Saturday, January 9, 2010

Aku Rindu

Apakah Engkau baik-baik saja? Sudah lama aku tidak menyapa. Tiga kali sehari kita bertemu setiap aku mau makan nasi. Tiap malam, aku merindukan Engkau berbicara padaku sebelum tidur. Aku haus setiap kata yang Engkau sering katakan lewat sebuah buku. Tapi di situ aku jarang menemuiMu. Surat cintaMu hanya aku letakkan di dalam lemari dengan tersia-sia. Maafkan aku.

Bapa, aku ingin bercerita. Kisah hidupku ini aku tahu Engkau pasti sudah mengerti sebelum aku sempat membuka suara. Tapi aku hanya ingin berkeluh kesah saja. Aku ingin menumpahkan kekesalan, kesedihan, ketakutan, keengganan, kemarahan, kepiluan, kesakitan. Tidak hanya itu, aku juga punya rahasia. Rahasia yang hanya Kau tahu setiap alur ceritanya. Biar saja aku bicara, ya Bapa? Tentu Kau punya waktu untuk selamanya bukan? Kau memiliki semua waktu di dunia ini, jadi satu jam yang aku pinta tidaklah seberapa.

Kabarku saat ini bisa dibilang sudah membaik. Berkat Engkau juga. Aku menemukan lagi sebuah harapan untuk hidupku sendiri. Aku melalui setahun ini dengan perjuanganku dan saat ini aku kembali berdiri. Lihat aku! Aku ternyata masih mampu. Tapi Bapaku, sekuat apapun sekarang, ternyata aku masih saja merasa lemah.

Aku bersyukur, semua anugerahMu masih bisa aku nikmati. Saat ini segala kesulitan, masih bisa aku tangani. Aku marah pada orang-orang yang merendahkan aku. Mereka tidak melihat keberadaannku. Cuma Engkau yang memperhatikan. Ada pula mereka yang membuatku sedih. Ada yang meninggalkan. Beberapa lagi membuat sakit hati. Aku bingung harus melangkah ke mana. Aku ingin bisa menghargai hidupku lebih banyak lagi.

Engkau membangun pintu yang gagangnya terlalu tinggi untuk bisa aku raih. Pertama kira tidak mungkin. Tapi ternyata aku masih bisa membukanya. Kau menyelipkan sebuah tangga yang tidak aku lihat sebelumnya. Butuh waktu bagiku supaya aku menemukan tangga itu. Keluar dari pintu, aku menemukan kolam besar yang kau siapkan. Engkau tahu aku tidak bisa berenang. Aku lalu mencari cara. Bapa yang baik, Engkaulah Dia, pernah membekali aku sebuah ban karet. Cuma aku lupa di mana menyimpannya. Dengan tangan terbuka, Engkau menanti aku anakMu di seberang sana. Engkau menunjukkan cara untuk aku bisa melaluinya. Lalu sebuah tali, Kau lempar ke sini. Kau tarik aku dengan perkasa.

Oh, Bapa. Engkau sungguh menganggumkan. Semua ketidakberdayaanku ini membuat aku lagi dan lagi mencari Engkau. Ketika aku jatuh, maka Kau akan ada di situ. Aku seringkali lupa, tapi tak pernah Kau tinggalkan aku. Bahkan seringkali Kau tepuk pundakku yang lesu. Kau katakan bahwa Engkau mencintaiku. Sejujurnya, aku juga sangat mencintaiMu. Maka semua yang kau berikan adalah bentuk kasih. Kau cobai aku supaya aku menjadi pribadi yang lebih kuat lagi. Tidak mungkin salah. Engkau mengenali aku lebih baik dari diriku sendiri.

Sekarang aku ingin Kau bercerita. Katakanlah padaku apa saja. Sedikit juga tidak apa-apa. Aku sudah lelah menangis dan mengadu. Aku ingin mendengarMu bicara padaku. Apa kabarMu? Apa Kau merindukanku juga? Apakah kesalahan yang aku perbuat? Berceritalah Bapa. Agar aku mengerti Kau ada di sebelahku saat ini.

Bapa, aku merindukanMu...

Friday, January 8, 2010

Siapa yang Terluka

Lalu siapa?
Siapa yang membongkar luka?
Bukan aku
Kamu juga tidak tahu

Lalu siapa?
Apakah ini cuma alam liar pikiran kita?
Kamu tak bisa
Aku juga tidak biasa

Lalu siapa?
Siapa yang mengacungkan jarinya?
Aku diam
Kamu tak mau diam

Siapa yang bertanya?
Jawaban ini milik siapa?
Luka itu seperti apa?
Siapa yang terluka?

--
in the middle of no where
Jakarta, 8 Januari 2010

Tuesday, January 5, 2010

Berbekal Sebuah Lagu (mendiang) Meggy Z.

Kalau bosan bernyanyi nada-nada pop seperti lagu populer kebanyakan, terkadang lagu penghibur hati yang lara adalah yang tentunya berirama "Indonesia Sekali". Jempol tak kurang, pasti ada dua yang bergoyang. Lantunan nada mendayu yang merangkai lirik sedih seringkali berkumandang dalam hati, walaupun malu2 bila harus menyanyikannya dengan gegap gempita plus iringan liukan badan ke kiri dan kanan. Jadi lebih banyak saya bernyanyi dangdut cukup di kamar mandi atau sembunyi-sembunyi saja. Bukannya tidak cinta negara, tapi rasanya aneh kalau menyanyikan dangdut ini tidak di sebuah konteks kegiatan yang sepadan.

Berbekal satu lagu terpopuler Meggy Z juga lah, saya akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur ke sebuah praktek dokter gigi. Setelah sibuk ber-plurking-ria dan berpikir matang-matang, saya lalu mengangkat pantat yang santai berselonjor di kasur. Mungkin lirik berikut masih terngiang selalu di telinga beberapa di antara anda:

"Putus lagi cintaku
putus lagi jalinan kasih-sayangku dengannya
cuma karena rupiah lalu engkau berpaling muka
tak mau menatap lagi"

Itu sih bukan bagian yang membakar semangat saya. Pada akhirnya, lirik berikut yang membuat saya pantang mundur ke medan pertempuran bernama "ruang praktek dokter gigi". Ini dia liriknya...

"jangankan diriku
semut pun kan marah
bila terlalu… sakit begini

daripada sakit hati
lebih baik sakit gigi ini
biar tak mengapa"

Halah, setua ini masih takut sakit gigi? Pikir saya, "patah hati sudah biasa dalam hidup saya, mas Meggy aja lebih milih sakit gigi". Jadi kenapa saya harus mengalah pada si sakit yang belum tentu terjadi ketika si gigi dicabut nanti. Apapun yang terjadi, terjadilah...

Tiga jam yang lalu tepatnya, nangkring-lah saya di sebuah dental house dekat kost. Ternyata tempat praktek itu hari ini sepi pengunjung (belakangan saya baru tahu salah satu alasannya). Alhasil, malam ini saya menjadi pasien pertama si dokter "sebut saja Bunga" (padahal laki2).

Dokter Bunga senyum sumringah kepada saya begitu saya sampai di depan ruangannya. "Aduh, lidya rupanya sudah berani. Pergumulannya sudah berhasil diatasi ya?" Saya cuma bisa ngangguk-ngangguk tanpa bisa berkomentar. Dalam hati saya, "koen iku, seenak udel mu dewe. Weis, sakarep mu lah dok!" Senyum pun saya lemparkan sebagai jurus maut untuk menenangkan diri sendiri.

"Duduk...tenang...tarik napas...baca doa...tutup mata...tutup kuping...dan terakhir, kalau masih tidak kuat..tutup mulut!" begitulah mantra2 yang saya ucapkan selama beberapa menit awal di bangku pesakitan. Dokter yang duduk di sebelah saya kedip2 memperhatikan saya dan terlihat takjub, sampai-sampai dia nanya, "kenapa lid?". Sambil mesem, saya bilang "nggak papa dok. Saya lebih baik sakit gigi daripada sakit hati kok". Si dokter lalu tertawa kencang (sebentar saja) dan berikutnya tanpa tedeng aling-aling mengambil berbagai peralatannya, bersiap menerkam ruang mulut saya dan membasmi si gigi sialan itu.

"tak..tok..siiiing..cruut..siiiing...klotak...aw..aaaw..." Dua puluh menit dalam ketegangan (tapi aneh, karena gak sakit sama sekali) akhirnya selesai. Saya kira berakhir sudah semuanya, karena si dokter meletakkan peralatannya ke tray. "Ini tidak bisa dicabut biasa, saya operasi kecil ya."

*GUBRAAAK!!!*

"Apaaa??? Saya mau dioperasi doook???" Terbayang-bayang sudah jari jemari si dokter merobek gusiku di berbagai tempat. Belum apa-apa saya sudah merasa lemas tak berdaya. Tapi mau bagaimana lagi, usaha si dokter Bunga rupanya sudah maksimal dan tidak mendapatkan hasil memuaskan (sebenernya ini lagi ngomongin apa sih??).

Scene berikutnya seperti terjadi dalam gerakan lambat. Sorot lampu, mesin pemotong, sundae, kaca mulut, kapas, penyedot liur, penyemprot air, tang, dan aneka jenis tools seliweran di depan mata. Dua puluh lima menit kemudian, si dokter mengangkat dua potong akar gigi premolar saya itu sambil cengar-cengir. "DONE!" katanya.

Session menjahit sebagai penutup ternyata so much much easier. Tidak sampai 10 menit, sudah selesai lah mulutku minus 1 gigi dan saya langsung disuruh duduk tenang. Saya pikir, dokter Bunga akan mengajak saya berdoa (benar-benar pemikiran bodoh!), ternyata dokter menjelaskan kepada saya berbagai pantangan yang jumlahnya bejibun.

"Trus gak jadi doa nih?" ujar saya setengah becanda, sambil beringsut-ingsut bangkit dari the hot seat. Si Bunga hanya ketawa sambil melepas sarung tangannya. Dari situ terlihat bahwa bunga memakai cincin (another stupid mind) dan hilanglah sudah rasa senang gembira hati ini. Ternyata betul, sakit gigi tidak seberapa bila dibandingkan dengan sakit hati.

Saya harus banyak mengucapkan terima kasih pada sang master sakit gigi, mendiang Meggy Z. Berkat beliau lah, saya berani melaksanakan tugas dan kewajiban saya sebagai pesakit-gigi-an. Dan berkat beliau juga, saya masih bisa bertahan sekarang dalam nyeri dan serangan si "nyut2" setelah anestesi maha dasyat itu hilang.

Sekarang saya sedang berandai-andai lagu Meggy Z itu terkenal sampai ke luar negri. Pasti liriknya akan sulit sekali dibuat untuk disesuaikan dengan nadanya. Untunglah Mas Meggy ini lahir, tinggal, besar, dan ngetop di Indonesia jadi Bang Obbie Messakh nggak susah-susah mentransalte-nya ke dalam bahasa inggris. Terima kasih Tuhan, karena sudah menganugerahi saya sebuah otak kurang waras sehingga bisa menghibur diri sendiri saat sakit seperti ini. Terima kasih juga untuk kesempatan anda membaca tulisan kurang penting ini dan membuat anda ingin men-donlod lagu Sakit Gigi dari Youtube supaya anda bisa ingat kembali sperti apa lagunya.

Note: Ingat alasan mengapa tempat itu sepi? Saya tahu ketika sampai di counter dan received those bill.... (tebak saja lah!) Beruntunglah anda2 sekalian yang tidak salah jurusan seperti saya yang sekarang menyesal karena tidak menjadi dokter gigi...

Monday, November 23, 2009

And the Result Is............

one woman down....

Apa ini? Ada apa ini? Tragedi berawal dari sebuah perkara yang biasa-biasa saja yang kemudian menjadi luar biasa. Gara-gara sebuah balon bentuk pedang berwarna "umu" (read: ungu) milik keponakan saya hasil dari muka polosnya di depan badut pembuat balon. Mari kita flash back pada November 22, 2009.

"Krieeeet...Krrrriiiieeeettttt.." Suara ini ditimbulkan dari aksi manis si bocah bernama Janice, umur 4 tahun, hobi nyanyi sambil cekakakan. Tangannya yang imut itu sibuk "mengelus-elus" si balon pemberian badut, bintang tamu sebuah acara di mal daerah Pluit. Sambil jalan menuju parkiran di depan gedung, Janice masih saja sibuk membunyi2kan balonnya dengan cara yang "asik" itu.

Kami pergi berlima, anggotanya adalah sebagai berikut. Kakak saya yang tertua, sekaligus ibu dari sang bocah, Novitaria a.k.a Ce Nov. Berada di barisan paling depan, kaka saya kedua yang bernama Leni. Berada dalam gandengan ci Ce Nov, tak lain dan tak bukan, si kecil Janice. Sedangkan saya sendiri, berasama Ko Robeth mengikuti dari belakang sambil menenteng barang belanjaan.

Tidak lama kemudian...

"Mamiiiiiiiiiii!!!!!" Teriakan si Janice, diikuti sebuah sceen yang "antik" kemudian terjadi.

Balon pembawa bencana itu terbang ditiup angin kencang. Adegan yang terjadi berikut ini, saya ceritakan dari sudut pandang orang yang sudah berhasil menyeberang jalan. Mudah-mudahan bisa menggambarkan dengan tepat dan benar kejadian kemarin itu.

Leni, si tante baik hati sedang berlari di barisan paling depan, mengejar si balon ajaib. Gerakannya terlihat seperti orang yang sedang mengejar ayam. Posisi kedua diduduki oleh keponakan kecil saya, Janice yang ikut berlari mengejar si tante pengejar balon. GErakannya terlihat seperti ayam yang dikejar orang. Tepat di belakangnya, si ibu Novi sedang mengejar ayam, maksud saya Janice, sambil teriak-teriak memanggil namanya. Sedangkan sisa kontestan yang berada di bagian terakhir adalah saya yang cuma bisa melongo dan Ko beth yang juga cuma terdiam. Kira-kira kejadian ini berlangsung sekitar lima detik dalam kecemasan.

Tiba-tiba....

"Cekiiiiiiit..... GUBRAK!!!!" Seorang peserta lomba tangkap balon terbang mendaratkan pantat dengan mesra dan dengan sakses (baca: success). Meringis, entah karena malu atau beneran sakit, si ibu cuma bisa terduduk lemas di atas aspal yang saya yakin 100%, sangat keras sekali!

Kami buru-buru menghampiri korban kecelakaan kecil dengan muka pasrah tak berdaya itu, lalu membantunya berdiri. iring-iringan satpam berseragam biru juga datang untuk CUMA menanyakan "Gak apa-apa bu?" Udah jelas ini ada apa-apa PAAAAK..... Gimana sih? Tapi salah seorang dari mereka akhirnya berhasil menggenggam balon-ungu-sialan-pembawa-bencana sambil cengar-cengir. DAPET BALOONNYAAAAAA.... HORAAAY!!! (Dooh!) Saya tau ini tidak setimpal dengan pengorbanan seumur hidup si ibu yang khawatir dengan keselamatan anaknya yg riang gembira lari-larian di tengah jalan. Owalaaaah....

Kalau direkam, bencana ini mungkin bisa menjadi salah satu pelajaran bagi kita semua.
1. Jangan main balon di tengah jalan, terutama dalam keadaan angin berhembus kencang
2. Jangan mengejar balon kalo si balon terbang, karena jerih payah anda akan sia2, dan si balon bisa dengan sigap ditangkap oleh orang yang ada di depan, bukan Anda yang mengejar dari belakang
3. Jangan lari sambil terjatuh. Anda boleh berlari sambil menari, sambil minum, sambil ngupil, sambil apapun, asal JANGAn sambil terjatuh!

Ingat! Setelah anda terjatuh, perhatikan kanan-kiri Anda. Pasang tampang se-kasihan mungkin, supaya orang-orang sekitar tidak menertawakan. Kejadian tertawa-menertawakan boleh dikerjakan setelah berada di dalam mobil saja. Pasang tampang sejelek mungkin juga diperbolehkan, supaya orang-orang sekitar tidak bisa lagi mengenali Anda ketika anda mampir ke mal yang sama.

Begitu sajalah akhir dari cerita saya kemarin. Terima kasih untuk orang-orang yang telah terlibat dalam pembuatan cerita ini. Terima kasih sebanyak-banyaknya saya sampaikan kepada pemeran utama, tanpa sutradara...ibu Novitaria. Semoga cepat sembuh! Amin...

FYI: si balon yang sudah diselamatkan dari angin kencang, alhasil meledak juga dengan cantiknya di dalam mobil ketika perjalanan pulang. Capeee deee...hehehehehehe.....

Saturday, November 21, 2009

Aneka Obrolan Taxi

Bila kita berada di kota besar layaknya jakarta atau Anda adalah seorang yang sangat dan diwajibkan mobile ke mana-mana tanpa sebuah kendaraan, satu-satunya pengharapan adalah taxi. Taxi ini begitu saya sanjung ketika musim hujan seperti sekarang, karena tentu saja keberadaan taxi kosong sangat sulit didapat. Ketika capek meloncat dari satu meeting ke meeting lain, karena selama perjalanan menggunakan taxi kita bebas tidur. Atau saat sedang melayani banyak telepon dari para klien yang ribet dengan permintaan itu dan ini, taxi jugalah yang memberi tempat nyaman untuk komunikasi telepon seluler.

Dalam sebulan ini, tidak terhitung jumlah taxi yang sudah saya tumpangi. Mulai dari taxi dengan logo si burung biru, burung perak, atau burung-burung yang lain. DAri keragaman jenis taxi yang saya naiki, makin beragam pulalah cerita yang bisa saya dapat selama menikmati jadi penumpang. Berhubung termasuk orang yang tidak bisa diam, saya sering membuka pembicaraan dengan sang sopir. Ada-ada saja topiknya. Biasanya sih, kalimat pembukanya adalah, "kok jalanan macet terus ya pak?". Betul-betul pertanyaan yang sangat-amat-tidak-penting, karena basa-basi ini bukan sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Semua orang juga tahu, Jakarta bukan sebuah kota yang jalannya ramah. Sama seperti saya nanya kepada rumput yang bergoyang, "kenapa langit warnanya biru ya?"

Tapi anehnya, pertanyaan saya itu bisa menimbulkan reaksi macam-macam. Keluhan saya ini padahal cuma sebuah pancingan supaya saya bisa ngobrol lebih lama dengan si pengemudi. Ada saja yang bilang, "Wah kalo gak macet, bukan Jakarta namanya Neng!" Ada juga yang menjawab, "Kalau tidak mau macet, lebih baik kita bikin jalan raya sendiri saja neng." Sampai ada juga yang bikin emosi jiwa, kalau pertanyaan saya malah dijawab dengan nada sengit, "Terus mau bagaimana lagi neng?"

Owalaaaah... Susah juga ya. Saya benci sekali kalau ditanya, "mau lewat mana". Jelas-jelas pada waktu ditanya, saya itu cuma diberi pertanyaan, tujuannya ke mana atau mau diantar ke mana. Begitu. kalau ada pertanyaan lanjutan begini, biasanya saya jawab saja, "sesuka bapak deh, ang penting gak macet". Tapi pernah juga, salah satu sopir taxi yang saya tumpangi malah balas menjawab, "kalau mau lewat jalan yang tidak macet neng, kita lewat jalan sabar saja". Si bapak menjawab itu tanpa ragu, bikin saya yang di belakang jadi mesem-mesem sendiri, tertohok dengan kata-katanya.

Lalu pernah juga, seorang sopir taxi tidak saya ladeni karena terlalu bawel. Di tengah perjalanan, dia malah menawarkan nomor simp**i cantik. Saya bilang saja, tidak punya hape pak, biasanya pake radio panggil. Eh, dia malah ketawa dan meneruskan jualannya dengan nomer seri provider CDMA. Begitu saya bilang, "saya itu udah cantik pak, jadi gak perlu nomer yang cantik lagi. Nanti takut kelewatan cantiknya", baru dia mingkem. Perlu dikasih pelajaran juga nih sopir, sampai saya mencatat nama dan nomer seri taxinya supaya nanti saya buat pengaduan.

Kemarin siang, waktu saya naik taxi sendiri dari arah bandara ke BEJ, saya juga ngobrol yang panjang dan lama dengan si sopir. Kita ketawa-ketawa dengan berbagai lelucon tentang bajaj dan kopaja sampai bergosip tentang menangnya si empunya taxi Gam*a terhadap tuntutannya ke Blu*Bi*d. Berlanjut ke kasus KPK vs Polri. Berlanjut lagi ke kasus pembunuhan di Tj.Duren. Berlanjut lagi ke curhat colongan si bapak yang keluar dari salah satu bank dan menjadi sopir taxi, gara2 perusahaan outsourcing. Di topik yang satu ini, saya cuma diam. Ketar-ketir juga. Jangan-jangan saya diturunkan di jalan, kalau saya sempat membela perusahaan2 outsourcing itu...hehehe...

Pernah, dalam perjalanan saya ke daerah kemang, saya ngobrol panjang lebar dalam taxi. Si bapak sopir menasehati saya dengan bijaknya. Kata dia, "Orang baik itu ada tiga macam. Yang pertama, memang dia berhati baik. Yang kedua karena dia ingin dianggap sebagai orang baik. Dan yang ketiga, hanya karena merasa kasihan." Saya cuma bisa mengangguk-angguk dan mengiyakan perkataannya ditambah dengan nasihat panjang lebar selama 15 menit berikutnya. Tapi saya senang, karena si Bapak memberikan saya banyak pelajaran juga. Makasih ya Paaaak...

Tapi ada satu pengalaman tak terlupakan dengan sebuah taxi. Saya lupa namanya pengemudinya. Yang pasti, pria, usia sekitar 40 tahun, tinggi tidak diketahui karena saya tidak pernah melihat si bapak dalam posisi berdiri, rambut hitam, muka seperti orang kebanyakan jadi susah dihapal. Begini ceritanya.

Malam itu, saya pulang dari kerja di daerah senayan menuju kost di daerah Benhil. Saya cuma sendirian. Di depan Mal tempat saya mengantri taxi, ada banyak orang yang juga ingin menggunakan jasanya. Saya mungkin salah satu dari 10 orang yang mengantri dan jumlahnya terus bertambah. Akhirnya saya dapat juga, dan menyandarkan pantat saya yang besar ini di jok belakang kursi penumpang.

"Malam bu," sapa si bapak.
"Malam Pak. Saya mau ke Benhil ya Pak," saya menjawab tak kalah sopan.
"Baik bu"

Tak lama kemudian, seperti biasa saya jugalah yang tak tahan berlama-lama dalam kebisuan. "Habis mengantar saya kke Benhil, bisa pulang lagi dong pak ke senayan? Tadi banyak banget yang ngantri mau naik taxi. Dari Benhil kan deket ya pak? Bisa dapet satu orang lagi tuh." Dengan semangat berapi-api saya mengajukan usul yang sebenernya kurang penting.

"Oh, nggak neng. Saya mah mau pulang sehabis mengantar Neng ke Benhil."
"Lho, kan masih pagi pak? Baru jam 11 kurang," kata saya lagi.
"Saya mau pulang saja neng, kebetulan sudah dapat setorannya," katanya pelan.
"Wah, baguslah kalau begitu pak. Pasti rame ya hari ini?" saya menyahut dengan senyum centil.
"Ya, syukur alhamdulillah neng. Cukup."

Si Bapak mengingatkan saya untuk bersyukur pada malam itu. Saya kadang terlalu mengejar ini dan itu, sampai lupa untuk merasakan nikmat dan kecukupan yang diberi oleh Tuhan begitu luar biasa. tapi itu belum selesai. pada saat sampai di depan pintu kost, argo menunjukkan angka 16.500 rupiah. Saya cuma punya uang 50rban. Akhirnya saya mintalah kembalian 30rb. Tapi si bapak malah mengeluarkan uang 35rb dan menyodorkan kepada saya. Karena ingat mau membeli gorengan untuk sarapan besok pagi, maka saya cuma mau mengambil 30rb saja dan menanyakan apakah si bapak punya uang seribu rupiah selembar. Kan lumayan, kalau ada. Ternyata si bapak menolak, dan memaksa saya untuk menerima kembalian yang dia siapkan. katanya, "Neng, ini uangnya neng. Kalau saya cuma kembaliin 30rb, terlalu banyak. Saya gak mau neng. Ini saja kembaliannya, pas kok."

Yang terjadi selama dua menit berikutnya adalah adegan sodor-menyodorkan uang 35ribu itu. Pada akhirnya saya lah yang mengalah karena si bapak terlihat kekeuh sekali dengan kata-katanya malam itu. Saya cuma bisa menyampaikan salam perpisahan, "terima kasih banyak, Pak. Mudah-mudahan selamat sampai rumah ya, Pak." dan kalimat saya itu dibalas dengan senyum berikut ucapan terima kasih yang terlihat tulus sekali.

Dari semua tipe pekerjaan yang saya kenal dekat saat ini, mulai dari creative agency sampai sopir taxi, saya melihat bahwa orang-orang sabar itu kebanyakan yang berprofesi sebagai sopir taxi, apalagi yang ada di Jakarta. Sudah setiap hari harus menghadapi macetnya ibu kota, sampai meladeni penumpang yang cerewet seperti saya. Bagi para sopir taxi, maafkanlah kesalahan-kesalahan saya. Mudah-mudahan saya terus berjodoh dengan taxi-taxi yang baik hati. Amin.

Tuesday, November 3, 2009

pengen marah

gak bisa dikendalikan. meledak-ledak dalam secangkir kopi,kepulan asap rokok di ruangan ini dan makan siang yang tidak enak hari ini. Tuhan, saya tidak bisa mengendalikan emosi yang tumpah ruah. Kalau saja ada sedikit waktu dan pengertian dari orang-orang yang bersangkutan... Oh, tidak! Saya tidak mau menyerah hanya karena orang lain yang tidak bisa diajak kerja sama. Saya harus bisa. Yes, I can!!!!