Tuhan yang pemurah, titik-titik air yang jatuh ke tanah yang kemudian meloncat-loncat kegirangan di bawah sana, yang menciptakan riak kecil pada tepi jalan, aku syukuri pada malam ini. Mengalirlah sampai ke ujung, terus turun pada selokan yang landai, membawa hatiku jatuh dan berderai. Aku mencintai Engkau.
Malam ini basah. Begitu basah sampai aku harus memeras hatiku yang kebanjiran. Terlalu penuh cinta yang dicurahkan padaku. Engkau sungguh baik. Kau mengisi aku dan memenuhi aku berkali-kali, bahkan ketika aku menjadi pelupa. Tangan yang perkasa itulah yang kembali membawa aku pulang, berlabuh pada-Mu.
Ah, hujan. Selalu saja hujan yang menyuarakan kecintaanku pada-Mu. Mungkin harus kutanyakan pada ibu, apakah aku lahir saat turun hujan deras. Suara-Mu mengalir di telingaku bersamaan dengan gemericik air yang menabuh bumi. Aku ingin merasakan aliran air yang sesungguhnya, yang jarang kurasa saat ku basuh tubuh ketika mandi. Aku ingin merasakan tetes-tetes hujan yang berlomba turun dari dahi hingga ujung kaki. Aku ingin merasakan Engkau.
Air mata hatiku tidak bisa membanjiri lahan di bumi, seperti Engkau yang menyuburkan dunia yang kering. Aku menangis bukan karena kesedihanku, bukan karena putus asa, bukan juga marah atau benci. Aku menangisi siapa? Haruskah aku mengaku bahwa aku sungguh tidak berdaya? Aku berpasrah. Aku mengadukan hidup dan matiku, Tuhan. Engkau pencipta alam. Semoga sudilah Kau mendengar. Dan kupercaya, tak ada air mata yang sia-sia. Kau akan mengganti curahan kepedihanku dengan cinta-Mu.
Amin.
--
In the middle of rain
Home, 4-5-2010
Tuesday, May 4, 2010
Saturday, May 1, 2010
Pinta Seorang Manusia
Peluh,
Keruh
Sedih,
Pedih
Marah,
Gerah
Kutuai kata-kata
Mengalun tanpa suara
Kumaki dunia
Tertuang dalam air mata
Dawai matahari
Genderang kulit rembulan
Tolong terangi aku
Sekali lagi
Lagi...
Lalu pintaku pada Tuhan
Manusiakan aku
Lebih manusia
Hingga esok
Esok...
Syukur kepada Allah
Keruh
Sedih,
Pedih
Marah,
Gerah
Kutuai kata-kata
Mengalun tanpa suara
Kumaki dunia
Tertuang dalam air mata
Dawai matahari
Genderang kulit rembulan
Tolong terangi aku
Sekali lagi
Lagi...
Lalu pintaku pada Tuhan
Manusiakan aku
Lebih manusia
Hingga esok
Esok...
Syukur kepada Allah
Friday, April 23, 2010
Kuserahkan Saja Pada-Mu
Kuserahkan saja pada-Mu. Kau yang mengetahui semua, termasuk isi hati dan air mataku. Kuserahkan agar Kau bisa memberikan padaku yang terbaik, seperti rencana-Mu. Kubiarkan aku berpasrah dan mengaku lemah. Tuhan, aku sudah lelah. Biarkan kali ini aku menangis di pangkuan-Mu dan kuserahkan pada-Mu hidupku.
Tak pernah tersampaikan sesak ini pada seorang manusia. Pada-Mu satu-satunya aku bisa mengeluh tanpa terburu waktu. Mendengarkanku bicara mungkin memuakkan, betul kan Tuhan? Melihat aku mengeringkan keruh air mata pun tidak menyenangkan, karena seketika banjir lagi dan rusak bendungannya. Aku suka menangis berlama-lama, tanpa tahu kapan aku akan berhenti. Lebih sering aku menangis sampai tertidur, berharap Engkau akan mendatangiku melalui sebuah kabut putih dan menasehati aku dalam mimpi. Tuhan, mengapa aku selalu tampak putus asa?
Malam ini, kuserahkan hanya untuk Engkau. Bapa yang baik, jangan pernah tinggalkanku. Tuhan yang kuasa, ampunilah dosaku.
Kering tenggorokanku, menangis tanpa suara.
Tuhan, aku sudah berusaha. Aku ingin menjadikan semuanya sempurna. Aku dulu yakin sekali bahwa aku bisa. Aku ingin membuktikan pada semuanya. Tapi lihat kegagalanku, ketertinggalanku, keiri-hatianku, kesombonganku yang luluh jadi debu. Aku tinggal dengan hanya semangat yang tersisa sepenggal. Penggalan kecil yang tersisa untuk berpasrah. Sekali lagi aku ucapkan, dengan isak yang lirih dari dadaku, permohonanku yang kusampaikan dengan perasaan kalah. Kuserahkan pada-Mu dan jadikanlah seperti yang Kau mau.
--
in the middle of hopeless
Home, 23 April 2010
Tak pernah tersampaikan sesak ini pada seorang manusia. Pada-Mu satu-satunya aku bisa mengeluh tanpa terburu waktu. Mendengarkanku bicara mungkin memuakkan, betul kan Tuhan? Melihat aku mengeringkan keruh air mata pun tidak menyenangkan, karena seketika banjir lagi dan rusak bendungannya. Aku suka menangis berlama-lama, tanpa tahu kapan aku akan berhenti. Lebih sering aku menangis sampai tertidur, berharap Engkau akan mendatangiku melalui sebuah kabut putih dan menasehati aku dalam mimpi. Tuhan, mengapa aku selalu tampak putus asa?
Malam ini, kuserahkan hanya untuk Engkau. Bapa yang baik, jangan pernah tinggalkanku. Tuhan yang kuasa, ampunilah dosaku.
Kering tenggorokanku, menangis tanpa suara.
Tuhan, aku sudah berusaha. Aku ingin menjadikan semuanya sempurna. Aku dulu yakin sekali bahwa aku bisa. Aku ingin membuktikan pada semuanya. Tapi lihat kegagalanku, ketertinggalanku, keiri-hatianku, kesombonganku yang luluh jadi debu. Aku tinggal dengan hanya semangat yang tersisa sepenggal. Penggalan kecil yang tersisa untuk berpasrah. Sekali lagi aku ucapkan, dengan isak yang lirih dari dadaku, permohonanku yang kusampaikan dengan perasaan kalah. Kuserahkan pada-Mu dan jadikanlah seperti yang Kau mau.
--
in the middle of hopeless
Home, 23 April 2010
Monday, April 19, 2010
Sejak Kehilanganmu
Saya menepuk dada berkali-kali. Terasa kosong melompong,seperti dinding yang tengahnya tidak terisi sempurna. Ada gaung yg mengingatkan saya,pada sebuah kehilangan. Tiba-tiba ruangan tiga kali empat ini serasa hampa udara. Sulit bernapas,apalagi bergerak. Bahkan bibir pun terasa kebas dan kepala seperti tak berengsel,hampir lepas dari sendinya.
Lalu bisa apa sekarang? Dulu semua saya tulis dengan menggebu. Sebuah ketololan yang sering kulakukan. Aku melepasmu. Mungkin bukan itu saja, saya berusaha untuk membuatmu melepaskanku. Kamu menyerah. Kamu menutup mata,seakan-akan tidak peduli bahwa aku ada. Lalu tinggallah aku,tersaruk-maruk menyeret langkah yang kecil untuk bisa terus berjalan. Saya terima sendiri akibatnya. Kamu pun entah bagaimana,menata hidupmu tanpa aku. Daya ku pupus. Sudah hilang,tak berwujud.
Katamu,"kamu pasti bisa tanpa aku". Kataku,"aku bukan manusia tanpamu". Kita saling beradu dalam kata-kata yang sekejap saja habis. Hanya barisan kalimatku yang berbicara pada diri sendiri yang tersisa. Kamu berpaling,entah ada air di sudut matamu atau kering. Saya belum sempat melihat.
Katamu,"anak-anak itu tidak berdosa". Kataku,"mereka tidak berdosa,aku lah si empunya dosa itu". Kau enyahkan tangan yg tergenggam meraup ujung kemejamu. Kau berteriak supaya aku mendengar,padahal aku memang mendengar. Tapi aku tidak mengerti. Hingga saat ini,aku masih tidak mengerti. Tak!
Berputar dan terus mengalun lagu itu, dalam kekosongan jiwaku. Saya senyap. Kata sebagian orang, saya pasti terpulihkan. Hati yang kopong, bukan karena saya tidak peduli. Mungkin hanya karena saya memang sudah mati. Sejak kehilanganmu.
Lalu bisa apa sekarang? Dulu semua saya tulis dengan menggebu. Sebuah ketololan yang sering kulakukan. Aku melepasmu. Mungkin bukan itu saja, saya berusaha untuk membuatmu melepaskanku. Kamu menyerah. Kamu menutup mata,seakan-akan tidak peduli bahwa aku ada. Lalu tinggallah aku,tersaruk-maruk menyeret langkah yang kecil untuk bisa terus berjalan. Saya terima sendiri akibatnya. Kamu pun entah bagaimana,menata hidupmu tanpa aku. Daya ku pupus. Sudah hilang,tak berwujud.
Katamu,"kamu pasti bisa tanpa aku". Kataku,"aku bukan manusia tanpamu". Kita saling beradu dalam kata-kata yang sekejap saja habis. Hanya barisan kalimatku yang berbicara pada diri sendiri yang tersisa. Kamu berpaling,entah ada air di sudut matamu atau kering. Saya belum sempat melihat.
Katamu,"anak-anak itu tidak berdosa". Kataku,"mereka tidak berdosa,aku lah si empunya dosa itu". Kau enyahkan tangan yg tergenggam meraup ujung kemejamu. Kau berteriak supaya aku mendengar,padahal aku memang mendengar. Tapi aku tidak mengerti. Hingga saat ini,aku masih tidak mengerti. Tak!
Berputar dan terus mengalun lagu itu, dalam kekosongan jiwaku. Saya senyap. Kata sebagian orang, saya pasti terpulihkan. Hati yang kopong, bukan karena saya tidak peduli. Mungkin hanya karena saya memang sudah mati. Sejak kehilanganmu.
Lihatlah, Siapa yang Menangis!
Lihatlah, cucur air mata yang bertandang ke pipi merah merona!
Buaian lagu pujian pun membuatnya mengharu
Lihatlah, sejengkal imannya yang teruji bertubi-tubi!
Tuhan yang merajai dunia
Ada di mana Engkau?
Ia berteriak,
menjulurkan tangannya menggapai-gapai udara kosong
Kalut
Takut
Lihatlah, siapa yang menangis!
Lihatlah, kerut-kerut dahinya!
Lihat Tuhan, dan tolong sapalah ia
--
in the middle of emptiness
Home, 19 April 2010
Buaian lagu pujian pun membuatnya mengharu
Lihatlah, sejengkal imannya yang teruji bertubi-tubi!
Tuhan yang merajai dunia
Ada di mana Engkau?
Ia berteriak,
menjulurkan tangannya menggapai-gapai udara kosong
Kalut
Takut
Lihatlah, siapa yang menangis!
Lihatlah, kerut-kerut dahinya!
Lihat Tuhan, dan tolong sapalah ia
--
in the middle of emptiness
Home, 19 April 2010
Tuesday, April 13, 2010
*Tak Berjudul
Masa lalu tidak berhenti mengejar saya hingga saya lelah. Terduduk saya di sofa abu-abu kesayangan dan menghilang ke balik buaian pikiran. Saya teringat kenangan, yang tidak seharusnya terus saya kenang. Saya berandai mimpi, yang tidak semestinya selalu saya impikan.
Memang betul, saya merasa lelah. Tapi betul juga kata salah seorang sahabat saya. Dia bilang, saya jarang menyentuh tanah. Saya melambung dan selalu ingin terbang tinggi dalam khayalan dan kenangan dan andai-andai dan mimpi yang saya buat sendiri. Mengapa? Saya juga tidak terlalu mengerti. Mungkin sebagian dari diri saya masih ingin tinggal dalam masa lalu. Atau mungkin juga, sebagian dari diri saya berharap bisa menjumpai diri saya di waktu itu.
Saya keji. Kadang-kadang begitu. Saya merasa bahwa dunia ini sering bisa saya putar balik, saya injak-injak, dan tidak saya hargai dengan baik. Saya ingin memangsa lelaki-lelaki, mereka dengan gender yang membuat saya merasa putus asa. Okay, saya salah. Bukan lelaki-lelaki, tapi hanya satu pria. Dia. Bagaimana mungkin saya bisa membalas dendam, sementara kedamaian yang saya cari sebenarnya berasal dari diri sendiri. Sedangkan untuk harus melupakan, sangat tidak mungkin rasanya. Mungkin memang saya pernah memaafkan dia, tapi tidak mungkin bagi saya untuk bisa lupa. Dia adalah kenangan yang saya jaga, yang saya sapa setiap pagi, yang saya doakan setiap malam, yang saya pikirkan sepanjang perjalanan, yang menempel dan saya biarkan tumbuh berkembang dalam hati. Walaupun hati itu juga saya pagari. Dia tetap saja merambat, karena betul, memang betul saya yang memupuknya.
Tolong pinjami saya gunting dan arit.
Ingin memotongnya.
Saya putus asa.
Kata mereka, saya gila.
Tidak pernah satu kali pun, ada niat untuk mencelakai orang lain. Tidak pernah saya ingin menyakiti perasaan orang lain. Ketika ada yang berprasangka kepada saya, lihatlah sekali lagi. Prasangkamu atas prasangka ini membuahkan sebuah lingkaran yang menyulitkan kita semua. Jadi tolonglah. Saya bukan ingin dimanjakan, saya tidak mau mencari pelarian, saya juga malas untuk berpura-pura. Saya cuma ingin dimengerti, bahwa keadaan ini akan membaik nanti. Nanti, kata saya. Apabila ada yang lebih berbaik hati, tolong pinjamkan saya gunting dan arit. Itu akan lebih membantu saya dan hubungan kita.
Jadi mana gunting dan aritmu?
Memang betul, saya merasa lelah. Tapi betul juga kata salah seorang sahabat saya. Dia bilang, saya jarang menyentuh tanah. Saya melambung dan selalu ingin terbang tinggi dalam khayalan dan kenangan dan andai-andai dan mimpi yang saya buat sendiri. Mengapa? Saya juga tidak terlalu mengerti. Mungkin sebagian dari diri saya masih ingin tinggal dalam masa lalu. Atau mungkin juga, sebagian dari diri saya berharap bisa menjumpai diri saya di waktu itu.
Saya keji. Kadang-kadang begitu. Saya merasa bahwa dunia ini sering bisa saya putar balik, saya injak-injak, dan tidak saya hargai dengan baik. Saya ingin memangsa lelaki-lelaki, mereka dengan gender yang membuat saya merasa putus asa. Okay, saya salah. Bukan lelaki-lelaki, tapi hanya satu pria. Dia. Bagaimana mungkin saya bisa membalas dendam, sementara kedamaian yang saya cari sebenarnya berasal dari diri sendiri. Sedangkan untuk harus melupakan, sangat tidak mungkin rasanya. Mungkin memang saya pernah memaafkan dia, tapi tidak mungkin bagi saya untuk bisa lupa. Dia adalah kenangan yang saya jaga, yang saya sapa setiap pagi, yang saya doakan setiap malam, yang saya pikirkan sepanjang perjalanan, yang menempel dan saya biarkan tumbuh berkembang dalam hati. Walaupun hati itu juga saya pagari. Dia tetap saja merambat, karena betul, memang betul saya yang memupuknya.
Tolong pinjami saya gunting dan arit.
Ingin memotongnya.
Saya putus asa.
Kata mereka, saya gila.
Tidak pernah satu kali pun, ada niat untuk mencelakai orang lain. Tidak pernah saya ingin menyakiti perasaan orang lain. Ketika ada yang berprasangka kepada saya, lihatlah sekali lagi. Prasangkamu atas prasangka ini membuahkan sebuah lingkaran yang menyulitkan kita semua. Jadi tolonglah. Saya bukan ingin dimanjakan, saya tidak mau mencari pelarian, saya juga malas untuk berpura-pura. Saya cuma ingin dimengerti, bahwa keadaan ini akan membaik nanti. Nanti, kata saya. Apabila ada yang lebih berbaik hati, tolong pinjamkan saya gunting dan arit. Itu akan lebih membantu saya dan hubungan kita.
Jadi mana gunting dan aritmu?
Subscribe to:
Posts (Atom)