Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Aku berdoa
Aku berkata
Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Tuhan bersabda
Tuhan menjadikannya
Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Aku meminta
Tuhan kabulkan semua
Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Aku dan Tuhanku
Apakah kau tahu?
Kapan Dia akan bicara dan aku dengarkan?
Semua lalu tertutup demi sepasang telinga yang tuli
Aku bukan lagi mendengar lewat nurani
Dia tetap mau mengetuk pintu hati
Masih saja berdiam diri
Tuhan menepuk pundakku
Sekali lagi
Namun aku kelu bisu
Siapa yang bicara?
Siapa kemudian mendengar?
Aku dan Tuhanku
Siapa yang tahu?
Wednesday, August 12, 2009
Tuesday, August 11, 2009
Jangan Berhenti Berharap
Ada kalanya kita merasa lelah dan menjadi sangat tidak berdaya. Ada kalanya pula kita menjalani hidup dengan setengah hati, setengah jiwa, setengah mati malahan. Ada kalanya kita mencuri-curi waktu untuk mengamati rencana yang tertunda, yang sudah tidak tercapai, atau yang terlupakan.
Seperti halnya pohon besar yang dulunya hanya tanaman kecil, tanpa batang dan akar yang kokoh sebagai pondasinya, kita juga pernah tidak memiliki daya yang kuat untuk menjadi sesuatu yang kita harapkan. Lalu perjalanan waktu, dibantu dengan cahaya, air dan komponen lain, maka tumbuh dan berkuasalah dia dalam hutan yang asing. Maka bersahabatlah dia dengan penghuni-penghuni kehidupan dan merindangi alam.
Proses mendewasakan kita. Entahlah quote yang diciptakan oleh siapa. Tetapi saya sangat menghargai kalimat sederhana tersebut. Proses membuat kita belajar. Belajar mencapai impian. Belajar menghadapi kegagalan. Belajar melihat kenyataan dan menerimanya sebagai suatu kemenangan diri. Tidak pernah kita berhenti, kita berlari di sepanjang pita waktu yang tertulis berbagai proses dan peristiwa di atasnya. Kita pun menorehkan warna-warna, entah yang kelabu, merah membara, kuning bersemangat, atau biru. Tak mungkin kembali pada pita yang tergulung rapi sebagai kitab hidup kita, sebuah jejak nyata bagi pribadi masing-masing.
Lalu tiba pula ganjalan-ganjalan kecil atau besar yang menghalangi langkah kita. Kita seakan-akan dibuat tidak berdaya karenanya. Si pita tersobek di bagian sana dan sini. Lalu kebingungan menyergap kita berkali-kali. Rasa bimbang membuat kita tergelincir, menoleh pada harapan yang kian menjauh. Padahal itu hanyalah sebuah batas. "Batas" itu mampu ditempuh, mampu kita jangkau bukan?
"Maka di manakah harapanku? Siapakah yang melihat adanya harapan bagiku?" (Ayub 17:15)
Harapan itu masih ada. Ada pada Dia, sang khalik pencipta langit dan bumi. Maka Ia memberi kita sebuah pengharapan baru, kepada para ciptaan-Nya jika kita menjadi setia dan berdoa memohon pada-Nya.
"Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan." (Amsal 13:12)
Siapa yang tidak ingin hidup yang menyenangkan? Siapa yang tidak ingin segala kebutuhannya tercukupi? Siapa yang tidak ingin keinginannya terkabulkan? Maka tidak kamu, tidak juga saya, yang tidak ingin demikian.
Hari ini, beberapa rekan saya bercerita tentang masalah hidup mereka. ada pula yang merasa menjadi manusia yang paling worst sedunia. saya sampai geleng-geleng kepala. Bukannya membohongi diri sendiri, saya berusaha jujur kepada semuanya. saya katakan pada mereka, bahwa tiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, kekecewaan, begitu pula saya. Saya juga tidak luput dari kesalahan dan sempat mengalami masa-masa sulit sepanjang hidup saya yang sudah menumpang hidup 23 tahun di dunia. Saya ceritakan lagi, mengingat lagi masa lalu yang kelam, membuka lagi berbagai lubang hitam di hati yang selama ini sudah saya simpan. Tidak mengapa, karena saya ingin menyampaikan pengharapan pada mereka. Saya ingin menyampaikan bahwa segalanya pasti akan berlalu juga. Dan pada saat itu, nanti, kita akan tersenyum-senyum sendiri menyaksikan kembali betapa bodohnya kita yang saat ini menyesali diri. Kita seperti menggali dan menguburkan diri sendiri. Ini adalah ruang yang kita buat, lalu kita tutup supaya kita tidak bisa merdeka.
Kepada engkau para sahabat jiwa, aku sampaikan... Segala pengharapanmu itu tidaklah cukup berhenti sampai di sini. Engkau masih boleh berharap, masih boleh bermimpi. Harapan itu tidak hilang, mungkin engkau lah yang menyembunyikan, atau lupa di mana kau simpan. Harapan itu tetap ada, teman. Biarlah Tuhan memberikan jalan. Maka kepada kalian semua aku katakan...
Jangan berhenti berharap...
Seperti halnya pohon besar yang dulunya hanya tanaman kecil, tanpa batang dan akar yang kokoh sebagai pondasinya, kita juga pernah tidak memiliki daya yang kuat untuk menjadi sesuatu yang kita harapkan. Lalu perjalanan waktu, dibantu dengan cahaya, air dan komponen lain, maka tumbuh dan berkuasalah dia dalam hutan yang asing. Maka bersahabatlah dia dengan penghuni-penghuni kehidupan dan merindangi alam.
Proses mendewasakan kita. Entahlah quote yang diciptakan oleh siapa. Tetapi saya sangat menghargai kalimat sederhana tersebut. Proses membuat kita belajar. Belajar mencapai impian. Belajar menghadapi kegagalan. Belajar melihat kenyataan dan menerimanya sebagai suatu kemenangan diri. Tidak pernah kita berhenti, kita berlari di sepanjang pita waktu yang tertulis berbagai proses dan peristiwa di atasnya. Kita pun menorehkan warna-warna, entah yang kelabu, merah membara, kuning bersemangat, atau biru. Tak mungkin kembali pada pita yang tergulung rapi sebagai kitab hidup kita, sebuah jejak nyata bagi pribadi masing-masing.
Lalu tiba pula ganjalan-ganjalan kecil atau besar yang menghalangi langkah kita. Kita seakan-akan dibuat tidak berdaya karenanya. Si pita tersobek di bagian sana dan sini. Lalu kebingungan menyergap kita berkali-kali. Rasa bimbang membuat kita tergelincir, menoleh pada harapan yang kian menjauh. Padahal itu hanyalah sebuah batas. "Batas" itu mampu ditempuh, mampu kita jangkau bukan?
Harapan itu masih ada. Ada pada Dia, sang khalik pencipta langit dan bumi. Maka Ia memberi kita sebuah pengharapan baru, kepada para ciptaan-Nya jika kita menjadi setia dan berdoa memohon pada-Nya.
"Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan." (Amsal 13:12)
Siapa yang tidak ingin hidup yang menyenangkan? Siapa yang tidak ingin segala kebutuhannya tercukupi? Siapa yang tidak ingin keinginannya terkabulkan? Maka tidak kamu, tidak juga saya, yang tidak ingin demikian.
Hari ini, beberapa rekan saya bercerita tentang masalah hidup mereka. ada pula yang merasa menjadi manusia yang paling worst sedunia. saya sampai geleng-geleng kepala. Bukannya membohongi diri sendiri, saya berusaha jujur kepada semuanya. saya katakan pada mereka, bahwa tiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, kekecewaan, begitu pula saya. Saya juga tidak luput dari kesalahan dan sempat mengalami masa-masa sulit sepanjang hidup saya yang sudah menumpang hidup 23 tahun di dunia. Saya ceritakan lagi, mengingat lagi masa lalu yang kelam, membuka lagi berbagai lubang hitam di hati yang selama ini sudah saya simpan. Tidak mengapa, karena saya ingin menyampaikan pengharapan pada mereka. Saya ingin menyampaikan bahwa segalanya pasti akan berlalu juga. Dan pada saat itu, nanti, kita akan tersenyum-senyum sendiri menyaksikan kembali betapa bodohnya kita yang saat ini menyesali diri. Kita seperti menggali dan menguburkan diri sendiri. Ini adalah ruang yang kita buat, lalu kita tutup supaya kita tidak bisa merdeka.
Kepada engkau para sahabat jiwa, aku sampaikan... Segala pengharapanmu itu tidaklah cukup berhenti sampai di sini. Engkau masih boleh berharap, masih boleh bermimpi. Harapan itu tidak hilang, mungkin engkau lah yang menyembunyikan, atau lupa di mana kau simpan. Harapan itu tetap ada, teman. Biarlah Tuhan memberikan jalan. Maka kepada kalian semua aku katakan...
Jangan berhenti berharap...
Monday, August 10, 2009
Menghargai apa yang patut dihargai
Beberapa waktu yang lalu saya sempat melihat uang di jalan yang tergeletak begitu saja. Memang jumlahnya hanya seribu rupiah, tapi ternyata selama beberapa langkah ke depan, tidak ada yang mau memungut (mengambil, red) selembar kertas berwarna biru tersebut. Lalu di benak saya, menari-narilah bayangan dua batang wafer coklat (merk tidak dapat disebutkan) yang harga satuannya hanya 'gopek'.
Lantas apa yang terjadi ketika seorang tua renta, nenek yang menggendong bungkusan di punggungnya melewati jalan itu? Si nenek lalu tersenyum dengan sangat bahagia. Dia tidak menggunakan sandalnya, yang hanya di'tenteng' dengan tangan kanannya. Entah untuk alasan apa. Mungkin karena tidak mau sepasang sandal yang ia miliki menjadi cepat rusak, maka dia rela berpanas-panas kaki di sepanjang jalan Jatinangor. Si nenek dengan cepat, tanpa menurunkan bungkusan yang digendongnya, lalu mengambil dan menyimpan selembar uang seribuan tersebut.
Hati saya meringis. Ada sekilas berita numpang lewat di otak saya, berita tentang kemiskinan yang sudah bertahun-tahun melanda negara ini, berita tentang rakyat yang masih banyak hidup di bawah taraf hidup yang layak, berita tentang pengemis dan gelandangan yang kemudian ditangkapi lalu dibawa pergi jauh-jauh dari kota supaya tidak merusak keindahan kota besar, macam Jakarta.
Apa yang bisa saya lakukan kemudian? Tidaklah mungkin rasanya jika saya lalu membiayai hidup ratusan ribu jiwa yang menderita kelaparan atau mereka mahluk-mahluk kecil, generasi penerus bangsa yang tidak berdosa itu saya sekolahkan. Sempat ingin rasanya saya lalu berteriak pada dunia, "berilah kami hidup yang nyaman, masing-masing jiwa yang bersemayam di dunia ini". Tapi dunia pun tidak sanggup menjawab pertanyaan saya. Saya yakin, dunia hanya bisa diam.
Rasa malu beranjak memasuki hati nurani. Terlalu licik bila saya hanya menginginkan dua batang wafer coklat, sementara si nenek renta pengemis itu mungkin bisa makan satu kali, membeli beras untuk keluarganya. Menunduklah saya, terdiam dalam sebaris doa yang saya sampaikan pada Ilahi. Mudah-mudahan doa saya didengar dan kemudian Tuhan Yang Maha Agung mau mengabulkan.
Malam ini juga, saya merasa disentil oleh kejadian yang serupa. Pernahkah Anda merasakan jerih payah Anda ternyata tidak dihargai dengan sepatutnya? Pernahkah Anda melakukan sesuatu untuk tujuan yang penting bagi jiwa Anda, namun orang lain hanya mencibir akibat setitik kesalahan yang sulit dihindari? Daripada berpusing-pusing ria, mungkin lebih baik Anda mendengarkan dulu cerita saya dari awalnya.
Pagi ini, saya bangun dalam keadaan rumah kontrakan yang sepi, tanpa satu orang pun. Saya pergi mandi, lalu memasak Indomie untuk menu makan siang saya. Dengan tujuan yang baik, saya ingin belanja kebutuhan supaya saya bisa memasak makan malam untuk rekan-rekan satu kontrakan yang sedang sibuk menjaring mahasiswa baru. Bodohnya saya, saya tidak melihat bahwa anak kunci pintu depan (yang saat itu sedang terkunci), ternyata tergeletak begitu saja di atas meja. Inisiatif tinggi, saya keluar membawa dompet (saja) dan Hp gsm, keluar lewat pintu dapur, mengunci pintunya, lalu pergi ke warung sebelah. Ternyata eh ternyata di sana tidak ada sayur yang menarik untuk dibeli. Pulanglah saya. Sekali lagi, dari pintu dapur. Ternyata eh ternyata (lagi), si kunci tidak bisa dibuka. Siang hari ini sangat terik. Dalam kebingungan, saya lalu pergi saja ke supermarket untuk belanja di sana daripada menunggu yang lain pulang di halaman yang super panas.
Di tengah jalan, saya teringat pada mama yang sekarang sedang dalam pengobatan untuk penyakit batu ginjalnya. Saya kangen sekali. rindu rasanya mendengar suara mama. Ada pula keinginan saya untuk pulang ke rumah, merasakan lagi nikmatnya dilayani di rumah sendiri, menyantap masakan mama yang lezat luar biasa. Lalu saya menelepon mama dan berbincang-bincang sebentar, menanyakan kabar. Hampir menangis, saya menanyakan mama cara memasak sop jagung kesukaan saya. Beliau menjelaskan satu persatu bahan yang harus dibeli plus cara mengolahnya. Sambil mendengarkan suara mama yang terdengar lemah, saya mengambil satu demi satu bahan dari beberapa keranjang yang disediakan di supermarket. Rasanya ingin saya peluk mama saat itu.
Alhasil, saya mendapatkan beberapa bahan, kecuali satu. Telur puyuh! Cerita punya cerita...saya ikut bertemu teman-teman untuk makan siang dulu di dekat gerbang. Lalu barulah saya melanjutkan mencari telur-telur puyuh keramat itu demi menyempurnakan masakan saya. Saya pergi ke supermarket lain membeli telur, plus parutan, en saringan keran (karena ingat air di kontrakan sangat keruh kalau tidak disaring).
Pulang dan sampai ke rumah, saya mulai meracik bahan dan mempersiapkan segala sesuatu. Mencuci, memotong, merebus, mengupas, dan memarut (jagung sebagian diparut, sebagian lagi dipereteli). Di potongan jagung terakhir yang hendak saya parut, si jagung terselip dari tangan. Pada akhirnya jari tengah ini 'terparut' dengan suksesnya. Tapi dengan tegar dan pantang menyerah (lebay mode: ON), saya tetap melanjutkan pekerjaan penting ini. Demi membuat sop jagung kesukaan saya, resep langsung dari mama, karena kerinduan hati saya dan sop ini nanti akan kupersembahkan bagi beliau yang jauh di sana.
Brak..bruk..brak..bruk..setelah dibantu tiga rekan lainnya yang baru bangun tidur, dalam waktu dua jam selesainya semua masakan kami. Nasi putih, dengan telor dadar, plus tempe oseng sambel, dan SOP JAGUNG dambaan saya. Puas rasanya melihat kerja keras ini akhirnya berhasil juga. Makan malam pun siap..ap..ap...
Acara makan bersama dimulai setelah sebagian besar penghuni dan simpatisan sudah datang mengerubungi meja ruang tamu. Saya mengambil semangkuk sop jagung, terpisah dari nasi dan lauk piring saya. Doa saya panjatkan, berterima kasih atas anugerah Allah dan mengirimkan doa bagi mama. Tak disangka tak dinyana, ternyata si sop jagung yang menurut saya super enak, ternyata dianggap aneh oleh beberapa orang (entah berapa banyak yang berpikir demikian). Tanpa ba bi bu, si orang yang dimaksud kemudian mengatakan bahwa daging sapi yang ada di dalamnya terasa aneh. Bahkan seperti belum puas, beliau ini lalu mengambil satu potong, diberikan di piring tetangga, lalu mengatakan dalam bahasa yang tidak saya mengerti (saya tidak menguasai Hokkien) beberapa kalimat sambil saling melemparkan si onggokan daging ke piring satu sama lain. Bagaikan tersambar petir, dada saya nyeri. Tak lama, mata saya yang ikut panas. Tidak bisa ditahan, tetesan air mengerubungi mata berdesakan ingin keluar. Saya pergi ke dapur belakang, menangis sejadi-jadinya tanpa suara sambil memakan semangkuk penuh sop jagung yang tadi sudah saya siapkan untuk saya sendiri sambil dihibur oleh penghiburan tanpa kata oleh salah satu sahabat baik saya.
Kejadian itu membuat saya terkejut sekaligus sedih. Saya kecewa dengan tanggapan yang menurut saya, kurang sopan, mengingat beliau itu tidak membantu proses masak-memasak. Begitu tega beliau men-judge hasil keringat saya selama 2 jam dengan melakukan hal-hal yang tidak terpuji demikian.
Apa yang seharusnya kita hargai, karena di balik sesuatu yang kita lakukan terdapat runtutan proses yang akhirnya mencapai suatu hasil. Apa yang seharusnya kita hargai, karena sesuatu bermakna lebih bagi orang lain daripada sekedar apa yang kita pikirkan. Apa yang seharusnya kita hargai, karena di balik sesuatu itu tersimpan doa, harapan, keinginan, kerinduan, ucapan syukur, dan suka cita.
Ternyata apa yang kita lihat, belum tentu seperti yang terlihat pada dasarnya. Permukaan kasar dari sebatang bambu, akan bermanfaat bila dijadikan tiang jemuran. Warna hitam kue lapis, ternyata sungguh nikmat dimakan dan memiliki lapisan berwarna di dalamnya. Hujan yang mengguyur bumi, ternyata sangat diharapkan oleh petani dan menghasilkan campuran warna bernama pelangi yang menghias langit.
Banyak hal yang seharusnya kita hargai, apapun yang patut kita hargai. Pada dasarnya setiap tingkah laku, setiap tetes embun, setiap bunyi angin berhembus, setiap sinar mentari, setiap kedipan bintang, merupakan kuasa Tuhan. Dia lah yang memiliki akses pada segala sesuatu, dan kita wajib bersyukur terhadap semua itu. Maka saya ingin sekali mengajak kita semua, termasuk saya, untuk belajar menghargai segala sesuatu yang sebenarnya patut dihargai.
Hargailah itu, apa yang ada di depan matamu.
selamat malam dunia
Ingin mengucapkan selamat malam kepada seluruh penjuru dunia, beserta semua penghuni yang saat ini menumpang hidup di bumi. Malam ini berkuasa, terhadap saya, terhadap Anda semua yang sekarang sedang bertekuk lutut melawan kantuk dan akhirnya tunduk di balik selimut. Malam ini dengan hawanya yang menusuk, membuat reka ulang peristiwa hari di benak saya sedikit tersendat-sendat. Saya jadi kepingin juga ikutan tidur dan bersemayam dengan tenang di kasur kebanggaan saya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah hasil pinjaman.
Saya merasakan bahagia. Kemarin merupakan hari yang menggembirakan, karena saya bertemu lagi dua sahabat saya dan kami menghabiskan saturday night bersama. Para wanita muda, yang single, bukan janda. Lalu hari ini akhirnya saya kembali memasuki Gereja. Merasakan lagi nikmat ketika duduk menghadap altar Tuhan yang bersahaja. Pulangnya pun saya secara tidak sengaja (betul-betul tidak sengaja), menyaksikan gerhana bulan yang cantik. Puas rasanya hari ini, setelah seminggu penuh berkutat dengan pikiran sendiri yang kadang menakutkan, kadang juga melemahkan semangat hidup. Sekarang saya merdeka, jiwa saya sudah kian menunjukkan giginya. Saya berkata, "Saya tidak akan menyerah!!!"
Yang paling membuat saya tidak berhenti bersyukur adalah, Tuhan masih memberikan nikmatnya untuk hidup yang entahlah sampai kapan berhenti di penghujungnya. Saat ini saya totally pengangguran, tidak punya banyak kerjaan. Tapi karena itu juga saya bisa membangun keluarga bahagia lagi dengan rekan-rekan seperjuangan di UNPAD, para perwira dan perwiri KMBD.Mereka yang selama ini jarang saya "rusak" kehidupan kostnya, sekarang saya bisa jajah dan obrak-abrik. Bagaimana saya tidak bahagia, bila saya disediakan tumpangan menginap gratis selama sebulan berikut fasilitas-fasilitasnya. Trims berat buat teman-teman KMBD.
Lalu yang kedua yang saya syukuri adalah, orang tua saya masih memperhatikan saya di masa kelam ini. Malah lebih. Sang ayah tercinta, seringkali menanyakan kabar dan memberikan dorongan moril (termasuk materiil tentunya) supaya saya tidak lagi stres. Beliau malah menyarankan saya pulkam a.k.a pulang kampung, yang artinya saya bisa beristirahat dari pekerjaan mencari kerjaan ini. Sudah sekian kali hari Sabtu, tapi lamaran dari lowongan kerja di koran tidak ada satupun yang nyangkut dengan suksesnya. Beliau ini memang betul-betul setia pada anaknya.
Hikmah di balik semua kekelaman ini? Saya jadi tidak lagi anti pada kegagalan, tidaklagi sombong dan ke-PEDE-an menghadapi panggilan interview, tidak lagi suka menyiaka-nyiakan harta (yang tinggal sedikit karena cekak). Belajar dan belajar, seperti sifat dasar manusia pada umumnya. Kalau boleh mengutip kata-kata orang Indonesia, "masih bagus udah lulus kuliah. Masih bagus, bisa hidup dari biaya orang tua. Masih bagus, punya temen-temen yang ternyata menganggur juga," serta masih bagus-masih bagus yang lain. Ada untungnya juga saya lahir, tinggal, dan besar di negara ini yang banyak memberikan excuses.
Rupanya malam semakin larut. Mudah-mudahan rasa syukur ini membuat saya bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Tuhan Maha Baik lho, Saudara-saudara... Ini tidak bohong. Kalau Anda tidak percaya, mari berdiskusi dengan saya. Kita temukan bersama kebaikan-kebaikan Dia yang sungguh Agung. Kesempatan ini, saya ucapkan terima kasih pada keluarga, sahabat, koko2 angkat, rekan-rekan, Gereja Hosana, Pendeta Agus yang tadi sore berkotbah, gerhana bulan yang menyentil keimanan saya, serta 24 jam yang saya terima sepanjang hari ini (atau lebih tepatnya "kemarin"). Kalian menyempurnakan saya...
Saya merasakan bahagia. Kemarin merupakan hari yang menggembirakan, karena saya bertemu lagi dua sahabat saya dan kami menghabiskan saturday night bersama. Para wanita muda, yang single, bukan janda. Lalu hari ini akhirnya saya kembali memasuki Gereja. Merasakan lagi nikmat ketika duduk menghadap altar Tuhan yang bersahaja. Pulangnya pun saya secara tidak sengaja (betul-betul tidak sengaja), menyaksikan gerhana bulan yang cantik. Puas rasanya hari ini, setelah seminggu penuh berkutat dengan pikiran sendiri yang kadang menakutkan, kadang juga melemahkan semangat hidup. Sekarang saya merdeka, jiwa saya sudah kian menunjukkan giginya. Saya berkata, "Saya tidak akan menyerah!!!"
Yang paling membuat saya tidak berhenti bersyukur adalah, Tuhan masih memberikan nikmatnya untuk hidup yang entahlah sampai kapan berhenti di penghujungnya. Saat ini saya totally pengangguran, tidak punya banyak kerjaan. Tapi karena itu juga saya bisa membangun keluarga bahagia lagi dengan rekan-rekan seperjuangan di UNPAD, para perwira dan perwiri KMBD.Mereka yang selama ini jarang saya "rusak" kehidupan kostnya, sekarang saya bisa jajah dan obrak-abrik. Bagaimana saya tidak bahagia, bila saya disediakan tumpangan menginap gratis selama sebulan berikut fasilitas-fasilitasnya. Trims berat buat teman-teman KMBD.
Lalu yang kedua yang saya syukuri adalah, orang tua saya masih memperhatikan saya di masa kelam ini. Malah lebih. Sang ayah tercinta, seringkali menanyakan kabar dan memberikan dorongan moril (termasuk materiil tentunya) supaya saya tidak lagi stres. Beliau malah menyarankan saya pulkam a.k.a pulang kampung, yang artinya saya bisa beristirahat dari pekerjaan mencari kerjaan ini. Sudah sekian kali hari Sabtu, tapi lamaran dari lowongan kerja di koran tidak ada satupun yang nyangkut dengan suksesnya. Beliau ini memang betul-betul setia pada anaknya.
Hikmah di balik semua kekelaman ini? Saya jadi tidak lagi anti pada kegagalan, tidaklagi sombong dan ke-PEDE-an menghadapi panggilan interview, tidak lagi suka menyiaka-nyiakan harta (yang tinggal sedikit karena cekak). Belajar dan belajar, seperti sifat dasar manusia pada umumnya. Kalau boleh mengutip kata-kata orang Indonesia, "masih bagus udah lulus kuliah. Masih bagus, bisa hidup dari biaya orang tua. Masih bagus, punya temen-temen yang ternyata menganggur juga," serta masih bagus-masih bagus yang lain. Ada untungnya juga saya lahir, tinggal, dan besar di negara ini yang banyak memberikan excuses.
Rupanya malam semakin larut. Mudah-mudahan rasa syukur ini membuat saya bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Tuhan Maha Baik lho, Saudara-saudara... Ini tidak bohong. Kalau Anda tidak percaya, mari berdiskusi dengan saya. Kita temukan bersama kebaikan-kebaikan Dia yang sungguh Agung. Kesempatan ini, saya ucapkan terima kasih pada keluarga, sahabat, koko2 angkat, rekan-rekan, Gereja Hosana, Pendeta Agus yang tadi sore berkotbah, gerhana bulan yang menyentil keimanan saya, serta 24 jam yang saya terima sepanjang hari ini (atau lebih tepatnya "kemarin"). Kalian menyempurnakan saya...
Sunday, August 9, 2009
Arah Angin
Empat dimensi membelah bumi
Pergilah ia ke masing-masing jalannya
Tanpa ujung,lalu membumbung
Arah angin melesat..berkeliaran, ribut, resah
Kutanya pada utara
Ia menunjuk titik tak kasat mata
Kucari,lalu liar berdebar
Aq hilang lagi,tersasar
Timur tertawa
Aq tunduk,layu sendu
Berderak pacu jantung berirama
Ia ingin aq sesat jiwa
Selatan terkekeh
Desau batas kelam makin hitam
Masih ingin menoleh
Tapi lantas lunglai kaki terdiam
Tinggal barat sisa isyarat
Kehendak menggeliat
Meraih onggokan debu yang terjatuh
Tapi ia tetap bisu
Pada arah angin aq bicara.. Bibir mengatup,bagai mati raga. Aq tidak tau dmana dia. Hanya hati yang mampu rasa. Karena kami masih punya cinta. Dalam kebutaan mata angin,tersesat arah. Aq bisa menyalakan ia saat gulita. Bukan di ujung timur,selatan,barat ataupun utara. Ia adalah inti jiwa. Kutemukan dia di sana.
Lalu kukatakan lagi pada arah angin...kalian sudah kalah!
Thursday, August 6, 2009
susahnya menjadi jobseeker
hari ini begitu bangun tidur... yang terpikir adalah, bagaimana bisa mengisi waktu dengan tepat biar semuanya bisa menjadi produktif, supaya saya menjadi manusia yg lebih berguna. Tapi kenyataannya... waktu yg harus diisi, masih kosong dari daftar kegiatan. Dulu, setahun yg lalu, banyak banged kerjaan ngantri di dalem otak... Mulai dari mandi, sarapan, ke kantor, ganti seragam, ngambil kunci di FO, buka executive office, nyalain AC n kompi, ngeprint minutes briefing en meeting, fotokopi minutes, prepare briefing pagi, nyusun surat-surat, ato form untuk ditandatangani oleh GM di office...pokoknya seabrek kerjaan yg bikin sutrisno.
aneh rasanya, karena semua kegiatan harian yg udah terbiasa dijalanin n tersusun rapi tiba2 sekarang ilang begitu aja. Status sementara jadi pengangguran a.k.a jobseeker. Sulit bener hidup di waktu yg 24 jam seharinya kerasa bagai 50 jam. Terlalu banyak bergosip, baca buku, maen gitar, nyanyi2, masak-memasak, dan kegiatan tak penting lainnya. Bangun tidur, ngumpulin nyawa dulu trus otomatis di kaki berjalan ke arah dapur ngambil handuk en mandi. Selanjutnya??? Bingung deh... Bisa aja seharian online, mencari lowongan kerjaan. Bisa juga cuma kumpul-kumpul bareng temen kontrakan. Sore, kalo guru les lagi pengen..bisa lanjut dengan les mandarin 2 jam, lumayan buat ngisi waktu biar makin pinter. Tapi ya begitu-begitu aja. Kurang sreg rasanya, kalo hidup lebih banyak buat maen en ngabisin uang daripada kerja en nerapin ilmu yg dipunya (cieeeh, gaya betul!)
Susahnya jadi pengangguran ya banyak. Salah satunya adalah, keengganan menyusahkan orang tua yg musti terus mengucurkan dana. Kalo udah sekarat, rasanya maluuuuu banged buat minta sumbangan sukarela dari sang ayah. Tapi mau makan dari mana uangnya? Indomie lah yang terpaksa di stock buat menu harian, entah sarapan, makan siang, mpe makan malam, plus dijadiin cemilan2nya sekalian. Jadi kurus? Blom tentu... Karena selama nganggur ini, justru berat badan naik drastis. Bisa-bisa dikira ibu hamil nih, karena lemak-lemak di daerah lengan dan perut menumpuk dengan kejamnya. merubah bentuk badan, dari ideal, jadi sangat-amat-tidak-enak-dilihat. Mimpi jadi model, jauh2 deh perginya...kabur cepet sekali.
Susahnya lagi, kalo mau pergi maen en bersenang-senang selalu dalam perasaan yang tidak nyaman. Ngerasa bersalaaaaah aja tiap mau pergi nonton ato diajak nongkrong bareng sohib. Sambil minum kopi, mikir dalem hati..."nih kopi dibayar dari keringet bokap gw". Sambil nonton di bioskop, mikir dalem ati..." filmnya bagus sih...tapi lebih seru kalo nonton bareng temen2 kantor mustinya". Wah, ribet lah... Banyak pertimbangan en perasaan gak enak.
Nyari kerjaan di tahun 2009 ini ternyata sulidnya minta ampun. Apalagi lulusan ilmu komunikasi. Baru nyadar sekarang, banyak perusahaan masih tidak butuh yg namanya PR ato Humas. Wadoh, kacaw lah kalo musti lintas jurusan. Pengennya sih bisa buka praktik doket gigi, yang menurut temen penghasilannya bisa 28 juta sehari. Siapa yg gak mau coba? Ngerasa salah ambil jurusan dan sedikit menyesal... tapi memang sebenernya gak mungkin sih, secara waktu SMA dulu masuk jurusannya IPS..hahaha... Kejauhan ya kalo musti nyebrang ke sono.
Nah, hari ini sudah ada beberapa lamaran yang aku apply. cukup stress en cape mata. tapi ya, biar Tuhan aja yg nentuin jalannya. Ada juga temen yang nawarin kerjaan.. Jadi sekretaris lagi? Terima aja lah..walopun gak terlalu berniat en minat2 amat. kalo kata orang, "daripada nganggur??!!!" Jadi sekretaris pribadi juga boleh lah. asal calon suami bisa nyiapin uang 2oo ribu sehari, guna kebutuhan rumah tangga yang kian sulit dipenuhi zaman kini. Yang pasti musti bisa ke salon minimal sebulan sekali, makan daging tiap ari, ke mana-mana disopirin atau bawa mobil sndiri, di rumah udah tersedia pembantu. Eeeeh, siapa yang gak mau?!!! Sayangnya, para anak mentri en pajabat tinggi rata2 sudah punya pasangan en inceran masing-masing. Mau ketemu lowongan macam ini juga susah bener. melototin koran tiap hari pari pagi mpe tengah malem juga pasti gak bakalan dapet deh. Memang musti kerja dulu, punya jabatan yang lumayan, trus mulai deh sabet kiri kanan, cari lelaki yang punya posisi bagus di kantor en bermasa depan cerah. hahahaha... namanya juga usaha...
Wah, cukup lah daku berkeluh kesah hari ini. Mau ditangisin nasibnya juga gak bakal tiba2 berubah. Yang penting udah usaha. Mudah2an aja bisa beneran punya jabatan secepetnya, gak cuma menuh2in Indonesia dan menaikkan angka pengangguran negara aja. Amiiin...
aneh rasanya, karena semua kegiatan harian yg udah terbiasa dijalanin n tersusun rapi tiba2 sekarang ilang begitu aja. Status sementara jadi pengangguran a.k.a jobseeker. Sulit bener hidup di waktu yg 24 jam seharinya kerasa bagai 50 jam. Terlalu banyak bergosip, baca buku, maen gitar, nyanyi2, masak-memasak, dan kegiatan tak penting lainnya. Bangun tidur, ngumpulin nyawa dulu trus otomatis di kaki berjalan ke arah dapur ngambil handuk en mandi. Selanjutnya??? Bingung deh... Bisa aja seharian online, mencari lowongan kerjaan. Bisa juga cuma kumpul-kumpul bareng temen kontrakan. Sore, kalo guru les lagi pengen..bisa lanjut dengan les mandarin 2 jam, lumayan buat ngisi waktu biar makin pinter. Tapi ya begitu-begitu aja. Kurang sreg rasanya, kalo hidup lebih banyak buat maen en ngabisin uang daripada kerja en nerapin ilmu yg dipunya (cieeeh, gaya betul!)
Susahnya jadi pengangguran ya banyak. Salah satunya adalah, keengganan menyusahkan orang tua yg musti terus mengucurkan dana. Kalo udah sekarat, rasanya maluuuuu banged buat minta sumbangan sukarela dari sang ayah. Tapi mau makan dari mana uangnya? Indomie lah yang terpaksa di stock buat menu harian, entah sarapan, makan siang, mpe makan malam, plus dijadiin cemilan2nya sekalian. Jadi kurus? Blom tentu... Karena selama nganggur ini, justru berat badan naik drastis. Bisa-bisa dikira ibu hamil nih, karena lemak-lemak di daerah lengan dan perut menumpuk dengan kejamnya. merubah bentuk badan, dari ideal, jadi sangat-amat-tidak-enak-dilihat. Mimpi jadi model, jauh2 deh perginya...kabur cepet sekali.
Susahnya lagi, kalo mau pergi maen en bersenang-senang selalu dalam perasaan yang tidak nyaman. Ngerasa bersalaaaaah aja tiap mau pergi nonton ato diajak nongkrong bareng sohib. Sambil minum kopi, mikir dalem hati..."nih kopi dibayar dari keringet bokap gw". Sambil nonton di bioskop, mikir dalem ati..." filmnya bagus sih...tapi lebih seru kalo nonton bareng temen2 kantor mustinya". Wah, ribet lah... Banyak pertimbangan en perasaan gak enak.
Nyari kerjaan di tahun 2009 ini ternyata sulidnya minta ampun. Apalagi lulusan ilmu komunikasi. Baru nyadar sekarang, banyak perusahaan masih tidak butuh yg namanya PR ato Humas. Wadoh, kacaw lah kalo musti lintas jurusan. Pengennya sih bisa buka praktik doket gigi, yang menurut temen penghasilannya bisa 28 juta sehari. Siapa yg gak mau coba? Ngerasa salah ambil jurusan dan sedikit menyesal... tapi memang sebenernya gak mungkin sih, secara waktu SMA dulu masuk jurusannya IPS..hahaha... Kejauhan ya kalo musti nyebrang ke sono.
Nah, hari ini sudah ada beberapa lamaran yang aku apply. cukup stress en cape mata. tapi ya, biar Tuhan aja yg nentuin jalannya. Ada juga temen yang nawarin kerjaan.. Jadi sekretaris lagi? Terima aja lah..walopun gak terlalu berniat en minat2 amat. kalo kata orang, "daripada nganggur??!!!" Jadi sekretaris pribadi juga boleh lah. asal calon suami bisa nyiapin uang 2oo ribu sehari, guna kebutuhan rumah tangga yang kian sulit dipenuhi zaman kini. Yang pasti musti bisa ke salon minimal sebulan sekali, makan daging tiap ari, ke mana-mana disopirin atau bawa mobil sndiri, di rumah udah tersedia pembantu. Eeeeh, siapa yang gak mau?!!! Sayangnya, para anak mentri en pajabat tinggi rata2 sudah punya pasangan en inceran masing-masing. Mau ketemu lowongan macam ini juga susah bener. melototin koran tiap hari pari pagi mpe tengah malem juga pasti gak bakalan dapet deh. Memang musti kerja dulu, punya jabatan yang lumayan, trus mulai deh sabet kiri kanan, cari lelaki yang punya posisi bagus di kantor en bermasa depan cerah. hahahaha... namanya juga usaha...
Wah, cukup lah daku berkeluh kesah hari ini. Mau ditangisin nasibnya juga gak bakal tiba2 berubah. Yang penting udah usaha. Mudah2an aja bisa beneran punya jabatan secepetnya, gak cuma menuh2in Indonesia dan menaikkan angka pengangguran negara aja. Amiiin...
Subscribe to:
Posts (Atom)