sebelum hujan. Aku mendamba titik air bercucuran. Mereka dan aku. Dan hujan yang terlambat datang.

Apakah salah?

Apakah ada yang lebih benar daripada menemukanmu? Menemukan kembali pelajaran tentang kasih, eksistensi diri, dan penghargaan dari sebuah perasaan cinta? Aku harus akui, kau lah kebenaran itu. Kebenaran yang membuat aku merayap melewati titian waktu selama lebih dari setahun hingga akhirnya kubuka hati dan menerima. Dan ternyata benar adanya.

Aku masih menunggu hujan yang terlambat datang. Angin masih menari, mengajak debu jalan berdansa dan pohon tua berirama. Tapi aku tahu pasti, begitu juga mereka, bahwa hujan sore ini akan turun.

Dari balik jendela, aku lalu mendengar suara rintik yang bersusulan.
Dari balik pintu, aku lalu melihat kamu datang dan memelukku.

Aku tahu tidak ada lagi yang salah. Dengan kita.

Thursday, August 19, 2010

Mencintaimu Lebih Dari Ini

Dukaku yang kularung dalam sebuah kali, menghanyut tanpa sebelumnya tergenang di permukaan air. Dukaku sebanyak itu. Dulu, terbendung dalam hati yang kujahit sendiri lukanya.

Tak terperi, rasa sakit atas masa lalu. Aku dan masa laluku. Denyut-denyut dendam yang perlahan hilang. Sudah terbiasa, kataku. Sudah sering dan terlalu lama aku jatuh dan merasakan sakitnya. Lalu semakin kering mulut dan bibirku. Aku terlalu lama tidak bersuara. Mungkin bukan tuli atau bisu. Hanya saja tak bisa mengatakan apa-apa.

Kesendirian, sekali lagi bukan sahabat yang baik. Ia musuh utamaku. Sendiriku. Merantai kaki dan tubuh. Diam. Merasakan getir yang terus berulang. Dalam sendiriku, sakit dan remuk itu kembali dan selalu datang.

Namun.

Kamu hadir di waktu yang tepat. Ketika itu, dendamku sudah hanyut. Duka yang kularung dalam sebuah kali, yang sudah hanyut tanpa tergenang. Hilang sudah. Kamu melengkapiku. Merajut bidang kosong, bekas aku dan lukaku. Mengisi ruang batin, dulu diam dan sendiriku. Aku jatuh hati padamu. Bukan. Kamu membuatku merasakan cinta pada hidup. Rasanya salah. Kamu mengajariku meletakkan sedu sedan pada kasih.

Dan kini hati itu, cinta itu, kasih itu, membanjiri aku. Semoga juga kamu.

Mencintaimu lebih dari ini. Bagaimana caranya? Bagaimana bisa? Aku hanya mencintaimu secukupnya. Mungkin juga kau ingin aku makin cinta. Tapi bagaimana?

Lalu kumohon, beri tahu aku rahasianya. Kuingin mencintamu, lebih dari ini.

--
Dearest Arif,
I Love you

Jakarta, 19 Agustus 2010

Tuesday, May 4, 2010

Hujan Tengah Malam dan Doa pada Tuhan

Tuhan yang pemurah, titik-titik air yang jatuh ke tanah yang kemudian meloncat-loncat kegirangan di bawah sana, yang menciptakan riak kecil pada tepi jalan, aku syukuri pada malam ini. Mengalirlah sampai ke ujung, terus turun pada selokan yang landai, membawa hatiku jatuh dan berderai. Aku mencintai Engkau.

Malam ini basah. Begitu basah sampai aku harus memeras hatiku yang kebanjiran. Terlalu penuh cinta yang dicurahkan padaku. Engkau sungguh baik. Kau mengisi aku dan memenuhi aku berkali-kali, bahkan ketika aku menjadi pelupa. Tangan yang perkasa itulah yang kembali membawa aku pulang, berlabuh pada-Mu.

Ah, hujan. Selalu saja hujan yang menyuarakan kecintaanku pada-Mu. Mungkin harus kutanyakan pada ibu, apakah aku lahir saat turun hujan deras. Suara-Mu mengalir di telingaku bersamaan dengan gemericik air yang menabuh bumi. Aku ingin merasakan aliran air yang sesungguhnya, yang jarang kurasa saat ku basuh tubuh ketika mandi. Aku ingin merasakan tetes-tetes hujan yang berlomba turun dari dahi hingga ujung kaki. Aku ingin merasakan Engkau.

Air mata hatiku tidak bisa membanjiri lahan di bumi, seperti Engkau yang menyuburkan dunia yang kering. Aku menangis bukan karena kesedihanku, bukan karena putus asa, bukan juga marah atau benci. Aku menangisi siapa? Haruskah aku mengaku bahwa aku sungguh tidak berdaya? Aku berpasrah. Aku mengadukan hidup dan matiku, Tuhan. Engkau pencipta alam. Semoga sudilah Kau mendengar. Dan kupercaya, tak ada air mata yang sia-sia. Kau akan mengganti curahan kepedihanku dengan cinta-Mu.

Amin.

--
In the middle of rain
Home, 4-5-2010

Saturday, May 1, 2010

Pinta Seorang Manusia

Peluh,
Keruh

Sedih,
Pedih

Marah,
Gerah

Kutuai kata-kata
Mengalun tanpa suara

Kumaki dunia
Tertuang dalam air mata

Dawai matahari
Genderang kulit rembulan
Tolong terangi aku
Sekali lagi
Lagi...

Lalu pintaku pada Tuhan
Manusiakan aku
Lebih manusia
Hingga esok
Esok...

Syukur kepada Allah

Monday, April 19, 2010

Lihatlah, Siapa yang Menangis!

Lihatlah, cucur air mata yang bertandang ke pipi merah merona!
Buaian lagu pujian pun membuatnya mengharu
Lihatlah, sejengkal imannya yang teruji bertubi-tubi!

Tuhan yang merajai dunia
Ada di mana Engkau?
Ia berteriak,
menjulurkan tangannya menggapai-gapai udara kosong
Kalut
Takut

Lihatlah, siapa yang menangis!
Lihatlah, kerut-kerut dahinya!

Lihat Tuhan, dan tolong sapalah ia

--
in the middle of emptiness
Home, 19 April 2010

Sunday, March 28, 2010

Tuhan, Aku Cinta Padamu

Aku lemas

Tapi berdaya

Aku tidak sambat rasa sakit

atau gatal

Aku pengin makan tajin

Aku tidak pernah sesak nafas

Tapi tubuhku tidak memuaskan

untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku

dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam

Aku ingin meningkatkan pengabdian

kepada Allah



Tuhan, aku cinta padamu

Rendra

(Inilah puisi terakhir Rendra, yang dibuat pada 31 Juli 2009 di RS Mitra Keluarga Jakarta.)

Friday, February 26, 2010

Seolah-olah

Seolah-olah aku mencintaimu
Jatuh hati sampai tergila-gila

Seolah-olah aku menyayangimu
Ingin bertemu dan bermanis manja

Seolah-olah saja
Padahal langit tahu
Padahal pepohonan mendengar
Padahal matahari mengerti

Seolah-olah kita sepasang pencinta
Padahal hanya orang-orang bermuka dua

Seolah-olah kita kekasih
Padahal cuma kebiasaan dan harga diri

Kamu dan aku seolah-olah ada
Kita,
yang sebenarnya terpisah
aku dan kamu yang seolah-olah saja

--
In the middle of trap
Jakarta, 26 February 2010

Wednesday, February 17, 2010

Bahkan Ketika Fajar

Sekali lagi merindukanmu. Sudah pasti, muaklah semua orang yang berulang kali mendengar kalimat yang sama keluar dari mulutku. Tapi bukan sesuatu yang dibuat-buat. Perasaan ini mengalir, deras dan kencang, berdenyut-denyut dalam nadi yang mulai melemah.

Kamu, terbit di kepalaku tepat sebelum matahari menyapa dunia. Dalam dunia yang lirih, aku ingin kamu ada. Nyata. Bukan rekayasa angan-angan saja. Bukan karena otakku berteriak menampilkan kamu di pikiranku. Aku ingin kamu bisa aku sentuh. Bolehkah? Sekali saja mungkin. Aku ingin mencium tanganmu terakhir kali.

Aku diam saja, menghayati setiap pesan yang sempat kamu tinggalkan. Belakangan ini, jari-jarimu yang sering hinggap di pikiranku. Entah mengapa. Mungkin karena kamu mencintaiku dari potongan-potongan jari yang menurutmu berseni (Ya, Tuhan memang seniman handal). Dulu. Katamu. Dan aku sekarang meningat jemarimu yang mendawaikan lagu, di balik gitar itu, meninggalkan sebait pesan atau sepenggal kata cinta. Dulu. Nyanyianmu.

Jauh menghilang. Pelan. Sayang, terlalu pelan. Sangat pelan hingga kamu menempel diam-diam. Aku tidak sadar sekali lagi mencintaimu. Tidak mengerti mengapa cinta bisa datang dan pergi dari orang yang sama yang sudah lama tidak berjumpa. Jumpalitan seperti naik roller coaster. Jatuh cinta ini seperti duri yang terselip pada daging. Rasanya utuh, tepat mengganggu ketika diam atau bergerak. Kamu duri itu.

Dan bahkan ketika fajar seperti sekarang. Dan bahkan ketika kamu sudah jauh di seberang. Dan bahkan ketika sudah lama aku menyerah meletakkan harapanku. Bahkan kini, setahun lebih ketiadaanmu. Aku masih merindukanmu, jatuh hati padamu, mencintaimu.

--
In the middle of memories
Jakarta, 17 Feb 2010

Wednesday, February 3, 2010

What's All those Nice Words Means?

yeay, nice words means nothing!

Gigi-geligi yang menyempil indah pada gusi, menarikan suara dari kata. Padahal kata itu lalu tak berarti apa-apa. Ya, hanya gigi-geligi yang menyempil manis pada gusi. Membantu sebuah nada yang terpaut dari mulut yang berbusa karena kata.

Aku memiliki ketertarikan menulis dan berkata-kata. Dari otak hingga sampai ke jari yang berjumlah masih lengkap sepuluh. Aku tertarik untuk bicara tentang kata-kata. Dari hati hingga sampai ke lidah yang mampu mengecap rasa. Aku bisa menyentuh kata-kata, lalu membayangkan kata itu melayang masuk ke dalam telinga lalu mampir di otak dan akhirnya tersangkut dalam dada. Aku dan kata-kataku.

Rima? Mengapa berima dan berirama? Supaya indah. Supaya makna yang mengangguni kata bisa meresap lebih dalam. Tak bisa bersuara, andai. Tak mampu berkata, andai. Andai-andai saja aku diam dan tidak menulis dan tidak bicara dan tidak berpikir dan tidak merasa. Lalu aku? Dapatkah aku menyebut diriku manusia?

Kata yang terjuntai, mengalir deras dari sebuah keyboard komputer berwana hitam dengan layar monitor lebar dan hitam dan selingan sepasang speaker yang juga hitam. Terayun-ayun rangkaian kata dari jemari yang menari di atas kerboardnya, dan mata memandang ke depan layar monitornya, dan mendengar lantunan lagu dari speakernya, yang kesemuanya hitam. Aku dan kata-kata ku.

Siapa yang membaca kata-kata itu? Mendengar aku bicara? Merasa setiap kata yang melayang yang terbang yang singgah di telinga, hanyut ke otak, dan akhirnya menepi pada hati? Mungkin bukan engkau, bukan kamu, bukan anda. Hanya aku. Dan juga kata-kataku.

Sial! Ketidakmampuanku menulis sebaris kalimat malam ini membuat aku ingin memaki. Karena makian itu pun berisi kata-kata. Cukup untuk bisa membuat aku lebih merasa menjadi manusia. Bisa menenangkan aku dan membuat aku berpikir sebagai manusia. Aku menjadi manusia ketika berkata. Dan aku ingin memanusiakan kata-kataku. Bukan makian. Bukan sebuah sumpah serapah yang aku luncurkan begitu saja dari bibir yang kotor karena amarah. Aku ingin bersajak, bersyair, berlirik.

Dan malam ini aku tidak mampu. Huruf yang menempel pada kata-kataku tidak mau menyatu dengan hati yang memerintah otakku untuk menggerakkan tanganku dan jemariku. Huruf-huruf itu berantakan. Berpencar masing-masing di satu dan lain tempat dalam ruang yang luas. Mereka tidak mau berkumpul dan merekat. Malam ini aku susah menjadi manusia. Semua karena kata-kata. Kata-kataku.

--
In the middle of loneliness
3 January 2010

Friday, January 15, 2010

Kata-Kata yang Berantakan

Puisi yang ingin kutulis lebih dari kata-kata. Cinta yang aku punya melampaui batas nyata. Dunia hanya sebatas lingkaran. Dan kau menjadi titik pusatnya. Melangkahlah, mengangguni jalan dan tepi. Lalu jangan lupa kembali.

Tidakkah kau lihat? Atau pernahkah kau melirik? Mungkin kau hanya lupa memiliki masa itu. Ada aku. Di situ pernah ada aku. Raga yang kau pilih untuk mendampingimu. Aku tersadarkan. Kita berdua terpulihkan. Keruh, keruh jiwa yang nelangsa. Kau dan aku memutihkan dusta, dari dosa jadi nirvana. Hanya kita yang bisa.

Melupakan bukanlah keahlianku. Aku selalu menggali dan menggali lagi. Ingin kamu. Begitu dan begini saja. Masing-masing dari kita bercerita. Kau dan pusatmu. aku dan lingkaranku. Jadi pulanglah. Peluk aku seerat yang kau bisa. Sentuh dan rasakan semua.

Menginginkanmu. Kebodohanku.

Mengharapkanmu. Keputusasaanku.

--
in the middle of tears
Tj. Duren, 15 Januari 2010

Monday, January 11, 2010

Kalian dan Dosaku Sendiri

Geram
Lalu geram lah hatiku
Meraung membahana isi kepala
Kalian berteriak seperti aku tak punya telinga
Biasa sajalah!
Aku ini manusia

Sayup
Lalu sayuplah jiwaku
Mau saja aku mengikat batin
Biar kalian yang pegang temalinya
Sudahi sajalah!
Aku ini wanita

Semua juga berdosa
Dusta kalau kau bilang kamu suci
Bah!

Aku juga tahu
Aku sadar diri
Mana ada yang bilang tahi itu wangi?
Semua sudah terlanjur
Cuma kami berdua yang mengerti
Mau bagaimana lagi?

Doakan saja aku pergi ke neraka
Timbang kekuatanku
Kalian bisa bersorak-sorai semaunya
Silahkan berpesta
Aku sudah tidak peduli
Aku lelah

Dan aku tak akan kembali

--
02.54 - 11 Januari 2010,
in the middle of myself

Friday, January 8, 2010

Siapa yang Terluka

Lalu siapa?
Siapa yang membongkar luka?
Bukan aku
Kamu juga tidak tahu

Lalu siapa?
Apakah ini cuma alam liar pikiran kita?
Kamu tak bisa
Aku juga tidak biasa

Lalu siapa?
Siapa yang mengacungkan jarinya?
Aku diam
Kamu tak mau diam

Siapa yang bertanya?
Jawaban ini milik siapa?
Luka itu seperti apa?
Siapa yang terluka?

--
in the middle of no where
Jakarta, 8 Januari 2010

Tuesday, November 3, 2009

Sebuah Perpisahan

Berikut ini adalah bukan karya asli diriku. Sebenernya ini adalah hasil tulisan temen, sahabatku yg jauh...walopun deket sebenernya... Katanya sih ini buat dijadiin lagu. Semoga berhasil dengan lagunya...hehehe...Maaf ya, gak biasanya nulis dari gubahan dari hasil tulisan orang. mudah2an maksud tulisan yg udah aku baca, sesuai dengan hasil tulisan yg kali ini. Tidak mau menghilangkan maksud asli dan tujuan dari orang yg nulis... Skeeter, thanks for being a very nice friend!



Kebersamaan adalah mimpi
Perpisahan berarti luka mendalam
Mimpi yang tak selesai,
Menyakitkan
Mendera dalam asa
Kehilanganmu masih bisa kuterima
Lalu cinta akan berakhir dengan perasaan hampa

Aku ingin menjadi lirik lagu
Selamanya dapat berputar memelukmu
Kuingin kau terlelap dalam tidur
Dalam hangat pelukanku

Kau bilang ingin melepaskan
Kenangan ini dengan sendirinya juga akan menghilang
Sampai nanti kata pisah kemudian terlontar
Kasih antara kita tidak mati, hanya memudar

Air matamu menari bersama hujan
Kau bilang, jangan lagi ucapkan cinta
Aku sulit menerima
Berbohong pun aku tak bisa
Ketika aku berhenti, apakah artinya aku menyerah?

Lalu kini aku hanya bisa berkata
Raga pun menghilang bersama angan
Cinta kita sudah terbagi menjadi dua
Biarlah hilang, semua kenangan


Lirik Asli:

Kebersamaan adalah mimpi, berpisah adalah luka
Apalagi, mimpi yang tidak terselesaikan pasti lebih menyakitkan
Konsekuensi dari kehilangan, bisa di terima
Jalan keluar terkahir hanyalah tetap ada setelah cinta berakhir dengan perasaan hampa

Dapatkah saya seperti sebuah lirik lagu
Berputar drastis yang memelukmu kedalam keabadian
Terlelap tidur di atas pelukan ku

Jika memang keputusanmu untuk melupakan, kenangan dalam diri ini juga akan menghilang dengan sendirinya, untuk mendengar cerita ini sampai selesai sebelum kata selamat berpisah di lontarkan.

Air mata yg kau berikan menghilang dalam sekumpulan derasnya hujan
Ketika kau berkata “tidak seharusnya kau mengatakan aku cinta padamu saat ini”
Bagaimana aku bisa menerima, untuk berbohong saja aku tidak mempunyai kekuatan
Tolong beritahu aku apakah berhenti Dihitung sebagai arti Menyerah..?

aku hanya bs berkata
ada sebuah kenangan sehari untuk raga yang sudah Hilang.

Paruh Waktu Menghilang

Paruh waktu menghilang, menghadap senja yang turun dari balik bukit bebatuan. Aku kembali menabuh kesakitanku mengingatmu. Mencari sisa-sisa kekeruhan suasana yang kita bangun dari sebuah rasa percaya, dari balik ketidakpercayaan kita akan dunia. Kita pernah menantang mereka, mengajak mereka berdiskusi. Kita pernah merentangkan tangan, berlari sekuat tenaga. Tapi pada akhirnya kita kalah.

Ingatkah kamu akan sebuah nama? Sebuah nama yang pada akhirnya hanya kau panjatkan sebaris doa. Mungkin tidak lagi saat ini. Kamu sudah resmi pergi. Sejak saat aku membaca tulisan yang kau kirim, hampir setahun yang lalu. Kamu berbalik dan mengakui kesalahanmu. Mungkin lebih mudah bagimu.

Aku melambai pada kenangan. Kukuras dengan segala cara supaya bisa mengeringkan hatiku yang basah karena air mata. Rindu yang terlukis, tidak berbentuk lagi. Aku hanya ingin menggenggam sebelah tanganmu. Sederhana. Tapi apa yang bisa aku lakukan kini? Mendengar lagu yang kau rekam pun aku tak berani.

Kalau saja saat itu aku tidak melepasmu pergi. Andai saja saat itu aku lebih mengerti. Sandiwara ini akan menemui ujungnya begitu saja, sehingga tidak ada satupun pemeran yang tersisa. Kau dan aku mungkin telah banyak berdusta. Sakit. Kita salah, dan kita mengakhiri semua. Pada akhirnya.

Gulita menyergapku yang terisak. Bergelung dalam remang malam, aku menyuarakan kehampaan. Mencintaimu adalah sebuah keberhargaan yang selama ini aku simpan. Tak ada lagi yang kupunya, dulu habis untukmu saja. Seharusnya kubiarkan setengah hati sebagai cadangan untukku sendiri. Tapi aku tak pernah begitu peduli. Sampai kini. Sampai saat ini, aku menyesal setengah mati.

Terlanjur mencintaimu apa adanya, begitu polos tanpa daya. Aku terlambat menyadari semua keindahan pasti akan selesai dan terurai. Aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi. Kau seorang kekasih yang berpaling pergi, meninggalkan arena pertempuran kita dengan dunia. Kita berdua sudah kalah.

Deru nafas fajar, menghembuskan embun yang mengalir di sela dedaunan. Aku kembali menutup kenanganku dalam sebuah kotak biru. Pada tiap lembar yang tersimpan, kuselipkan sebuah permohonan. Jangan pernah aku berhenti mencintai.

Wednesday, October 14, 2009

Tak Bisa Berhenti

Aku tak bisa berhenti
Melukiskan matamu pada mimpi
Menggaungkan suaramu dalam hati

Aku tak bisa berhenti
Mengukir sajakmu yang berlalu pergi
Mendekap harummu buaian nurani

Aku tak bisa berhenti
Mengecup
Mengenang
Merasakan

Aku tak bisa berhenti
Mengatakan segenggam perasaan
Menyatakan untaian harapan

Aku tak bisa berhenti
Mencintaimu

Tuesday, August 18, 2009

masih seperti dulu

melangkah kaki
riang
tiada ragu aku padamu
walau letih dan lesu tungkaiku

dan sepanjang jalan membentang
jarak ini menjauhkan
tidak bersua sekian lama
kita masih bersahabat saja

ketika bimbang dan air mata tertuang
kuketikkan cerita
sebait kata seadanya
untuk kita bertegur sapa

engkau yang ada di sana
setahun hanya sempat sekali bertemu muka
tapi di ujung jalan ini
terdapat kasih tulus dari hati

kita masih seperti dulu
jarang bicara
tapi hati ini tahu
ke mana harus pergi ketika sendu

sahabatku yang jauh
engkau masih seperti pertama kita bertemu



(sebuah sajak untuk temanku... Ferry Huang a.k.a skeeter... Thanks ya udah jadi temennya hime^^. Ini janji tulisan, akhirnya aku buat juga. Walopun jelek,,,maaf yaaa...)

Wednesday, August 12, 2009

Bicara dan Mendengar

Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Aku berdoa
Aku berkata

Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Tuhan bersabda
Tuhan menjadikannya

Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Aku meminta
Tuhan kabulkan semua

Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Aku dan Tuhanku
Apakah kau tahu?

Kapan Dia akan bicara dan aku dengarkan?
Semua lalu tertutup demi sepasang telinga yang tuli
Aku bukan lagi mendengar lewat nurani
Dia tetap mau mengetuk pintu hati

Masih saja berdiam diri
Tuhan menepuk pundakku
Sekali lagi
Namun aku kelu bisu

Siapa yang bicara?
Siapa kemudian mendengar?
Aku dan Tuhanku
Siapa yang tahu?

Sunday, August 9, 2009

Arah Angin


Empat dimensi membelah bumi
Pergilah ia ke masing-masing jalannya
Tanpa ujung,lalu membumbung
Arah angin melesat..berkeliaran, ribut, resah

Kutanya pada utara
Ia menunjuk titik tak kasat mata
Kucari,lalu liar berdebar
Aq hilang lagi,tersasar

Timur tertawa
Aq tunduk,layu sendu
Berderak pacu jantung berirama
Ia ingin aq sesat jiwa

Selatan terkekeh
Desau batas kelam makin hitam
Masih ingin menoleh
Tapi lantas lunglai kaki terdiam

Tinggal barat sisa isyarat
Kehendak menggeliat
Meraih onggokan debu yang terjatuh
Tapi ia tetap bisu

Pada arah angin aq bicara.. Bibir mengatup,bagai mati raga. Aq tidak tau dmana dia. Hanya hati yang mampu rasa. Karena kami masih punya cinta. Dalam kebutaan mata angin,tersesat arah. Aq bisa menyalakan ia saat gulita. Bukan di ujung timur,selatan,barat ataupun utara. Ia adalah inti jiwa. Kutemukan dia di sana.

Lalu kukatakan lagi pada arah angin...kalian sudah kalah!

Wednesday, August 5, 2009

Ruang Jagal Jiwa

kuserahkan saja pada malam yg kian kelam
Aq meretas renung baru yg meniadakanku
Sesak..
Aq sulit brnapas..susah bicara..mendengar pun lalu tak bisa..
Lari ke mana lagi?
Empat sisi dinding kamar bercat putih ini beku..
Dia jua bisu..
Tak kudengar suara..atau kulihat tangan terulur
Padaku,hanya ada sendu.

Kurasakan bulan beranjak naik
tinggi..
Aq tau itu pasti
Dapat ku cicip waktu yg brdetak
getir......
Terimpit dlm relung ku sendiri
Rekaman nyata ganti brloncatan dalam hati..

Sudah diamlah!
Aq bukan ingin mati.
Kubiarkan kau masih brdenyut,hai nadi!
Kulepaskan kau bebas brkarya,hai jiwa!

Aq hanya ingin meresapi..embun yg perlahan menitiki tepi daun
menyentuh tanah hingga basah
Aq tidak tau harus bagaimana
Ruangan ini menyekatku dalam ketiadaan brtopeng kematian.

Aq ingin diluar sana..
Hanya ingin pergi dari ruang penjagalan jiwa ini
agar aq bisa merdeka!