Thursday, August 20, 2009

How Full is Your Bucket


Tadi malam saya tidak bisa tidur sampai jam 3 subuh. Coba bayangkan betapa pegelnya tiduran di kasur yang setipis awan (tipissss banged, beneran!) selama beberapa jam dan cuma bisa bolak-balik badan sambil baca buku.

Satu buah buku seru untuk saya bagi kepada Anda, judulnya "How Full is Your Bucket". Keren nih bukunya, isinya dalaaaam tapi bukunya gak tebel-tebel amat. Inti dari buku ini adalah, "manusia memiliki ember dan ciduk yang tidak terlihat". Setiap hari ember itu diciduk dan diisi kembali. Pengisian ember akan membuat kita semakin "baik", tetapi tak jarang orang-orang disekitar kita menciduk isi ember kita. Mengisi ember dilakukan dengan hal-hal yang positive. Kita diingatkan untuk berbuat positive dan memenuhi ember kita sendiri. Suatu saat ember ini akan luber, lalu kita juga diwajibkan mengisi ember-ember orang sekeliling kita.

Banyak hal yang bisa kita perbuat untuk orang lain. Tidak perlu jauh-jauh, kita bisa memulai belajar untuk mengisi ember orang terdekat seperti sahabat dan rekan kerja di kantor. Bagaimana caranya? Simple dan mudah saja. Salah satunya adalah dengan memberikan penghargaan yang tulus kepada dia, dengan pendekatan personal dan tentunya baik untuknya. Hal tersebut akan mengisi embernya dan membuatnya lebih produktif, lebih sehat, dan lebih baik lagi.

Kuncinya adalah dengan mengisi ember sebanyak-banyaknya untuk orang lain dan melakukan perubahan lingkungan, supaya keadaan menjadi nyaman bagi semua orang. menurut buku ini, perbandingan idealnya adalah 5x perlakuan positif:1x perlakuan negatif. Jadi ketika kita melakukan perbuatan negatif pada orang lain, lakukanlah 5x perbuatan positif sebagai balasannya.

Setelah selesai membaca buku itu, saya lalu susah tidur. Saya memikirkan bagaimana caranya untuk mengisi ember saya sendiri dan orang-orang di sekitar saya. Lalu saya menemukan satu cara, yaitu dengan membagi ilmu ini kepada orang lain. Saya lalu berniat untuk membeli buku ini dan "mengedarkan"nya kepada banyak orang. Tentu saja, bukan saya sendiri yang bekerja.

Saya hanya akan memulai dengan membeli buku ini, menandatangani halaman paling belakang dan memberi tanggal saya selesai membacanya, lalu memberikannya kepada salah satu mantan atasan saya. Saya berharap beliau juga bsia menyelesaikan membaca buku ini, lalu menandatanganinya dan memberikannya kepada satu orang lain lagi. Dengan cara ini, mudah-mudahan ilmu yang berguna untuk kita semua ini bisa beredar luas. Kita tidak lagi menerima perlakuan negatif dari orang-orang sekitar, termasuk di kantor, dan mulai mengisi ember-ember mereka yang berada di sekitar kita.

Memulai dari sesuatu yang kecil, ilmu yang seadanya ini ingin saya sumbangkan bagi dunia supaya kita hidup dengan lebih POSITIVE dan dunia menjadi tempat yang nyaman untuk kita semua. Saya juga memulai perdamaian dengan diri sendiri, sebagai salah satu upaya mengisi ember saya sendiri.

Salam damai...
Salam Langit Untuk Bumiku^^

(kunjungi juga www.bucketbook.com)

Tuesday, August 18, 2009

masih seperti dulu

melangkah kaki
riang
tiada ragu aku padamu
walau letih dan lesu tungkaiku

dan sepanjang jalan membentang
jarak ini menjauhkan
tidak bersua sekian lama
kita masih bersahabat saja

ketika bimbang dan air mata tertuang
kuketikkan cerita
sebait kata seadanya
untuk kita bertegur sapa

engkau yang ada di sana
setahun hanya sempat sekali bertemu muka
tapi di ujung jalan ini
terdapat kasih tulus dari hati

kita masih seperti dulu
jarang bicara
tapi hati ini tahu
ke mana harus pergi ketika sendu

sahabatku yang jauh
engkau masih seperti pertama kita bertemu



(sebuah sajak untuk temanku... Ferry Huang a.k.a skeeter... Thanks ya udah jadi temennya hime^^. Ini janji tulisan, akhirnya aku buat juga. Walopun jelek,,,maaf yaaa...)

Monday, August 17, 2009

Lomba 17an Terbaru...............

Entah sejak kapan, setiap tanggal 17 Agustus, dalam memperingati hari kemerdekaan negara kita Indonesia, kita selalu ikut memeriahkannya dengan mengadakan berbagai perlombaan. Mulai dari upacara bendera pagi-pagi sekali, dilanjut dengan panitia yang bersibuk-sibuk ria mengatur meja pendaftaran lomba. Lombanya juga beraneka macam. Ada yang ringan, seperti kerupuk, sampai yang berat seperti pohon pinang. Ada juga yang sedikit berbahaya, seperti bermain-main paku.

Saya sempat bertanya pada salah satu teman saya tadi sore, sejak kapan tradisi ini dimulai dan mengapa harus ada lomba? Dia tidak tahu pasti jawabannya. tapi dia sempat mengatakan bahwa perlombaan ini dimaksud (mungkin) untuk mengingat kembali perjuangan bangsa dan supaya rasa perjuangan itu tidak hilang dari dalam diri kita. Sekarang perjuangan itu bisa digunakan dalam berbagai ajang perlombaan yang digelar dan kita ikuti saat 17an. Gak salah juga sepertinya...

Lalu coba kita hitung, ada berapa jenis lomba yang diadakan? Dari tahun ke tahun, si lomba yang dimaksud gak jauh-jauh dari makan kerupuk, tarik tambang, paku botol, sepakbola sarung, dan panjat pinang. Tampaknya 17an identik sekali dengan lomba-lomba macam ini. saya dan teman saya, rupanya memiliki ide lebih kreatif untuk tahun ini.

Mari kita ganti lomba makan kerupuk dengan lomba makan duren, yang tentunya lebih nikmat daripada sekedar kerupuk. Kalau bisa, durian digantung berikut kulit-kulitnya supaya lebih menantang. Tapi untuk lomba ini, diperlukan dana cukup besar, jadi mungkin para peserta diharuskan untuk memberikan uang pendaftaran.

Berikutnya, tarik tambang kita ganti saja dengan angkot. Lomba macam ini lebih berguna bukan? Karena kita bisa mendapatkan penghasilan, yang tentunya seimbang dengan keringat dan jerih payah yang kita habiskan. Konpensasi bagi peserta, uang hasil menarik angkot boleh dibawa pulang setelah dipotong pajak (kita seorang warga negara yang taat pajak kan?).

Paku botol mungkin sudah ketinggalan zaman. Memasukkan paku ke dalam botol tantangannya terlalu ringan. Jika kita ingin menjadi anak2 bangsa yang lebih kreatif, bisa dicoba perlombaan mengeluarkan paku dari dalam botol. Tentunya si botol tidak boleh dipegang dengan tangan, tapi masing-masing peserta diberi sebuah alat bantu berupa sepasang sumpit. Gimana gak menantang tuh?

Kalau main sepakbola dengan sarung sudah biasa. Bagaimana dengan lomba sepakbola dengan tidak menggunakan sarung? Tidak dengan rok, tidak juga dengan celana. Tapi peserta-peserta diperbolehkan menutup aurat dengan menggunakan kertas koran. Perlombaan ini pasti lebih banyak penontonnya. Mungkin tetangga-tetangga dari kampung sebelah akan datang dan berpartisipasi (karena malu mendaftar di kampung sendiri).

Yang terakhir dan terbaik adalah puncak acara 17an, ditutup dengan lomba panjat-memanjat. Bukan pinang yang dilumuri dengan oli, karena yang satu itu sudah biasa. Kita ganti saja pinangnya dengan le****. Maklum, mencari pohon pinang sekarang lebih sulit daripada le**** yang bertebaran di muka bumi. Lomba panjat pinang, biasanya diikuti oleh para pria, untuk lomba panjat le****, khusus wanita saja. Emansipasi dong, kan sudah maju bangsa ini. Le**** disediakan oleh panitia dari hasil karantina dan sudah dieliminasi oleh penonton (emangnya reality show???). Pemenangnya dinilai dari teknik-teknik yang dipakai oleh peserta saat memanjat, dan hasil akhir. Hadiahnya tentu saja luar biasa, tidak bisa dinilai dengan materi. Le**** yang berhasil dipanjat, boleh anda bawa pulang.

Menarik bukan? Mudah-mudahan ide2 di atas, hasil obrolan kurang penting saya dan teman-teman bisa diwujudkan. Kalau bisa kita bawa sampai ajang internasional, apalagi kalau bisa dilombakan dalam olimpiade, itu lebih bagus lagi.

Selamat hari kemerdekaan. Dirgahayu Indonesia. Semoga pemuda-pemudanya makin kreatif (read: gila) sehingga menciptaktan kreasi2 perlombaan baru...

Saturday, August 15, 2009

belajar dari kebelet pipis

Tau rasanya kebelet pipis? Pasti menderita sengsara lahir dan batin. Apalagi ketika si pipis sudah di ujung, nyawa berasa tinggal sebentar lagi, terus "tamat" deh. Si kebelet ini gak kenal waktu dan kondisi, apalagi lokasi. Kadang-kadang datang waktu lagi kuliah, waktu lagi maen bola, waktu lagi berenang, waktu lagi santai, waktu lagi nonton, waktu lagi kencan, waktu lagi rapat, bahkan waktu tidur pun suka tiba-tiba datang. Sebenarnya kebelet bisa terjadi apabila air seni sudah berkumpul di kantung kemih. Yang repot, adalah ketika si kebelet berkunjung ketika kita tidak bisa meninggalkan apa yang sedang dilakukan. Bagaikan buah simalakama, dimakan ibu mati, gak dimakan bapak yang mati. Serba salah pokoknya. Mau tak mau harus segera dikeluarkan secepatnya, bila tidak mau ketiban penyakit yang bernama 'kencing batu'.

Kebelet yang tidak tahu tata krama dan sopan santun ini datang tanpa permisi. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyergap bagian perut ke bawah. Terpaksa kaki disilangkan serapat-rapatnya untuk menghindari adegan jebolnya tanggul pertahanan terhadap pipis. Kalau kebelet datang pas kita sedang asyik-asyiknya berenang, betapa malas rasanya naik ke atas lalu pergi ke toilet. Tak jarang, beberapa orang (yang sama tidak tahu tata krama dan sopan santun) lantas berenang ke arah sedikit di pojok kolam lalu pura-pura berdiri, padahal sedang buang air. Entah di laut lepas, entah di kolam, kita manusia selalu saja mencemari air dan sekitarnya.

Masih mendingan kalau yang datang adalah si kebelet pipis. Nah, gimana ceritanya kalau yang datang adalah si kebelet yang lebih besar? Suatu hari ketika dapat giliran presentasi tugas mata kuliah di depan kelas, saya tiba-tiba diserang 'panggilan alam". Alhasil, karena tidak sempat ke toilet, seluruh presentasi menjadi kacau balau, jawaban tidak nyambung dengan pertanyaan, mulut mengkerut menahan sakit, keringat dingin sebesar-besar biji jagung pun ikutan nimbrung. Karena si kebelet ini juga, maka saya tak bisa menghindari salah satu ujian harian Tata Negara di kala saya masih duduk di bangku SMA. Di tengah kebingungan harus mengingat hapalan yang setengah mati dipelajari malam sebelumnya, menuangkannya ke dalam lembar jawaban secara tepat, di tengah waktu yang sempit sekali, bahkan terasa kurang. Saya sempat kabur dari ujian selama sepuluh menit. satu menit pertama untuk lari menuju toilet terdekat, sembilan menit berikutnya berkutat dengan urusan perut, dan sisanya untuk kabur lagi ke kelas lalu lanjut mengerjakan ujian dengan napas yang tinggal setengah.

Manusia seperti saya dan juga Anda, kadangkala hanya bisa mengutuk kekejian si kebelet ini karena berhasil mengacaukan rencana kita, presentasi, kencan pertama, negosiasi harga, wawancara kerja, dan kegiatan-kegiatan kita lainnya. Dibuat pusing tujuh keliling, kita lalu memaki-maki dalam hati, berharap si kebelet itu cepat pergi. Tapi apa mau dikata, si kebelet tak kunjung usai menggelitik dan menyiksa jika si air seni tidak dibuang oleh si empunya.

Masalah-masalah yang datang dalam hidup ini datang dan pergi. Datangnya tiba-tiba, lalu pergi begitu saja jika kita sudah berhasil menyelesaikannya. Ada yang prosesnya cepat, secepat kilat. Ada yang lama tandasnya (apalagi jika sudah ditahan sekian lama). Seperti kebelet yang mengganggu, masalah hidup manusia ada yang besar dan ada pula yang kecil, berbeda waktu penyelesaiannya dan berapa banyak air yang dihabiskan a.k.a berapa banyak energi yang kita gunakan untuk menyelesaikan masalah itu.

Si kebelet yang ditahan-tahan, dalam waktu lama pasti akan menimbulkan penyakit dan gangguan. Masalah yang ditunda-tunda untuk diselesaikan pastinya juga bisa menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih sulit lagi efeknya bagi kita. Si masalah datang silih berganti tak kenal waktu, kondisi, apalagi lokasi. Sama betul bukan? Kadang-kadang di tempat ibadah, kita juga mendapatkan masalah. Entah karena terlambat datang, tidak kebagian posisi yang nyaman, atau karena tetangga sebelah berisik sekali sehingga kita menjadi tidak khusyuk. Ada-ada saja.

Maka seperti kebelet yang senang sekali mengganggu manusia, seharusnya kita menangani masalah dengan santai. Tidak perlu keliling penjuru sekolah dulu sebanyak dua kali, lalu baru pergi ke kamar mandi. Tidak perlu bilang pada seluruh kelurahan bahwa kita ingin buang air, tinggal mencari toilet umum terdekat dan menandaskan hasratnya. Bila kita berada di tempat asing, dan tidak menemukan toilet umum, kita bisa juga bertanya, atau meminta izin untuk memakai kamar mandi di rumah penduduk. Masalah yang datang, jika tidak bisa kita selesaikan sendiri, maka ada baiknya kita meminta bantuan orang lain juga. Ini lah kenikmatan hidup sebagai mahluk sosial, kita tidak bisa hidup sendiri. Lalu setelah buang air, jangan lupa menyiramnya. Masalah yang sudah selesai, jangan sampai membuat kita berlarut-larut. Waduh, semakin lama saya menulis tema ini, semakin banyak saja saja mencari-cari persamaan antara kebelet dan masalah manusia.

Daripada saya membahas kebelet lebih lama, lebih baik sekarang saya ke toilet (cafe ini) dan buang air kecil, karena si air sudah teriak-teriak ingin dibuang karena sedari tadi saya menahan-nahan pipis untuk menyelesaikan tulisan ini. hahahaha....

Salam damai... Be happy^^

Thursday, August 13, 2009

Menapaki Alam...


Kira-kira 15 menit yang lalu saya baru saja selesai makan siang. Menu hari ini hanya nasi,telur dadar,dan oseng tempe kecap buatan sendiri. Dengan kekenyangan,saya lalu ingin berangin-angin diluar rumah kontrakan. Jongkoklah saya,santai,di pinggir tembok pembatas rumah. Halaman samping rumah ini memang ditumbuhi beberapa tanaman seadanya. Ada cabai rawit dan pepaya. Tidak disemen,tp hanya bertanah merah.

Saya keluar tanpa alas kaki. Matahari yang terik menyinari bumi begitu dasyat. Kaki saya melompat-lompat kecil menghindari kerikil. Lalu saya berjongkok dan termenung. Selintas menikmati anugerah yang Tuhan beri bagi saya hari ini. Saya mendongak,melihat langit biru bersih,rangkaian awan hanya tipis saja.

Tersadar dengan keadaan,saya menapaki alam. Dibalik perumahan daerah sini,sebuah gunung menjulang. Tidak terlalu tinggi memang,tapi menakjubkan. Datarannya hijau. Saya seperti melihat dunia yang lain dari biasanya.

Karena kesadaran terasa semakin hilang, bangkitlah saya. Lalu perlahan melewati halaman menuju pintu depan. Panas dari tanah menyapa telapak kaki saya,menyusupkan kehangatan. Semua rangkaian itu saya sadari dan syukuri. Nikmat sekali bertelanjang kaki. Rupanya si telapak sudah lama lupa rasa sakit dicubit oleh hawa panas tanah. Saya biarkan dia ingat,supaya kedua kaki ini mampu bersyukur lagi.

Hawa panas hari ini menenangkan saya. Tapi yang lebih penting,mengingatkan saya. Siapakah sebenarnya hamba,dibalik segala alam dan siapa penciptanya. Kerinduan akan Tuhanku terlengkapi sudah. Saya menyapa Allah dari sepasang kaki ini (tidak ada maksud merendahkan).

Sampai sekarang sebenarnya telapak kaki saya masih terasa sedikit perih dan panas. Tapi syukur tak henti-hentinya mengindahkan hati saya. Si kaki ini mengajarkan saya untuk merendahkan diri kepadaNya. Luar biasa. Syukur kepada Allah...

Wednesday, August 12, 2009

Bicara dan Mendengar

Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Aku berdoa
Aku berkata

Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Tuhan bersabda
Tuhan menjadikannya

Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Aku meminta
Tuhan kabulkan semua

Siapa yang bicara
Siapa kemudian mendengar?
Aku dan Tuhanku
Apakah kau tahu?

Kapan Dia akan bicara dan aku dengarkan?
Semua lalu tertutup demi sepasang telinga yang tuli
Aku bukan lagi mendengar lewat nurani
Dia tetap mau mengetuk pintu hati

Masih saja berdiam diri
Tuhan menepuk pundakku
Sekali lagi
Namun aku kelu bisu

Siapa yang bicara?
Siapa kemudian mendengar?
Aku dan Tuhanku
Siapa yang tahu?