Cafe ini lengang. Belum tampak kerumunan orang yang sibuk mengatur nafas dan memburu udara setelah lelah bekerja. Baru ada saya, dan segelintir manusia yang berpakaian santai, tanpa blazer dan sepatu pantofel. Saya dan segelas ice chocco latte. Terjebak dalam bising jalanan yang mulai padat dan tontonan berita yang tak henti-henti mengulas keributan di gedung pimpinan rakyat.
Sebuah asbak dengan dua puntung rokok bekas isap terdampar di atas meja. Mereka sudah dipakai habis sampai ke ujungnya oleh salah satu rekan kerja saya. Dua jam yang lalu, saya masih berkutat dengan meeting dan obrolan penting seputar kerja. Saya, rekan, dan atasan. Kami bertiga putar otak supaya semua bisa dibereskan. Segera! Dalam hitungan hari saja, saya harus menyelesaikan pekerjaan ini supaya kami bisa lebih lega tanpa kejaran hutang kerjaan. Mendadak, sebuah keinginan bersantai lenyap. Saya harus menuntaskan ini. Pasti!
Melirik sebuah mobil kecil, khas city car sekali, berwarna kuning, yang baru saja meluncur di jalanan sebelah saya membuat saya ingin cepat pulang. Saya ingin loncat ke dalamnya, ikut menumpang sampai ke arah peristirahatan. Rumah kecil yang jarang saya tinggali, karena saya lebih banyak tinggal di beberapa tempat seperti kutu. Pindah sana dan pindah sini. Tapi saya merasa malam ini saya harus pulang. Ada kamar yang sudah pasti berdebu karena saya selalu kabur dari situ. Ada meja yang harus saya bereskan dari tumpukan kertas berantakan. Ada pakaian kotor yang mungkin tidak sempat saya masukan ke cucian. Terlebih lagi, ada seorang sahabat lama, seorang teman yang saya lupakan. Saya terlalu sibuk dengan diri sendiri dan pekerjaan.
Sore hari ini, dengan sengatan matahari yang sama panas seperti siang, saya sangat ingin pulang. Saya ingin menghabiskan waktu di depot ayam goreng kecil di dekat sana. Saya ingin bercerita ngalor-ngidul dengan sahabat saya. Ya, sahabat yang saya tadi ceritakan sebelumnya. Dia yang tinggal sebelah kamar dengan saya. Saya ingin mandi, menggosok semua permukaan kulit dan membersihkan semua. Saya ingin menikmati malam-malam sendirian di depan rumah, mendengarkan sepi yang sungguh sepi.
Baru saja, seorang lelaki perpakaian perlente dan sepatu kulit mengilap duduk di meja sebelah. Hampir yakin, saya bisa menebak bahwa dia adalah salah seorang karyawan kantoran yang baru pulang bekerja. Dia melihat-lihat buku menu dan membaca dengan serius seperti mempelajari buku sekolah. Aneh rasanya, karena dia memakai kacamata yang melorot terlalu jauh dari pangkal matanya. Saya diam saja, memperhatikan diam-diam, melanjutkan bercerita dalam diam, dan akhirnya dia melihat saya. Sebuah tatapan yang membingungkan, karena saya seperti ditegur (disapa) dalam tatapan itu. Serba salah, saya meneliti lagi penampilan mulai dari kepala hingga kaki. Tampaknya tidak ada yang mengganggu. Ya, kecuali kesendirian saya di sini ditemani segelas ice chocco latte dan laptop MAC ini. Kesendirian yang sama dengannya bukan? Dia pun hanya ditemani oleh sebuah laptop hitamnya. Mungkin dia merasa, kami bernasip sama. Kami terjebak dalam sore hari kota Jakarta yang mulai padat di kawasan selatan. Saya menunduk dan melanjutkan mengetik saja. Dia tersenyum.
Ingin saya cepat-cepat menutup laptop dan menuntaskan pekerjaan saya ini. Tapi membongkar kembali file-file sebulan yang lalu berikut email yang berkaitan dengan pekerjaan itu tidak semudah yang saya perkirakan. Saya ingin bisa pulang dengan lega, tanpa himpitan utang kerjaan. Baiklah. Sore hari ini, saya selesaikan semuanya.
Jakarta, dengan riuh rendah suaranya masih menemani saya menulis dan bercerita. Masih memaksa saya untuk segera bergegas pulang dari sini. Sore hari ini, di sebuah hari yang biasa saja, di tengah cafe yang mulai padat pengunjung. Sore hari di suatu hari saya telah bercerita.
--
Kemang,
3 Maret 2010
Wednesday, March 3, 2010
Tuesday, March 2, 2010
Hujan Bulan Maret
Bukan bermaksud menyama-samakan judul tulisan ini dengan judul tulisan salah satu guru menulisku yang bicara soal "Hujan Bulan Juni". Saya hanya ingin bercerita sedikit saja mengenai betapa hujannya hari ini, sebuah hujan di awal bulan Maret.
Hujan di bulan Maret tentunya biasa-biasa saja. Tapi hujan kali ini membasahi bukan hanya pakaian putih dan sehelai pasminah, tapi membanjiri seluruh isi kepala. Hujan yang langka, karena beruraian deras, sempat berhenti, lalu meluncur kembali ke atas bumi. Ada wajah-wajah yang melirik padaku. Wajah yang sumringah, wajah yang sudah terlupa, wajah yang tak pernah dikenal, dan wajah yang tak pernah tersapa. Ada kamu, sebagian besar teman-temanku, sedikit masa lalu, orangtua, saudara, tetangga, dan Tuhan saya.
Siapa?
Siapa Tuhan saya itu?
Mana?
Di mana Dia muncul dan hilang, datang, dan berlalu pergi?
Saya juga bertanya-tanya. Di mana kira-kira Beliau menyembunyikan diri-Nya. Selama ini saya meraba saja, mencari pijakan kaki yang kira-kira pantas untuk saya injak dan tempati. Bukan di sini. Saya merasa lebih bersalah lagi setelah wajah Tuhan yang tak berwujud itu menghilang, berganti dengan sebuah wajah dari masa lalu (yang tentu saja saya anggap berakhir kelam).
Tuhan, maaf.
Bukan Tuhan yang saya ingin lupakan. Justru orang itu. Dia yang mencintai hujan sama seperti aku mengasihi setiap titik air yang jatuh ke tanah. Saya juga ingin menyentuh hujan, seperti dia yang bersahabat dengan laut.
Awal bulan ini, dengan sentuhan hujan yang malas berhenti membuat saya kedip-kedip. Rentetan utang yang membebani, waktu yang seolah tidak pernah cukup, pekerjaan yang menumpuk, kesendirian yang tidak mau beranjak, liburan yang cepat sekali selesai. Semua keengganan itu membuat mata dan hati saya meloncat, melonjak, guling-guling, koprol dan kalau bisa sekalian hand stand dengan sendirinya. Lelahkah saya? Sampai kapan saya akan terus mengambang di batas kewarasan dan jurang kegilaan?
Saya tahu, bukan karena dia. Saya menjerumuskan diri sendiri saja.
Lalu Tuhan dalam titik air hujan yang sudah menggenang di belakang sofa membuat saya berpikir ulang. Sanggupkah sekali lagi aku menyapa-Mu di atas sajadah? Perbincangan tentang Engkau dengan seorang teman disore hari ini alot dan seru, setidaknya dalam hatiku. Lalu mengapa sekali lagi rasa haru menyeruak ketika saya mengatakan sebuah kata itu? Membayangkan saya berserah pasrah dalam sujud, saya menggigit bibir keras-keras. Masih berbekas lukanya sampai sekarang. Tapi luka di hati saya bisa lebih lama sembuh. Karena saya lari dari cinta-Mu. Sekali lagi, maafkan Tuhan.
Dan kesempatan itu datang. Saya mencari sebanyak-banyaknya, menggali ingatan, mencoba mengulangi, dan akhirnya melakukannya. Bertemukah saya dengan Ia? Tidak, belum sempat. Saya gagal kali ini. Tapi saya pasrah, bukan Ia yang tak mau menemui. Saya tahu. Saya sangat mengerti, Ia bisa saya temui dalam wujud apa saja kapan saja. Dari sehelai sajadah, dari lantunan doa, dari syair, bahkan dari hujan. Ia selalu bisa mengetuk hatiku dan membuat saya mengatakan, "ampuni aku ya, Tuhan".
Hujan bulan Maret. Perjalanan tiada ujung. Awal pencarian ulangku. Akhir penantianku tentang kamu. Hujan yang deras yang akan teringat, kapan, di mana, seperti apa, bagaimana dinginnya, betapa malasnya, dengan siapa bersua, dan kepada siapa hamba berserah nantinya.
Saya tidak akan lagi menangisi kamu. Saya berhenti memujamu.
Selamat datang Maretku, dan selamat tinggal hujanmu.
Terselip di gigi, sebuah kalimat terakhir yg ingin diucapkan,"Apa kabar Tuhan? Aku lega, terbebas darinya".
--
In the middle of peace
Jakarta, 1 Maret 2010
Hujan di bulan Maret tentunya biasa-biasa saja. Tapi hujan kali ini membasahi bukan hanya pakaian putih dan sehelai pasminah, tapi membanjiri seluruh isi kepala. Hujan yang langka, karena beruraian deras, sempat berhenti, lalu meluncur kembali ke atas bumi. Ada wajah-wajah yang melirik padaku. Wajah yang sumringah, wajah yang sudah terlupa, wajah yang tak pernah dikenal, dan wajah yang tak pernah tersapa. Ada kamu, sebagian besar teman-temanku, sedikit masa lalu, orangtua, saudara, tetangga, dan Tuhan saya.
Siapa?
Siapa Tuhan saya itu?
Mana?
Di mana Dia muncul dan hilang, datang, dan berlalu pergi?
Saya juga bertanya-tanya. Di mana kira-kira Beliau menyembunyikan diri-Nya. Selama ini saya meraba saja, mencari pijakan kaki yang kira-kira pantas untuk saya injak dan tempati. Bukan di sini. Saya merasa lebih bersalah lagi setelah wajah Tuhan yang tak berwujud itu menghilang, berganti dengan sebuah wajah dari masa lalu (yang tentu saja saya anggap berakhir kelam).
Tuhan, maaf.
Bukan Tuhan yang saya ingin lupakan. Justru orang itu. Dia yang mencintai hujan sama seperti aku mengasihi setiap titik air yang jatuh ke tanah. Saya juga ingin menyentuh hujan, seperti dia yang bersahabat dengan laut.
Awal bulan ini, dengan sentuhan hujan yang malas berhenti membuat saya kedip-kedip. Rentetan utang yang membebani, waktu yang seolah tidak pernah cukup, pekerjaan yang menumpuk, kesendirian yang tidak mau beranjak, liburan yang cepat sekali selesai. Semua keengganan itu membuat mata dan hati saya meloncat, melonjak, guling-guling, koprol dan kalau bisa sekalian hand stand dengan sendirinya. Lelahkah saya? Sampai kapan saya akan terus mengambang di batas kewarasan dan jurang kegilaan?
Saya tahu, bukan karena dia. Saya menjerumuskan diri sendiri saja.
Lalu Tuhan dalam titik air hujan yang sudah menggenang di belakang sofa membuat saya berpikir ulang. Sanggupkah sekali lagi aku menyapa-Mu di atas sajadah? Perbincangan tentang Engkau dengan seorang teman disore hari ini alot dan seru, setidaknya dalam hatiku. Lalu mengapa sekali lagi rasa haru menyeruak ketika saya mengatakan sebuah kata itu? Membayangkan saya berserah pasrah dalam sujud, saya menggigit bibir keras-keras. Masih berbekas lukanya sampai sekarang. Tapi luka di hati saya bisa lebih lama sembuh. Karena saya lari dari cinta-Mu. Sekali lagi, maafkan Tuhan.
Dan kesempatan itu datang. Saya mencari sebanyak-banyaknya, menggali ingatan, mencoba mengulangi, dan akhirnya melakukannya. Bertemukah saya dengan Ia? Tidak, belum sempat. Saya gagal kali ini. Tapi saya pasrah, bukan Ia yang tak mau menemui. Saya tahu. Saya sangat mengerti, Ia bisa saya temui dalam wujud apa saja kapan saja. Dari sehelai sajadah, dari lantunan doa, dari syair, bahkan dari hujan. Ia selalu bisa mengetuk hatiku dan membuat saya mengatakan, "ampuni aku ya, Tuhan".
Hujan bulan Maret. Perjalanan tiada ujung. Awal pencarian ulangku. Akhir penantianku tentang kamu. Hujan yang deras yang akan teringat, kapan, di mana, seperti apa, bagaimana dinginnya, betapa malasnya, dengan siapa bersua, dan kepada siapa hamba berserah nantinya.
Saya tidak akan lagi menangisi kamu. Saya berhenti memujamu.
Selamat datang Maretku, dan selamat tinggal hujanmu.
Terselip di gigi, sebuah kalimat terakhir yg ingin diucapkan,"Apa kabar Tuhan? Aku lega, terbebas darinya".
--
In the middle of peace
Jakarta, 1 Maret 2010
Friday, February 26, 2010
Seolah-olah
Seolah-olah aku mencintaimu
Jatuh hati sampai tergila-gila
Seolah-olah aku menyayangimu
Ingin bertemu dan bermanis manja
Seolah-olah saja
Padahal langit tahu
Padahal pepohonan mendengar
Padahal matahari mengerti
Seolah-olah kita sepasang pencinta
Padahal hanya orang-orang bermuka dua
Seolah-olah kita kekasih
Padahal cuma kebiasaan dan harga diri
Kamu dan aku seolah-olah ada
Kita,
yang sebenarnya terpisah
aku dan kamu yang seolah-olah saja
--
In the middle of trap
Jakarta, 26 February 2010
Jatuh hati sampai tergila-gila
Seolah-olah aku menyayangimu
Ingin bertemu dan bermanis manja
Seolah-olah saja
Padahal langit tahu
Padahal pepohonan mendengar
Padahal matahari mengerti
Seolah-olah kita sepasang pencinta
Padahal hanya orang-orang bermuka dua
Seolah-olah kita kekasih
Padahal cuma kebiasaan dan harga diri
Kamu dan aku seolah-olah ada
Kita,
yang sebenarnya terpisah
aku dan kamu yang seolah-olah saja
--
In the middle of trap
Jakarta, 26 February 2010
Thursday, February 18, 2010
Aku, Kamu, dan Starbuck
Sebuah penghantar malam yang lalu cepat larut, seperti gula di dalam air mendidih. Kau yang menjerang airnya. Kamu membuat malam yang cepat larut, menjadi manis dengan gula. Kau yang taburkan gulanya.
Starbuck dan sebuah cafe open air tepat di sebelahnya. Kita duduk menghadap jalan raya, menghirup udara minim polusi sebanyak mungkin supaya paru-paru yang terbiasa dengan asap dan telinga yang berteman dengan bising bisa menjadi baik kembali. Malam sudah larut. Ada aku, kamu, dan Starbuck.
Padahal kita makan dan minum di sebelah sini, bukan di coffee shop terkenal itu. Kita bercerita dan sibuk membahas starbuck tanpa henti. Starbuck dan seorang barista, Starbuck dan pesona si wanita. Aku, kamu, dan Starbuck. Bertiga dalam malam yang cepat larut, dan manis, dan si minim polusi udara.
Kamu memilih sebuah perbincangan tanpa sakit hati, tentang seorang wanita, tentang seorang barista. Aku banyak berkomentar, kadang seadanya, kadang sekenanya, kadang serius, kadang bercanda. Aku ingin kamu tahu bahwa aku mendukung apapun yang membuat orang lain senang. Kamu pasti senang, karena raut mukamu berseri-seri menceritakan dia tanpa sela tanpa henti. Aku tahu. Di dahimu tertulis itu. Kamu suka padanya. Dia sang barista.
Di sinilah kita. Mendamparkan diri pada sebuah sofa merah tua, di sebuah cafe open air, di sebelah Starbuck persisnya. Pembicaraan dari hulu ke hilir tentang kopi, masalah di kantorku tadi pagi, kesibukanmu mencari cara mendekati wanita, pembicaraan ngalor-ngidul, sampai ke seorang barista. Aku, kamu, dan Starbuck.
Dan malam ini aku merasa cukup bahagia.
--
In the middle of something
Azalea 17/AH, 18 February 2010
Starbuck dan sebuah cafe open air tepat di sebelahnya. Kita duduk menghadap jalan raya, menghirup udara minim polusi sebanyak mungkin supaya paru-paru yang terbiasa dengan asap dan telinga yang berteman dengan bising bisa menjadi baik kembali. Malam sudah larut. Ada aku, kamu, dan Starbuck.
Padahal kita makan dan minum di sebelah sini, bukan di coffee shop terkenal itu. Kita bercerita dan sibuk membahas starbuck tanpa henti. Starbuck dan seorang barista, Starbuck dan pesona si wanita. Aku, kamu, dan Starbuck. Bertiga dalam malam yang cepat larut, dan manis, dan si minim polusi udara.
Kamu memilih sebuah perbincangan tanpa sakit hati, tentang seorang wanita, tentang seorang barista. Aku banyak berkomentar, kadang seadanya, kadang sekenanya, kadang serius, kadang bercanda. Aku ingin kamu tahu bahwa aku mendukung apapun yang membuat orang lain senang. Kamu pasti senang, karena raut mukamu berseri-seri menceritakan dia tanpa sela tanpa henti. Aku tahu. Di dahimu tertulis itu. Kamu suka padanya. Dia sang barista.
Di sinilah kita. Mendamparkan diri pada sebuah sofa merah tua, di sebuah cafe open air, di sebelah Starbuck persisnya. Pembicaraan dari hulu ke hilir tentang kopi, masalah di kantorku tadi pagi, kesibukanmu mencari cara mendekati wanita, pembicaraan ngalor-ngidul, sampai ke seorang barista. Aku, kamu, dan Starbuck.
Dan malam ini aku merasa cukup bahagia.
--
In the middle of something
Azalea 17/AH, 18 February 2010
Wednesday, February 17, 2010
Bahkan Ketika Fajar
Sekali lagi merindukanmu. Sudah pasti, muaklah semua orang yang berulang kali mendengar kalimat yang sama keluar dari mulutku. Tapi bukan sesuatu yang dibuat-buat. Perasaan ini mengalir, deras dan kencang, berdenyut-denyut dalam nadi yang mulai melemah.
Kamu, terbit di kepalaku tepat sebelum matahari menyapa dunia. Dalam dunia yang lirih, aku ingin kamu ada. Nyata. Bukan rekayasa angan-angan saja. Bukan karena otakku berteriak menampilkan kamu di pikiranku. Aku ingin kamu bisa aku sentuh. Bolehkah? Sekali saja mungkin. Aku ingin mencium tanganmu terakhir kali.
Aku diam saja, menghayati setiap pesan yang sempat kamu tinggalkan. Belakangan ini, jari-jarimu yang sering hinggap di pikiranku. Entah mengapa. Mungkin karena kamu mencintaiku dari potongan-potongan jari yang menurutmu berseni (Ya, Tuhan memang seniman handal). Dulu. Katamu. Dan aku sekarang meningat jemarimu yang mendawaikan lagu, di balik gitar itu, meninggalkan sebait pesan atau sepenggal kata cinta. Dulu. Nyanyianmu.
Jauh menghilang. Pelan. Sayang, terlalu pelan. Sangat pelan hingga kamu menempel diam-diam. Aku tidak sadar sekali lagi mencintaimu. Tidak mengerti mengapa cinta bisa datang dan pergi dari orang yang sama yang sudah lama tidak berjumpa. Jumpalitan seperti naik roller coaster. Jatuh cinta ini seperti duri yang terselip pada daging. Rasanya utuh, tepat mengganggu ketika diam atau bergerak. Kamu duri itu.
Dan bahkan ketika fajar seperti sekarang. Dan bahkan ketika kamu sudah jauh di seberang. Dan bahkan ketika sudah lama aku menyerah meletakkan harapanku. Bahkan kini, setahun lebih ketiadaanmu. Aku masih merindukanmu, jatuh hati padamu, mencintaimu.
--
In the middle of memories
Jakarta, 17 Feb 2010
Kamu, terbit di kepalaku tepat sebelum matahari menyapa dunia. Dalam dunia yang lirih, aku ingin kamu ada. Nyata. Bukan rekayasa angan-angan saja. Bukan karena otakku berteriak menampilkan kamu di pikiranku. Aku ingin kamu bisa aku sentuh. Bolehkah? Sekali saja mungkin. Aku ingin mencium tanganmu terakhir kali.
Aku diam saja, menghayati setiap pesan yang sempat kamu tinggalkan. Belakangan ini, jari-jarimu yang sering hinggap di pikiranku. Entah mengapa. Mungkin karena kamu mencintaiku dari potongan-potongan jari yang menurutmu berseni (Ya, Tuhan memang seniman handal). Dulu. Katamu. Dan aku sekarang meningat jemarimu yang mendawaikan lagu, di balik gitar itu, meninggalkan sebait pesan atau sepenggal kata cinta. Dulu. Nyanyianmu.
Jauh menghilang. Pelan. Sayang, terlalu pelan. Sangat pelan hingga kamu menempel diam-diam. Aku tidak sadar sekali lagi mencintaimu. Tidak mengerti mengapa cinta bisa datang dan pergi dari orang yang sama yang sudah lama tidak berjumpa. Jumpalitan seperti naik roller coaster. Jatuh cinta ini seperti duri yang terselip pada daging. Rasanya utuh, tepat mengganggu ketika diam atau bergerak. Kamu duri itu.
Dan bahkan ketika fajar seperti sekarang. Dan bahkan ketika kamu sudah jauh di seberang. Dan bahkan ketika sudah lama aku menyerah meletakkan harapanku. Bahkan kini, setahun lebih ketiadaanmu. Aku masih merindukanmu, jatuh hati padamu, mencintaimu.
--
In the middle of memories
Jakarta, 17 Feb 2010
Wednesday, February 3, 2010
What's All those Nice Words Means?
yeay, nice words means nothing!
Gigi-geligi yang menyempil indah pada gusi, menarikan suara dari kata. Padahal kata itu lalu tak berarti apa-apa. Ya, hanya gigi-geligi yang menyempil manis pada gusi. Membantu sebuah nada yang terpaut dari mulut yang berbusa karena kata.
Aku memiliki ketertarikan menulis dan berkata-kata. Dari otak hingga sampai ke jari yang berjumlah masih lengkap sepuluh. Aku tertarik untuk bicara tentang kata-kata. Dari hati hingga sampai ke lidah yang mampu mengecap rasa. Aku bisa menyentuh kata-kata, lalu membayangkan kata itu melayang masuk ke dalam telinga lalu mampir di otak dan akhirnya tersangkut dalam dada. Aku dan kata-kataku.
Rima? Mengapa berima dan berirama? Supaya indah. Supaya makna yang mengangguni kata bisa meresap lebih dalam. Tak bisa bersuara, andai. Tak mampu berkata, andai. Andai-andai saja aku diam dan tidak menulis dan tidak bicara dan tidak berpikir dan tidak merasa. Lalu aku? Dapatkah aku menyebut diriku manusia?
Kata yang terjuntai, mengalir deras dari sebuah keyboard komputer berwana hitam dengan layar monitor lebar dan hitam dan selingan sepasang speaker yang juga hitam. Terayun-ayun rangkaian kata dari jemari yang menari di atas kerboardnya, dan mata memandang ke depan layar monitornya, dan mendengar lantunan lagu dari speakernya, yang kesemuanya hitam. Aku dan kata-kata ku.
Siapa yang membaca kata-kata itu? Mendengar aku bicara? Merasa setiap kata yang melayang yang terbang yang singgah di telinga, hanyut ke otak, dan akhirnya menepi pada hati? Mungkin bukan engkau, bukan kamu, bukan anda. Hanya aku. Dan juga kata-kataku.
Sial! Ketidakmampuanku menulis sebaris kalimat malam ini membuat aku ingin memaki. Karena makian itu pun berisi kata-kata. Cukup untuk bisa membuat aku lebih merasa menjadi manusia. Bisa menenangkan aku dan membuat aku berpikir sebagai manusia. Aku menjadi manusia ketika berkata. Dan aku ingin memanusiakan kata-kataku. Bukan makian. Bukan sebuah sumpah serapah yang aku luncurkan begitu saja dari bibir yang kotor karena amarah. Aku ingin bersajak, bersyair, berlirik.
Dan malam ini aku tidak mampu. Huruf yang menempel pada kata-kataku tidak mau menyatu dengan hati yang memerintah otakku untuk menggerakkan tanganku dan jemariku. Huruf-huruf itu berantakan. Berpencar masing-masing di satu dan lain tempat dalam ruang yang luas. Mereka tidak mau berkumpul dan merekat. Malam ini aku susah menjadi manusia. Semua karena kata-kata. Kata-kataku.
--
In the middle of loneliness
3 January 2010
Gigi-geligi yang menyempil indah pada gusi, menarikan suara dari kata. Padahal kata itu lalu tak berarti apa-apa. Ya, hanya gigi-geligi yang menyempil manis pada gusi. Membantu sebuah nada yang terpaut dari mulut yang berbusa karena kata.
Aku memiliki ketertarikan menulis dan berkata-kata. Dari otak hingga sampai ke jari yang berjumlah masih lengkap sepuluh. Aku tertarik untuk bicara tentang kata-kata. Dari hati hingga sampai ke lidah yang mampu mengecap rasa. Aku bisa menyentuh kata-kata, lalu membayangkan kata itu melayang masuk ke dalam telinga lalu mampir di otak dan akhirnya tersangkut dalam dada. Aku dan kata-kataku.
Rima? Mengapa berima dan berirama? Supaya indah. Supaya makna yang mengangguni kata bisa meresap lebih dalam. Tak bisa bersuara, andai. Tak mampu berkata, andai. Andai-andai saja aku diam dan tidak menulis dan tidak bicara dan tidak berpikir dan tidak merasa. Lalu aku? Dapatkah aku menyebut diriku manusia?
Kata yang terjuntai, mengalir deras dari sebuah keyboard komputer berwana hitam dengan layar monitor lebar dan hitam dan selingan sepasang speaker yang juga hitam. Terayun-ayun rangkaian kata dari jemari yang menari di atas kerboardnya, dan mata memandang ke depan layar monitornya, dan mendengar lantunan lagu dari speakernya, yang kesemuanya hitam. Aku dan kata-kata ku.
Siapa yang membaca kata-kata itu? Mendengar aku bicara? Merasa setiap kata yang melayang yang terbang yang singgah di telinga, hanyut ke otak, dan akhirnya menepi pada hati? Mungkin bukan engkau, bukan kamu, bukan anda. Hanya aku. Dan juga kata-kataku.
Sial! Ketidakmampuanku menulis sebaris kalimat malam ini membuat aku ingin memaki. Karena makian itu pun berisi kata-kata. Cukup untuk bisa membuat aku lebih merasa menjadi manusia. Bisa menenangkan aku dan membuat aku berpikir sebagai manusia. Aku menjadi manusia ketika berkata. Dan aku ingin memanusiakan kata-kataku. Bukan makian. Bukan sebuah sumpah serapah yang aku luncurkan begitu saja dari bibir yang kotor karena amarah. Aku ingin bersajak, bersyair, berlirik.
Dan malam ini aku tidak mampu. Huruf yang menempel pada kata-kataku tidak mau menyatu dengan hati yang memerintah otakku untuk menggerakkan tanganku dan jemariku. Huruf-huruf itu berantakan. Berpencar masing-masing di satu dan lain tempat dalam ruang yang luas. Mereka tidak mau berkumpul dan merekat. Malam ini aku susah menjadi manusia. Semua karena kata-kata. Kata-kataku.
--
In the middle of loneliness
3 January 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)