Aku Bertahan
Rio Febrian
Sedih, ku tahu kini perasaanmu kepadaku
Sedih, saat kau tak yakin kepadaku akan cintaku
Jalan berliku takkan membuatku
Menyerah akan cinta kita
Tatap mataku dan kau akan tahu
Semuanya yang aku rasakan
* Reff:
Aku bertahan karena kuyakin cintaku kepadamu
Sesering kau coba tuk mematikan hatiku
Tak kan terjadi, yang aku tahu
Kau hanya untukku
Aku bertahan, ku akan tetap pada pendirianku
Sekeras kau coba tuk membunuh cintaku
Yang aku tahu, kau hanya untukku
Tatap mataku dan kau akan tahu
Semuanya yang aku rasakan
Back to *Reff
Aku bertahan, ku akan tetap pada pendirianku
Sekeras kau coba tuk membunuh cintaku
Yang aku tahu, kau hanya untukku
Wednesday, February 4, 2009
Taubat...
A great song by OPICK... Bikin nangis tersedu2, karena daku memang sering merindukan Allah ku...
TAUBAT
OPICK
Wahai Tuhan, jauh sudah lelah kaki melangkah
Aku hilang tanpa arah, rindu hati sinar-Mu
Wahai Tuhan, aku lemah hina berlumur noda
Hapuskanlah terangilah jiwa di hitam jalanku
Ampunkanlah aku, terimalah taubatku
Sesungguhnya Engkau Sang maha pengampun dosa
Ya Rabbi, izinkanlah aku kembali pada-Mu
Meski mungkin tak kan sempurna aku sebagai hamba-Mu
Ampunkanlah aku, terimalah taubatku
Sesungguhnya Engkau Sang maha pengampun dosa
Berikanlah aku kesempatan waktu
Aku ingin kembali… Kembali…
Dan meski tak layak sujud padaMu
Dan sungguh tak layak aku…
Ampunkanlah aku, terimalah taubatku
Sesungguhnya Engkau Sang maha pengampun dosa
Berikanlah aku kesempatan waktu
Aku ingin kembali… Kembali kepada-Mu…
Ampunkanlah aku, terimalah taubatku
Aku ingin kembali… Kembali kepada-Mu…
Ampunkanlah aku
TAUBAT
OPICK
Wahai Tuhan, jauh sudah lelah kaki melangkah
Aku hilang tanpa arah, rindu hati sinar-Mu
Wahai Tuhan, aku lemah hina berlumur noda
Hapuskanlah terangilah jiwa di hitam jalanku
Ampunkanlah aku, terimalah taubatku
Sesungguhnya Engkau Sang maha pengampun dosa
Ya Rabbi, izinkanlah aku kembali pada-Mu
Meski mungkin tak kan sempurna aku sebagai hamba-Mu
Ampunkanlah aku, terimalah taubatku
Sesungguhnya Engkau Sang maha pengampun dosa
Berikanlah aku kesempatan waktu
Aku ingin kembali… Kembali…
Dan meski tak layak sujud padaMu
Dan sungguh tak layak aku…
Ampunkanlah aku, terimalah taubatku
Sesungguhnya Engkau Sang maha pengampun dosa
Berikanlah aku kesempatan waktu
Aku ingin kembali… Kembali kepada-Mu…
Ampunkanlah aku, terimalah taubatku
Aku ingin kembali… Kembali kepada-Mu…
Ampunkanlah aku
Tuesday, February 3, 2009
hari ini biru...
mendung pagi ini tidak juga menyingkir sampai batas waktu mentari menarik diri. Dia yang sudah lelah, mengalah pada senja, merangkak turun ke peraduan. Hari ini biru, cenderung kelabu... aku pasrah pada realita kesendirian.
Langkah kaki yang pernah menjaga jiwa, berlari tak tentu arah. Dia hilang, mengerang dan mengadu, pada nasib yang kian pilu. Mungkin kehadirannya menyebabkan langit kelabu menjadi merah merona. Tapi saat ini, cukup setitik cahaya lentera yang aku perlu. Aku tidak butuh kamu.
Kematian sosokmu melepaskan perih yang makin menjadi-jadi. Tapi apalah daya ketika engkau jauh. Perpisahan ini adalah harga mati, bagi kamu dan juga bagi aku. Kita cuma sepasang manusia yang sekarang terpisah jarak dan waktu. Entah untuk berapa jauh dan sampai berapa lama...
Aku tidak lagi meratapi kamu. Aku hanya terpaku melihat hari ini begitu biru. Hujan dan awan seolah mengejek aku dan berkata, aku selalu kalah pada akhirnya. Tapi aku tetaplah aku... Dan hari ini, sampai sore menjelang, sama saja. Hari ini biru...
Langkah kaki yang pernah menjaga jiwa, berlari tak tentu arah. Dia hilang, mengerang dan mengadu, pada nasib yang kian pilu. Mungkin kehadirannya menyebabkan langit kelabu menjadi merah merona. Tapi saat ini, cukup setitik cahaya lentera yang aku perlu. Aku tidak butuh kamu.
Kematian sosokmu melepaskan perih yang makin menjadi-jadi. Tapi apalah daya ketika engkau jauh. Perpisahan ini adalah harga mati, bagi kamu dan juga bagi aku. Kita cuma sepasang manusia yang sekarang terpisah jarak dan waktu. Entah untuk berapa jauh dan sampai berapa lama...
Aku tidak lagi meratapi kamu. Aku hanya terpaku melihat hari ini begitu biru. Hujan dan awan seolah mengejek aku dan berkata, aku selalu kalah pada akhirnya. Tapi aku tetaplah aku... Dan hari ini, sampai sore menjelang, sama saja. Hari ini biru...
Sunday, February 1, 2009
Lucu Bener...
Ini adalah cerita masalah bahasa daerah yang sering banget muncul tiba-tiba dan mengagetkan semua orang. Kalo kata daku, ini lucu dan aneh banget, apalagi kalo anda yang membaca adalah orang Palembang ato ngerti bahasa daerah itu.
Kejadiannya berawal ketika dua temen SMA ku waktu di Palembang mengunjungi bandung untuk maen di sini. Kita lalu pergi shopping2 di mal gitu, salah satunya adalah PVJ yang di dalemnya ada SOGO. Ternyata salah satu sepatu merek ternama (namanya dirahasiakan) sedang sale ampe 70%. Gimana gak ngiler tuh nyoba2in sepatu lucu mumpung gi murah. Nah, salah satu temen daku ternyata tertarik dengan sepatu putih, high heels, cantik banget lah pokoknya. Percakapan yang terjadi seperti berikut:
Temen daku (A) : “Mbak… bisa minta yang ukuran 35 gak?”
Mbak SPG : “Ada mbak, tapi coba dulu ada yang 36”
Temen daku (A): mulai nyobain yang 36 tapi merasa kurang pas.
Mbak SPG : dateng membawakan ukuran 35
Temen daku (A) : nyobain sepatu ukuran 35
Temen daku (B) : “Bagus tuh… Keren banget”
Temen daku (A) :”Mbak, minta yang baru dong. Yang ini ada sedikit nodanya.”
Mbak SPG : “Aduh, gak ada lagi mbak. Tinggal yang ini ukuran 35”
Temen daku (A) : Nyobain lagi ukuran 36, karena lebih bersih
Daku : “Kayaknya yang ini kelobokan deh. “
Temen daku (A) : “Iya ya? Kayaknya emang kelobokan deh”
Mbak SPG : muka bingung, gak ngerti kata ‘lobok’, tapi manggut2 aja
Temen daku (B) : “Wakakakakakak…” Ketawa ngakak2 karena merasa percakapan barusan sangat aneh
Menangkap maksudnya??? Jadi kita sok asyik gitu gunain bahasa Indonesia, tapi tetep aja nyelipin kata “lobok” yang artinya gede. Jadi kelobokan itu adalah kegedean. Sebenernya itu biasa aja kalo di Palembang sono, tapi tetep aja lucu kalo kita gak sadar sekeliling kita gak ada yang ngerti artinya. Lucu banget deh ngeliat muka mbak yang tersipu2 gitu sekaligus aneh kali ya? Tapi kata ‘lobok’ gak bisa menunjukkan benda yang besar. Gak ada tuh orang yang nyebut “eh, tuh pohon lobok banget ya?” karena memang khusus buat sesuatu yang gak pas ukurannya misalnya baju, sepatu ato celana. Kocak bener deh…
Ada lagi niii… cerita dari temen aku si B. Adiknya kebetulan mampir ke daerah depok (UI) maen ke kostnya gitu. Percakapan yang terjadi saat dia berniat membeli jus adalah seperti ini ni…
Adik : “Mas beli jus mangga dong”
Mas :”Ini ni… Harganya empat ribu”
Adik : memberikan uang pecahan lima ribuan
Mas : menerima uang si adik itu lalu kembali ke depot jusnya
Adik : menghampiri si mas lalu bilang,”Mas ‘sosok’nya mana ya?”
Mas : “Apa?”
Adik : “Sosok” (dengan wajah polos)
Mas : “Apa”
Adik : “Sosok mas” (masih dengan wajah polos)
Mas : “Apa”
Adik : sedikit bingung dan bertanya-tanya… Tapi tetep aja bilang, “sosok”
Mas : “HAH?”
Adik : Baru menyadari kebodohannya, akhirnya bilang juga bahasa bumi… Katanya, “Kembaliannya mas…”
Kocak bener deh niiii… Sumpah, daku masih ketawa2 sampe sekarang kalo inget cerita ini. Aku mpe pipis di celana saking ketawanya gak nahan abis. Emang kadang-kadang kita masih suka ngebawa bahasa daerah itu, yang kita anggap semua orang bakal ngerti dengan bahasa planet kita sendiri. Wah, bagi para pengelana yang sedang berada di negeri orang, mohon jangan ulangi kedohan serupa ya. Tolong disaring lagi kata-kata yang mau dipake untuk ngobrol ato ngomong dengan orang daerah setempat. Jangan sempet deh diketawain ato dibodoh2in… Hahahahaha… Selamat berjuang!!!
Kejadiannya berawal ketika dua temen SMA ku waktu di Palembang mengunjungi bandung untuk maen di sini. Kita lalu pergi shopping2 di mal gitu, salah satunya adalah PVJ yang di dalemnya ada SOGO. Ternyata salah satu sepatu merek ternama (namanya dirahasiakan) sedang sale ampe 70%. Gimana gak ngiler tuh nyoba2in sepatu lucu mumpung gi murah. Nah, salah satu temen daku ternyata tertarik dengan sepatu putih, high heels, cantik banget lah pokoknya. Percakapan yang terjadi seperti berikut:
Temen daku (A) : “Mbak… bisa minta yang ukuran 35 gak?”
Mbak SPG : “Ada mbak, tapi coba dulu ada yang 36”
Temen daku (A): mulai nyobain yang 36 tapi merasa kurang pas.
Mbak SPG : dateng membawakan ukuran 35
Temen daku (A) : nyobain sepatu ukuran 35
Temen daku (B) : “Bagus tuh… Keren banget”
Temen daku (A) :”Mbak, minta yang baru dong. Yang ini ada sedikit nodanya.”
Mbak SPG : “Aduh, gak ada lagi mbak. Tinggal yang ini ukuran 35”
Temen daku (A) : Nyobain lagi ukuran 36, karena lebih bersih
Daku : “Kayaknya yang ini kelobokan deh. “
Temen daku (A) : “Iya ya? Kayaknya emang kelobokan deh”
Mbak SPG : muka bingung, gak ngerti kata ‘lobok’, tapi manggut2 aja
Temen daku (B) : “Wakakakakakak…” Ketawa ngakak2 karena merasa percakapan barusan sangat aneh
Menangkap maksudnya??? Jadi kita sok asyik gitu gunain bahasa Indonesia, tapi tetep aja nyelipin kata “lobok” yang artinya gede. Jadi kelobokan itu adalah kegedean. Sebenernya itu biasa aja kalo di Palembang sono, tapi tetep aja lucu kalo kita gak sadar sekeliling kita gak ada yang ngerti artinya. Lucu banget deh ngeliat muka mbak yang tersipu2 gitu sekaligus aneh kali ya? Tapi kata ‘lobok’ gak bisa menunjukkan benda yang besar. Gak ada tuh orang yang nyebut “eh, tuh pohon lobok banget ya?” karena memang khusus buat sesuatu yang gak pas ukurannya misalnya baju, sepatu ato celana. Kocak bener deh…
Ada lagi niii… cerita dari temen aku si B. Adiknya kebetulan mampir ke daerah depok (UI) maen ke kostnya gitu. Percakapan yang terjadi saat dia berniat membeli jus adalah seperti ini ni…
Adik : “Mas beli jus mangga dong”
Mas :”Ini ni… Harganya empat ribu”
Adik : memberikan uang pecahan lima ribuan
Mas : menerima uang si adik itu lalu kembali ke depot jusnya
Adik : menghampiri si mas lalu bilang,”Mas ‘sosok’nya mana ya?”
Mas : “Apa?”
Adik : “Sosok” (dengan wajah polos)
Mas : “Apa”
Adik : “Sosok mas” (masih dengan wajah polos)
Mas : “Apa”
Adik : sedikit bingung dan bertanya-tanya… Tapi tetep aja bilang, “sosok”
Mas : “HAH?”
Adik : Baru menyadari kebodohannya, akhirnya bilang juga bahasa bumi… Katanya, “Kembaliannya mas…”
Kocak bener deh niiii… Sumpah, daku masih ketawa2 sampe sekarang kalo inget cerita ini. Aku mpe pipis di celana saking ketawanya gak nahan abis. Emang kadang-kadang kita masih suka ngebawa bahasa daerah itu, yang kita anggap semua orang bakal ngerti dengan bahasa planet kita sendiri. Wah, bagi para pengelana yang sedang berada di negeri orang, mohon jangan ulangi kedohan serupa ya. Tolong disaring lagi kata-kata yang mau dipake untuk ngobrol ato ngomong dengan orang daerah setempat. Jangan sempet deh diketawain ato dibodoh2in… Hahahahaha… Selamat berjuang!!!
Masa Kecil... PERMAINAN TRADISIONAL SERUUU BANGET!!!
Inget masa kecil, pasti gak lepas dari yang namanya permainan tradisional. Walaupun disebut dalam berbagai istilah, tapi daku yakin kalo hampir semua orang yang lahirnya sekitar tahun 70 dan 80-an merasakan permainan yang jauh lebih asyik daripada sekedar duduk di depan komputer bermain game online ato PSP yang gak banyak membutuhkan kucuran keringat dan energy yang lebih.
Mudah-mudahan kalian semua bisa kembali mengenang masa lalu dan di hari libur nanti, mengajak teman-teman seangkatan anda untuk berkumpul bermain bersama. Yang kita perlukan hanyalah lapangan yang cukup luas dan ketangkasan untuk bisa menang serta persaingan yang sehat. Pokoknya dijamin seru deh…
Game pertama adalah “CABUT”, yang dalam versi Indonesia lebih dikenal sebagai “GOBAK SODOR”. Kalo di kota kelahiran saya, Palembang, kita biasa menyebutnya cabut, sesuai kata pertama yang harus kita teriakan untuk menandakan permainan dimulai. Ada beberapa penjaga yang hanya boleh berjalan sesuai garis permainan. Satu orang menjaga di garis depan, sekaligus menjaga garis tengah yang melintang dari depan ke bagian belakang. Penjaga yang lain berjaga di garis-garis yang memanjang ke samping, tidak boleh pindah posisi. Para pemain berusaha berlari dari garis samping menuju paling belakang dan kembali ke garis awal tanpa bisa disentuh oleh penjaga. Kadang-kadang kecurangan seringkali terjadi, karena daku begitu diteriakin kenaaaaa, langsung mengelak dengan seribu alasan. Kalo baru mulai maen, pasti ada kesepakatan, kena baju dianggap “dak asi” alias “gak sah”. Keren kan?
Game kedua adalah “BENTENGAN”, yang versi Indonesianya daku gak tau. Pastinya kita akan membagi para pemain jadi dua kelompok, dan menentukan satu benteng yang harus kita jaga sampai titik darah penghabisan. Yang serunya, kalo kita mengatur strategi untuk mencari celah sampai ke benteng lawan. Kadang-kadang dengan bodohnya kita sampai mengambil jalan paling jauh dan paling tidak mungkin trus tiba-tiba sudah ada di belakang benteng lawan. Ato kalo salah satu dipaksa jadi umpan supaya lawan trpancing dan keluar dari bentengnya. Lalu kita serbuuuuu… nangkepin musuh satu-satu untuk jadi sandera. Proses pembebasan sandera juga sangat seru, hahaha. Ini bener-bener olahraga lahir batin lah pokoknya. Keren abizzz..
Favorit daku berikutnya adalah “OREK’AN” alias “KEJER2AN”. Nah, kalo yang ini memang sudah biasa. Tapi jangan salah, ternyata banyak banget versi permainan ini. Kalo yang biasa, untuk menghindar dari penjaga, kita lalu duduk sampai menunggu diselamatkan orang lain, maka ada juga yang lebih kreatif dengan mengganti ‘duduk’ menjadi ‘mematung’ atau ‘menyebutkan nama pahlawan atau nama binatang atau nama buah’. Coba bayangkan, untuk bisa bermain ini kita perlu lebih dari sekedar tenaga tapi juga konsentrasi tinggi. Lagi sibuk dikejer penjaga, kita masih harus mikir menyebut apa untuk bisa selamat dari kejeran. Terus belom lagi aksi heroic dari temen2 yang sok jagoan berusaha menyelamatkan yang sedang duduk ato jadi patung. Gak jarang justru merekalah yang menyesatkan kita ke lubang kekelaman. Karena begitu disentuh yang artinya boleh lari lagi, eh kita malah langsung dikenai oleh si penjaga. Yaaaah… Menyesal trus marah2 deh ke yang nyelametin.
Tau gak sama yang satu ini? Sebutannya di Palembang sih “CAK ENGKLENG”. Uhm… Diceritain aja ya. Kita bikin kotak2 di tanah, ada yang versi biasa, ada yang versi pesawat terbang. Trus kita ambil batu ato benda yang pipih untuk jadi alat main kita. Benda itu dilepar ke kotak, gak boleh kena garis. Trus kita lompat2 deh dari satu kotak ke kotak lain. Bentuknya yang paling awal dua kotak, terus satu kotak, terus dua kotak lagi, satu lagi, dan terakhir dua kotak. Kita harus sampe di kotak terakhir dan berbalik sambil mengambil batu yang dilempar itu untuk kita bawa keluar dari kotak awal. Bener gak sih penjelasanku? Nah, kita bisa terus lempar batu itu dari yang pertama sampe terakhir. Kalo ada batu milik orang lain di salah satu kotak, berarti kotak itu harus dilewatin tanpa diinjak. Aduh, ribet bener deh ini jelasin permainannya. Enaknya langsung dipraktekin sih… nanti ya, kita bikin turnamen permainan tradisional.
Sebenernya masih banyak lagi sih permainan seru abad lalu. Kalo di Palembang kita paling sering maen waktu jam-jam istirahat sekolah dan sore-sore ama tetangga. Misalnya, “BUAYA2AN”, “YEYE a.k.a KARET”, “TUNGKUPAN a.k.a “SUMPUTAN” – kalo kata temen daku seek and hide. Nah yg bener itu hide and seek ato seek and hide sih? Soalnya dia ngomongnya dengan berapi-api dan setengah teriak,hahaha. Nah, gimana ide liburan minggu ini? Mantab bener kan? Kita ajarin dong para generasi penerus bangsa untuk maen game-game yang asyik dan seru kayak kita dulu. Apalagi kalo sampe ada turnamen permainan tradisional itu. Keren…
Mudah-mudahan kalian semua bisa kembali mengenang masa lalu dan di hari libur nanti, mengajak teman-teman seangkatan anda untuk berkumpul bermain bersama. Yang kita perlukan hanyalah lapangan yang cukup luas dan ketangkasan untuk bisa menang serta persaingan yang sehat. Pokoknya dijamin seru deh…
Game pertama adalah “CABUT”, yang dalam versi Indonesia lebih dikenal sebagai “GOBAK SODOR”. Kalo di kota kelahiran saya, Palembang, kita biasa menyebutnya cabut, sesuai kata pertama yang harus kita teriakan untuk menandakan permainan dimulai. Ada beberapa penjaga yang hanya boleh berjalan sesuai garis permainan. Satu orang menjaga di garis depan, sekaligus menjaga garis tengah yang melintang dari depan ke bagian belakang. Penjaga yang lain berjaga di garis-garis yang memanjang ke samping, tidak boleh pindah posisi. Para pemain berusaha berlari dari garis samping menuju paling belakang dan kembali ke garis awal tanpa bisa disentuh oleh penjaga. Kadang-kadang kecurangan seringkali terjadi, karena daku begitu diteriakin kenaaaaa, langsung mengelak dengan seribu alasan. Kalo baru mulai maen, pasti ada kesepakatan, kena baju dianggap “dak asi” alias “gak sah”. Keren kan?
Game kedua adalah “BENTENGAN”, yang versi Indonesianya daku gak tau. Pastinya kita akan membagi para pemain jadi dua kelompok, dan menentukan satu benteng yang harus kita jaga sampai titik darah penghabisan. Yang serunya, kalo kita mengatur strategi untuk mencari celah sampai ke benteng lawan. Kadang-kadang dengan bodohnya kita sampai mengambil jalan paling jauh dan paling tidak mungkin trus tiba-tiba sudah ada di belakang benteng lawan. Ato kalo salah satu dipaksa jadi umpan supaya lawan trpancing dan keluar dari bentengnya. Lalu kita serbuuuuu… nangkepin musuh satu-satu untuk jadi sandera. Proses pembebasan sandera juga sangat seru, hahaha. Ini bener-bener olahraga lahir batin lah pokoknya. Keren abizzz..
Favorit daku berikutnya adalah “OREK’AN” alias “KEJER2AN”. Nah, kalo yang ini memang sudah biasa. Tapi jangan salah, ternyata banyak banget versi permainan ini. Kalo yang biasa, untuk menghindar dari penjaga, kita lalu duduk sampai menunggu diselamatkan orang lain, maka ada juga yang lebih kreatif dengan mengganti ‘duduk’ menjadi ‘mematung’ atau ‘menyebutkan nama pahlawan atau nama binatang atau nama buah’. Coba bayangkan, untuk bisa bermain ini kita perlu lebih dari sekedar tenaga tapi juga konsentrasi tinggi. Lagi sibuk dikejer penjaga, kita masih harus mikir menyebut apa untuk bisa selamat dari kejeran. Terus belom lagi aksi heroic dari temen2 yang sok jagoan berusaha menyelamatkan yang sedang duduk ato jadi patung. Gak jarang justru merekalah yang menyesatkan kita ke lubang kekelaman. Karena begitu disentuh yang artinya boleh lari lagi, eh kita malah langsung dikenai oleh si penjaga. Yaaaah… Menyesal trus marah2 deh ke yang nyelametin.
Tau gak sama yang satu ini? Sebutannya di Palembang sih “CAK ENGKLENG”. Uhm… Diceritain aja ya. Kita bikin kotak2 di tanah, ada yang versi biasa, ada yang versi pesawat terbang. Trus kita ambil batu ato benda yang pipih untuk jadi alat main kita. Benda itu dilepar ke kotak, gak boleh kena garis. Trus kita lompat2 deh dari satu kotak ke kotak lain. Bentuknya yang paling awal dua kotak, terus satu kotak, terus dua kotak lagi, satu lagi, dan terakhir dua kotak. Kita harus sampe di kotak terakhir dan berbalik sambil mengambil batu yang dilempar itu untuk kita bawa keluar dari kotak awal. Bener gak sih penjelasanku? Nah, kita bisa terus lempar batu itu dari yang pertama sampe terakhir. Kalo ada batu milik orang lain di salah satu kotak, berarti kotak itu harus dilewatin tanpa diinjak. Aduh, ribet bener deh ini jelasin permainannya. Enaknya langsung dipraktekin sih… nanti ya, kita bikin turnamen permainan tradisional.
Sebenernya masih banyak lagi sih permainan seru abad lalu. Kalo di Palembang kita paling sering maen waktu jam-jam istirahat sekolah dan sore-sore ama tetangga. Misalnya, “BUAYA2AN”, “YEYE a.k.a KARET”, “TUNGKUPAN a.k.a “SUMPUTAN” – kalo kata temen daku seek and hide. Nah yg bener itu hide and seek ato seek and hide sih? Soalnya dia ngomongnya dengan berapi-api dan setengah teriak,hahaha. Nah, gimana ide liburan minggu ini? Mantab bener kan? Kita ajarin dong para generasi penerus bangsa untuk maen game-game yang asyik dan seru kayak kita dulu. Apalagi kalo sampe ada turnamen permainan tradisional itu. Keren…
Thursday, January 29, 2009
saltum niiii...
yak, hari ini bagus banget deh. Pagi2 udah kebangun gara2 mimpi buruk... trus dengan cantiknya debu2 menumpuk di semua barang di kamar. Ternyata daku sudah sekian tahun gak beres2, mpe lupa kapan terakhir kali ngepel. hahaha... Kacau deh!
Akhirnya daku sok gak punya kerjaan, sok punya banyak waktu luang, mulai menyapu (2 kali), trus ngepel, trus nuci piring (satu piring jatoh ke lantai bawah,^0^), dan ngelap2 semua stuffs... Capekkkk banget deh.
Tadi pagi sampe menjelang siang sih keadaan langit ramai lancar, hehehe... Alias tidak ada tanda2 hujan bakal turun. Waktu mau keluar, daku memutuskan untuk pake baju yang sangat minim dan tipis ini yang warnanya ungu maniz plus celana hitam dan sepatu berhak yg oke berat. Ternyata di jalan dooong... Hujan turun lah saudara2!!! Kecele berat... Saltum banget nih.
FYI, daku sedang nongkrong di J.Co ciwalk. Sebelah saya, duduklah tiga orang yang memakai baju2 musim dingin gitu. di depan saya, ada orang2 kantoran yang pake setelan kerja. dan di ujung sebelah kiri, dua orang wanita memakai kaos berbalut jaket. tampaknya asyik sekali punya jaket yaaa untuk saat ini. Aaaaargh... Bodohnya daku!!!
Okey, aku cuma pengen bilang itu aja. Hari ini semua begitu membingungkan. aku kangen pada dirinya... Aku cape ah mikirin dia. Cukup lidya!!! hehehe... Maaf ya jadi ngaco...
Akhirnya daku sok gak punya kerjaan, sok punya banyak waktu luang, mulai menyapu (2 kali), trus ngepel, trus nuci piring (satu piring jatoh ke lantai bawah,^0^), dan ngelap2 semua stuffs... Capekkkk banget deh.
Tadi pagi sampe menjelang siang sih keadaan langit ramai lancar, hehehe... Alias tidak ada tanda2 hujan bakal turun. Waktu mau keluar, daku memutuskan untuk pake baju yang sangat minim dan tipis ini yang warnanya ungu maniz plus celana hitam dan sepatu berhak yg oke berat. Ternyata di jalan dooong... Hujan turun lah saudara2!!! Kecele berat... Saltum banget nih.
FYI, daku sedang nongkrong di J.Co ciwalk. Sebelah saya, duduklah tiga orang yang memakai baju2 musim dingin gitu. di depan saya, ada orang2 kantoran yang pake setelan kerja. dan di ujung sebelah kiri, dua orang wanita memakai kaos berbalut jaket. tampaknya asyik sekali punya jaket yaaa untuk saat ini. Aaaaargh... Bodohnya daku!!!
Okey, aku cuma pengen bilang itu aja. Hari ini semua begitu membingungkan. aku kangen pada dirinya... Aku cape ah mikirin dia. Cukup lidya!!! hehehe... Maaf ya jadi ngaco...
Subscribe to:
Posts (Atom)