Mungkin sebagian cokelat sudah habis tertelan, menyisakan sedikit remah di lantai. Mungkin sebagian kelopak bunga mulai melayu, meruntuhkan sehelai daunnya. Atau mungkin beberapa teguk anggur semalam mulai bereaksi, memaksa keluar dari kerongkongan. Sisanya. Semalam yang indah. Bagi Anda. Bagi pasangan-pasangan muda.
Saya tidak merayakannya dalam sebatang cokelat, buket bunga mawar, atau minuman. Saya hanya melewatinya dg segelintir ucapan dari orang-orang terdekat; keluarga dan kekasih. Saya dan pacar makan malam biasa, di sebuah rumah makan biasa, pulang dan menonton televisi hingga tengah malam. Seperti biasa. Hingga sebuah film selesai ditayangkan, kami memutuskan untuk makan (tengah) malam.
Bandung, 15 Februari 2011, pukul 01.15 WIB.
Beruntung bagi kami, kami berdua kost di daerah stasiun yang masih cukup ramai hingga pagi. Tidak perlu repot untuk mencari makan bila benar-benar kelaparan. Selalu ada gerobak bubur ayam, atau nasi goreng, atau ayam bakar, atau perkedel 'bondon' yang siap sedia 24 jam. Ke sanalah kami pergi, berdua, dengan tangan yang tergenggam, di bawah gerimis hujan.
Selesai makan, dalam perjalanan pulang, saya menyaksikan pria, wanita, anak-anak, lelaki renta tidur menghampar di depan pertokoan tanpa selimut dan hanya beralaskan koran. Ada pula penarik becak yang tidur dalam becaknya. Ada tukang kopi yang terduduk lesu di depan dagangan, di sebuah kursi tanpa lengan. Mereka dan dunianya.
Ke mana perginya valentine bagi mereka? Wahai batangan cokelat, mawar merah, dan alkohol, di mana kalian?
Hari ini, sebelum, sesudah, dan seterusnya. Tak ada bagi mereka sebuah hari kasih sayang yang penuh cinta. Hanya sehelai koran, dan bangku kayu yang dingin. Tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, 14 Februari tetaplah sama seperti biasa.
Tepat ketika kami pulang, hujan deras tercurah seperti langit yang menguras isinya. Dingin. Dan hari kasih sayang pun telat berkata-kata. Mungkin tahun depan ada cokelat, atau bunga, atau minuman bagi mereka.
Yet, another day has come. After valentine, we could see the same old scenes. Such an irony.
Ketika berbatang-batang cokelat, mawar, dan minuman hanya menjadi bingkai memori bagi pasangan-pasangan mudah, kenyataan hidup orang-orang pinggiran terhampar nyata di depan mata.
Tuesday, February 15, 2011
Monday, February 7, 2011
Ngobrol Soal Mimpi
Mimpi saya adalah berkeluarga, memiliki usaha sendiri, menjadi seorang hair dresser dan make up artist yang profesional.
Sekarang?
Mimpi saya tetap sama. Berkeluarga memiliki usaha sendiri, menjadi hair dresser dan make-up artist profesional.
Bedanya?
Kapan saya berkeluarga, dan yang kedua dengan siapa saya memiliki usaha.
Bisa?
Tentu saja. Karena Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang terbaik untuk saya. Saya yakin saya bisa.
Lalu apa mimpi kalian? Kamu yang duduk di depan komputer setiap hari menatap angka-angka? Atau kamu juga yang sibuk menelepon menawarkan kartu kredit? Atau kamu yang menjaga anak, menyusui, melakukan pekerjaan rumah tangga?
Hebat atau tidak mimpimu, jangan pernah menyerah. Karena mengecewakan diri sendiri itu jauh lebih sakit daripada mengecewakan orang lain. Jadilah akuntan yang handal, atau marketer yang menyenangkan banyak calon pengguna kartu kredit, atau ibu rumah tangga yang hangat bagi keluarga.
Mimpiku sederhana saja. Sekali lagi saya katakan, saya hanya ingin berkeluarga, memiliki usaha sendiri, menjadi seorang hair dresser dan make up artist yang profesional.
Amin.
Sekarang?
Mimpi saya tetap sama. Berkeluarga memiliki usaha sendiri, menjadi hair dresser dan make-up artist profesional.
Bedanya?
Kapan saya berkeluarga, dan yang kedua dengan siapa saya memiliki usaha.
Bisa?
Tentu saja. Karena Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang terbaik untuk saya. Saya yakin saya bisa.
Lalu apa mimpi kalian? Kamu yang duduk di depan komputer setiap hari menatap angka-angka? Atau kamu juga yang sibuk menelepon menawarkan kartu kredit? Atau kamu yang menjaga anak, menyusui, melakukan pekerjaan rumah tangga?
Hebat atau tidak mimpimu, jangan pernah menyerah. Karena mengecewakan diri sendiri itu jauh lebih sakit daripada mengecewakan orang lain. Jadilah akuntan yang handal, atau marketer yang menyenangkan banyak calon pengguna kartu kredit, atau ibu rumah tangga yang hangat bagi keluarga.
Mimpiku sederhana saja. Sekali lagi saya katakan, saya hanya ingin berkeluarga, memiliki usaha sendiri, menjadi seorang hair dresser dan make up artist yang profesional.
Amin.
Friday, November 5, 2010
Rintik Air Mata dan Sebait Doa
Tuhan, aku percaya. Bilamana kehendak-Mu, itulah yang terjadi. Dan jika mungkin aku ingin mendengar. Ku ingin jawaban-Mu atas bencana. Aku enggan menerka. Aku tak mau mengira-ngira.
Ini mungkin menyebalkan, Tuhan. Kau mungkin bosan mendengar ocehan, rengek manja, dan ketidakpuasan yang aku sampaikan. Aku hanya ingin menanyakan, sampai berapa lama lagi bencana itu akan berhenti?
Dan di tengah-tengah kesedihanku melihat tumpukan abu, rumah-rumah terbakar, korban tewas bergelimpangan, manusia-manusia terluka, juga sejumlah pengungsi menderita, aku hanya sanggup menyampaikan protesku. Dan protes itu diiringi air mataku.
Aku ingin kami hidup lebih baik. Aku mau kami terhindar dari derita. Aku butuh Engkau. Kami butuh Engkau. Hadirlah di tengah-tengah luapan kepanikan kami. Juga di sekitar rintih duka kami. Hanya Engkau, ya Tuhan, yang mampu menghapus air mata dari pipi-pipi yang merah akibat api, yang berdebu karena abu.
Tuhan...
Kuatkanlah kami.
Ini mungkin menyebalkan, Tuhan. Kau mungkin bosan mendengar ocehan, rengek manja, dan ketidakpuasan yang aku sampaikan. Aku hanya ingin menanyakan, sampai berapa lama lagi bencana itu akan berhenti?
Dan di tengah-tengah kesedihanku melihat tumpukan abu, rumah-rumah terbakar, korban tewas bergelimpangan, manusia-manusia terluka, juga sejumlah pengungsi menderita, aku hanya sanggup menyampaikan protesku. Dan protes itu diiringi air mataku.
Aku ingin kami hidup lebih baik. Aku mau kami terhindar dari derita. Aku butuh Engkau. Kami butuh Engkau. Hadirlah di tengah-tengah luapan kepanikan kami. Juga di sekitar rintih duka kami. Hanya Engkau, ya Tuhan, yang mampu menghapus air mata dari pipi-pipi yang merah akibat api, yang berdebu karena abu.
Tuhan...
Kuatkanlah kami.
Saturday, October 16, 2010
Little Secrets
Each time I wonder why you're keep looking at me when a thousands beautiful girls are around us. And when you say "I love you", the straight look in your eyes makes me fall into a deep peaceful time. No need to worry how much our love is, but keep it in His hands in every prayer at night.
But, hey! Here I want to tell you the little secrets of mine.
Secret #1:
Sometimes I didn't fall asleep just to hear you breathing. I closed my eyes but keep listening the music of your breath and the sound of wind are dancing on my ears.
Secret #2:
Sometimes I only want to sit next to you, side by side, without any word for a while.
Secret #3:
Sometimes I look cold on your motorcycle just so you will hold me.
Secret #4:
Sometimes I memorize the old time with my ex just to remind me that I love you the most.
Secret #5:
Sometimes I check on your email just so I feel calm there's no other girl beside me. Ups, sorry honey.
Secret #6:
Sometimes I say that I'm exhausted just so you'll hug me for more and feel your caress on my head.
Secret #7:
Sometimes I say that you're an old man, whereas I like the way you coddle me as a lil' girl.
Yeah, those are just a few secrets I've never told you. Beside that, there are many other secrets I will confess it later.
I have my little secrets, so does everybody. So what's yours?
But, hey! Here I want to tell you the little secrets of mine.
Secret #1:
Sometimes I didn't fall asleep just to hear you breathing. I closed my eyes but keep listening the music of your breath and the sound of wind are dancing on my ears.
Secret #2:
Sometimes I only want to sit next to you, side by side, without any word for a while.
Secret #3:
Sometimes I look cold on your motorcycle just so you will hold me.
Secret #4:
Sometimes I memorize the old time with my ex just to remind me that I love you the most.
Secret #5:
Sometimes I check on your email just so I feel calm there's no other girl beside me. Ups, sorry honey.
Secret #6:
Sometimes I say that I'm exhausted just so you'll hug me for more and feel your caress on my head.
Secret #7:
Sometimes I say that you're an old man, whereas I like the way you coddle me as a lil' girl.
Yeah, those are just a few secrets I've never told you. Beside that, there are many other secrets I will confess it later.
I have my little secrets, so does everybody. So what's yours?
Tuesday, September 21, 2010
Apakah Salah?
Sebelum hujan turun, bau yang berbeda tersibak dalam udara. Aku mengangkat tanganku, melebarkannya sejauh yang aku bisa. Kuhirup saja, udara yang berbau basah. Bau tanah. Kurasakan sepelan mungkin, waktu yang sepertinya mundur teratur. Detik yang merambat ke belakang.
Sama seperti hujan yang belum turun. Perlahan namun pasti, memberikan tanda-tanda yang sudah bisa kutebak. Awan yang menggelayut, angin yang berhembus, dan udara yang basah, dan bau tanah. Sama seperti juga kamu yang melangkah pelan-pelan, memberi tanda bahwa hidupku akan berakhir bahagia.
Kini sama saja. Sama seperti waktu dulu aku menyadari perasaanku. Menunggu hujan turun sama ketika aku menunggu hatiku kembali terbit. Sudah terlalu lama redup, kurasa. Entah angin, entah air. Mereka menghanyutkan sisa penantianku. Karena aku tahu pada akhirnya akan tiba juga. Sama seperti menunggu hujan turun di sore ini.
Apakah salah?
Masih saja kumenatap debu yang tertiup angin. Mereka bergelung manja pada buaian, yang menghantarkannya ke tempat-tempat nun jauh. Ada pula di sisi jalan, kokoh berdiri pohon tua yang kini sedang mengalun kiri ke kanan. Mereka berbicara. Aku diam. Mereka menikmati angin yang datang sebelum hujan. Aku mendamba titik air bercucuran. Mereka dan aku. Dan hujan yang terlambat datang.
Apakah salah?
Apakah ada yang lebih benar daripada menemukanmu? Menemukan kembali pelajaran tentang kasih, eksistensi diri, dan penghargaan dari sebuah perasaan cinta? Aku harus akui, kau lah kebenaran itu. Kebenaran yang membuat aku merayap melewati titian waktu selama lebih dari setahun hingga akhirnya kubuka hati dan menerima. Dan ternyata benar adanya.
Aku masih menunggu hujan yang terlambat datang. Angin masih menari, mengajak debu jalan berdansa dan pohon tua berirama. Tapi aku tahu pasti, begitu juga mereka, bahwa hujan sore ini akan turun.
Dari balik jendela, aku lalu mendengar suara rintik yang bersusulan.
Dari balik pintu, aku lalu melihat kamu datang dan memelukku.
Aku tahu tidak ada lagi yang salah. Dengan kita.
Sama seperti hujan yang belum turun. Perlahan namun pasti, memberikan tanda-tanda yang sudah bisa kutebak. Awan yang menggelayut, angin yang berhembus, dan udara yang basah, dan bau tanah. Sama seperti juga kamu yang melangkah pelan-pelan, memberi tanda bahwa hidupku akan berakhir bahagia.
Kini sama saja. Sama seperti waktu dulu aku menyadari perasaanku. Menunggu hujan turun sama ketika aku menunggu hatiku kembali terbit. Sudah terlalu lama redup, kurasa. Entah angin, entah air. Mereka menghanyutkan sisa penantianku. Karena aku tahu pada akhirnya akan tiba juga. Sama seperti menunggu hujan turun di sore ini.
Apakah salah?
Masih saja kumenatap debu yang tertiup angin. Mereka bergelung manja pada buaian, yang menghantarkannya ke tempat-tempat nun jauh. Ada pula di sisi jalan, kokoh berdiri pohon tua yang kini sedang mengalun kiri ke kanan. Mereka berbicara. Aku diam. Mereka menikmati angin yang datang sebelum hujan. Aku mendamba titik air bercucuran. Mereka dan aku. Dan hujan yang terlambat datang.
Apakah salah?
Apakah ada yang lebih benar daripada menemukanmu? Menemukan kembali pelajaran tentang kasih, eksistensi diri, dan penghargaan dari sebuah perasaan cinta? Aku harus akui, kau lah kebenaran itu. Kebenaran yang membuat aku merayap melewati titian waktu selama lebih dari setahun hingga akhirnya kubuka hati dan menerima. Dan ternyata benar adanya.
Aku masih menunggu hujan yang terlambat datang. Angin masih menari, mengajak debu jalan berdansa dan pohon tua berirama. Tapi aku tahu pasti, begitu juga mereka, bahwa hujan sore ini akan turun.
Dari balik jendela, aku lalu mendengar suara rintik yang bersusulan.
Dari balik pintu, aku lalu melihat kamu datang dan memelukku.
Aku tahu tidak ada lagi yang salah. Dengan kita.
Thursday, August 19, 2010
Mencintaimu Lebih Dari Ini
Dukaku yang kularung dalam sebuah kali, menghanyut tanpa sebelumnya tergenang di permukaan air. Dukaku sebanyak itu. Dulu, terbendung dalam hati yang kujahit sendiri lukanya.
Tak terperi, rasa sakit atas masa lalu. Aku dan masa laluku. Denyut-denyut dendam yang perlahan hilang. Sudah terbiasa, kataku. Sudah sering dan terlalu lama aku jatuh dan merasakan sakitnya. Lalu semakin kering mulut dan bibirku. Aku terlalu lama tidak bersuara. Mungkin bukan tuli atau bisu. Hanya saja tak bisa mengatakan apa-apa.
Kesendirian, sekali lagi bukan sahabat yang baik. Ia musuh utamaku. Sendiriku. Merantai kaki dan tubuh. Diam. Merasakan getir yang terus berulang. Dalam sendiriku, sakit dan remuk itu kembali dan selalu datang.
Namun.
Kamu hadir di waktu yang tepat. Ketika itu, dendamku sudah hanyut. Duka yang kularung dalam sebuah kali, yang sudah hanyut tanpa tergenang. Hilang sudah. Kamu melengkapiku. Merajut bidang kosong, bekas aku dan lukaku. Mengisi ruang batin, dulu diam dan sendiriku. Aku jatuh hati padamu. Bukan. Kamu membuatku merasakan cinta pada hidup. Rasanya salah. Kamu mengajariku meletakkan sedu sedan pada kasih.
Dan kini hati itu, cinta itu, kasih itu, membanjiri aku. Semoga juga kamu.
Mencintaimu lebih dari ini. Bagaimana caranya? Bagaimana bisa? Aku hanya mencintaimu secukupnya. Mungkin juga kau ingin aku makin cinta. Tapi bagaimana?
Lalu kumohon, beri tahu aku rahasianya. Kuingin mencintamu, lebih dari ini.
--
Dearest Arif,
I Love you
Jakarta, 19 Agustus 2010
Tak terperi, rasa sakit atas masa lalu. Aku dan masa laluku. Denyut-denyut dendam yang perlahan hilang. Sudah terbiasa, kataku. Sudah sering dan terlalu lama aku jatuh dan merasakan sakitnya. Lalu semakin kering mulut dan bibirku. Aku terlalu lama tidak bersuara. Mungkin bukan tuli atau bisu. Hanya saja tak bisa mengatakan apa-apa.
Kesendirian, sekali lagi bukan sahabat yang baik. Ia musuh utamaku. Sendiriku. Merantai kaki dan tubuh. Diam. Merasakan getir yang terus berulang. Dalam sendiriku, sakit dan remuk itu kembali dan selalu datang.
Namun.
Kamu hadir di waktu yang tepat. Ketika itu, dendamku sudah hanyut. Duka yang kularung dalam sebuah kali, yang sudah hanyut tanpa tergenang. Hilang sudah. Kamu melengkapiku. Merajut bidang kosong, bekas aku dan lukaku. Mengisi ruang batin, dulu diam dan sendiriku. Aku jatuh hati padamu. Bukan. Kamu membuatku merasakan cinta pada hidup. Rasanya salah. Kamu mengajariku meletakkan sedu sedan pada kasih.
Dan kini hati itu, cinta itu, kasih itu, membanjiri aku. Semoga juga kamu.
Mencintaimu lebih dari ini. Bagaimana caranya? Bagaimana bisa? Aku hanya mencintaimu secukupnya. Mungkin juga kau ingin aku makin cinta. Tapi bagaimana?
Lalu kumohon, beri tahu aku rahasianya. Kuingin mencintamu, lebih dari ini.
--
Dearest Arif,
I Love you
Jakarta, 19 Agustus 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)