Pada titik itu dia mendaratkan kedamaian luar biasa di balik hatiku. Sebuah senyum melintas darinya menghujam langsung ke dalam dada, tidak lagi bertumpu pada mata. Aku ingin melihat dia cukup dari titik itu, tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh. Aku cukup memantau dia melangkah anggun, menapaki setiap bebatuan dan menyapa gemerisik dedaunan. Dia akan tersenyum pada angin, pada matahari, pada beberapa serangga yang lalu lalang, bukan padaku.
Dengan pakaian serba putih, dia seolah bersinar diterpa cercah mentari. Apalagi di pagi hari seperti ini, aku tahu ke mana kakinya melangkah pergi. Tujuannya adalah sebuah pantai dengan pasir putih berteman ombak bergulung. Pantai itu adalah tempat pertemuan aku dengan dia pertama kalinya, kedua kalinya, ketiga kalinya, hingga sekarang. Tak terhitung jumlahnya hingga dua musim berlalu.
Keberadaanku bukan ingin mengusik raganya, apalagi hatinya. Aku hanya ingin menyapanya lewat momen ini. Dulu bayanganku pernah singgah, bersinggungan dengan tubuhnya yang kecil dan tampak lemah. Tapi cukup satu kali itu saja, ketika keberanianku memuncak tinggi hingga tanpa sadar kaki ini melangkah mendekati. Cinta ini hadir tanpa perlu sebuah absensi. Akan selalu ada sejak pertama pertemuan dimulai hingga segalanya terurai dan selesai. Tanpa perkenalan atau perpisahan.
Aku meminta pada langit untuk menaungi bidadari yang kini menghadap cakrawala. Jangan hujan, pintaku. Jangan biarkan dia basah dan resah kemudian berlalu pergi untuk berlindung di balik tempat tinggalnya yang entah ada di mana.
Di balik pondok berbilik bambu ini aku memandangmu, merekatkan setiap lekuk wajahmu dalam benak. Agar dapat kubayangkan lagi rambut-rambut yang berbaris rapi di atas matamu, melengkung sempurna. Agar dapat kuingat lagi senyum yang manis membingkai bibirmu, berwarna merah cerah. Malam ini aku akan melagukan semua, melantunkan melodi cinta yang cukup hanya aku pemiliknya. Tidak akan aku bagi dengan siapa pun, tidak juga bagi engkau.
Lalu kini kau berteriak, mengatakan pada laut bahwa kau sepi. Kau tersenyum pada mereka seakan mereka mendengar, seakan-akan mereka mengerti. Tapi aku tahu. Aku sangat tahu kesepian hatimu, bahkan waktu kau hanya terdiam, bahkan saat kau melayangkan sebuah senyuman. Aku mengerti kau butuh cinta. Aku mencintaimu, tapi tidak akan aku bagi saat ini. Mungkin tidak juga nanti.
Pakaian yang kau kenakan pagi ini mengembang diterjang angin. Ujung-ujungnya basah karena air laut dan kotor karena pasir. Bayanganmu membelakangi wajah yang kau tutupi dari aku, hanya kau perlihatkan pada pantai yang berdesah. Cintaku tumpah ruah. Menyirami buluh nadiku yang jumlahnya jutaan. Cinta itu terdesak hingga ke atas kepala, menyembunyikan otakku sehingga tidak dapat bekerja. Hanya ada rasa cinta yang terngiang dalam jiwa.
Pada karang besar berwarna kelabu kau bersandar. Mendaratkan tubuhmu yang terlihat lemah di atas sana. Karang itu tinggi dan sedikit terjal. Sesaat aku ingin memegang tanganmu, membantumu menaiki tebing sampai ke puncaknya. Sepuluh detik yang lalu aku ingin sekali berlari ke arahmu dan mengangkat tubuhmu. Tapi aku tidak mampu bergerak.
Dan sekarang aku melihat engkau berbaring menatap langit. Kau di sana tetap menikmati dunia dengan kesendirianmu, sama seperti aku yang menikmati cinta tanpa dibagi. Lagi-lagi kau hanya berteman pada pasir yang bernapas lewat lautnya, ombak yang bergerak lewat riaknya, dan pada langit yang bicara lewat warnanya, bukan dengan seorang manusia.
Tidak aku pertanyakan ke mana kau labuhkan hatimu yang lembut namun biru. Tiada pernah sedikit pun aku cemburu, lalu berlari menangkapmu. Aku inginkan kau bebas, tetap berlayar pada laut lepas. Kau bukanlah milikku siang ini, tidak sampai kemudian hari. Aku memiliki bayanganmu yang aku simpan dalam hati. Cukup. Meminta sepenggal perasaanmu aku tidak berani.
Entah mengapa aku merindukanmu.
Kerinduanku pada engkau menghangatkan aku jauh lebih banyak daripada yang aku terima dari mentari. Perasaan itu menenangkan.
Aku hanya sanggup merindukanmu.
Kerinduanku pada engkau mengindahkan duniaku jauh lebih cantik daripada ombak yang menari-nari pecah ketika sampai di pantai. Perasaan itu mendamaikan.
Aku akan selalu merindukanmu.
Kerinduanku pada engkau menyelamatkan aku dari derita jauh lebih baik daripada pelukan angin atau manusia. Perasaan itu mengamankan.
Teriakan hatiku akan kecintaan, kekaguman, kerinduan diriku akan kamu menjadikanku utuh. Engkau dan aku dalam benak, menyala tanpa sumbu, tidak kunjung padam. Kamu dan gaunmu. Kamu dan pantaimu. Kamu dan senyummu. Kamu dan kesendirianmu. Kamu dan biru hatimu. Kamu melengkapi aku.
Pada tepi pantai biru, dengan kebisuanmu, aku mencintaimu. Selalu.
-2 Juli 2009-
Saturday, July 11, 2009
Thursday, June 4, 2009
Ketidaktahuan perempuan untuk menjadi seorang perempuan
lalu kepada siapa aku ditujukan? Aku manusia tanpa "senjata" di antara paha. Aku berbeda dengan dia, gender yang lebih sering keras kepala. Lalu bagaimana?
Ketika meninggalkan engkau, wahai pria...aku lalu jatuh. Lebih dalam ketika aku menemukan cinta yang nyaris serupa. Kebodohan itu ingin aku tinggalkan. Biarkan saja kutemukan belakangan. Namun kini, tetap saja datang lagi. Seperti tidak mengenal aku sendiri. Menyesali perpisahan? Perempuan memang kejam namun lebih berperasaan. Aneh tapi nyata. Absurd tapi realita.
Ketika ditinggalkan engkau, wahai lelaki...aku terperosok. Lebih jauh ketika aku mencari sebuah cinta yang baru. Kenangan itu ingin aku buang. Lain kali mungkin tak sengaja kembali kutemukan. Tapi sekarang, masih saja selalu ada. Seperti bukan jiwaku yang sama. Menangisi kepergian? Perempuan memang pejuang namun lebih ingin menunggu. Pasti tapi ragu. Tegar tapi lemah.
Perempuan mana yang tidak belajar menjadi seorang perempuan? Menghias diri setiap pagi atau pergi ke salon seminggu sekali. Mungkin hanya aku yang masih belum bisa memiliki sebuah hati, seorang perempuan dengan kalung asa dan mahkota cinta. Aku lebih banyak mencoba menjadi lelaki, melupakan emosi. Terus berpikir, mencocokkan itu dan ini, meneriakkan kenyataan pada diri sendiri. Lelah? Mungkin sudah...
Aku menjadi semakin tidak tahu. Lalu kepada siapa aku ditujukan? Kaliankah manusia-manusia tanpa dada? siapakah kalian di antaranya? Aku masih belum tahu bagaimana menjadi seorang perempuan bagimu...
Ketika meninggalkan engkau, wahai pria...aku lalu jatuh. Lebih dalam ketika aku menemukan cinta yang nyaris serupa. Kebodohan itu ingin aku tinggalkan. Biarkan saja kutemukan belakangan. Namun kini, tetap saja datang lagi. Seperti tidak mengenal aku sendiri. Menyesali perpisahan? Perempuan memang kejam namun lebih berperasaan. Aneh tapi nyata. Absurd tapi realita.
Ketika ditinggalkan engkau, wahai lelaki...aku terperosok. Lebih jauh ketika aku mencari sebuah cinta yang baru. Kenangan itu ingin aku buang. Lain kali mungkin tak sengaja kembali kutemukan. Tapi sekarang, masih saja selalu ada. Seperti bukan jiwaku yang sama. Menangisi kepergian? Perempuan memang pejuang namun lebih ingin menunggu. Pasti tapi ragu. Tegar tapi lemah.
Perempuan mana yang tidak belajar menjadi seorang perempuan? Menghias diri setiap pagi atau pergi ke salon seminggu sekali. Mungkin hanya aku yang masih belum bisa memiliki sebuah hati, seorang perempuan dengan kalung asa dan mahkota cinta. Aku lebih banyak mencoba menjadi lelaki, melupakan emosi. Terus berpikir, mencocokkan itu dan ini, meneriakkan kenyataan pada diri sendiri. Lelah? Mungkin sudah...
Aku menjadi semakin tidak tahu. Lalu kepada siapa aku ditujukan? Kaliankah manusia-manusia tanpa dada? siapakah kalian di antaranya? Aku masih belum tahu bagaimana menjadi seorang perempuan bagimu...
Bicara Tentang Waktu
bila berkata tentang waktu, sebuah lagi alasan untuk tak memaku diri dalam diam. Enggan beranjak, biar saja waktu yang bergerak. Ketika hati kecil mengangguk, mengatakan iya...waktu lalu berkata tidak. Ini adalah penentu hidupmu. Sebuah waktu, sepenggal detik, sebaris jam, sebanyak hari... Inilah yang kita punya. Waktu berjalan, beriringan dengan angan. Dia tidak pernah diam, meninggalkan kita yang tersedu atau malah mendorong kita untuk terus maju. Siapa engkau? Siapa kamu?
Tidak terasa setahun lagi terlewati, sebuah masa diri. Menjadi apa aku kini? Waktu yang lalu, tetaplah sama. Tetap berdetak 60 kali setiap menitnya. Namun kita berubah, wahai manusia. Siapa aku? Siapa kita?
Esok, aku tidak tahu pasti. Kubiarkan rangkaian keajaiban menyesap dalam tiap waktu yang berjalan. Entah sampai kapan. Biar Dia lah yang hentikan. Aku cukup merangkup kedua tangan, di dadaku aku berseru. "Tuhan, Engkau Maha Tahu... Inilah aku dan segala doaku."
Bagi kamu yang telah melewati lagi sebaris memori dalam hidup. Untuk tahun ini, waktu yang berjalan tetaplah sama untukmu. Akan selalu bergerak dalam nada dan irama seperti biasa. Begitu pun doa yang aku sampaikan pada Tuhan. Semoga engkau berbahagia dalam hidupmu, di hari ulang tahunmu, di tiap waktu yang kau tuju.
Selamat ulang tahun...
(Buat Sanny, Ko Arif, dan siapa aja yang berulang tahun di bulan ini)
Tidak terasa setahun lagi terlewati, sebuah masa diri. Menjadi apa aku kini? Waktu yang lalu, tetaplah sama. Tetap berdetak 60 kali setiap menitnya. Namun kita berubah, wahai manusia. Siapa aku? Siapa kita?
Esok, aku tidak tahu pasti. Kubiarkan rangkaian keajaiban menyesap dalam tiap waktu yang berjalan. Entah sampai kapan. Biar Dia lah yang hentikan. Aku cukup merangkup kedua tangan, di dadaku aku berseru. "Tuhan, Engkau Maha Tahu... Inilah aku dan segala doaku."
Bagi kamu yang telah melewati lagi sebaris memori dalam hidup. Untuk tahun ini, waktu yang berjalan tetaplah sama untukmu. Akan selalu bergerak dalam nada dan irama seperti biasa. Begitu pun doa yang aku sampaikan pada Tuhan. Semoga engkau berbahagia dalam hidupmu, di hari ulang tahunmu, di tiap waktu yang kau tuju.
Selamat ulang tahun...
(Buat Sanny, Ko Arif, dan siapa aja yang berulang tahun di bulan ini)
Tuesday, April 28, 2009
My wish for u...
Dulu sewaktu kecil,kita belajar untuk memiliki cita2. Mereka yg lebih tua slalu bertanya,apa yg kita inginkan ketika sudah menjadi dewasa. Mereka meyakinkan dan berkata kita bisa menjadi apapun yg kita mau bila tiba saatnya. Gantungkan angan stinggi langit atau bintang diangkasa. Namun lama-kelamaan,seiring waktu berjalan,kita lalu hilang rasa dan tidak lagi percaya..
Manusia membuat banyak batasan. Dinding,pagar,jalan,marka,atau tanda. Bahkan pada mereka yg telah berserah nyawa,kita beri ruang untuk kebebasannya. Tapi hidup adalah ruang tanpa sisi atau tepi. Waktu terus bergulung tanpa henti. Mungkin tidak juga ketika kita mati.
Kemana kita tanpa mimpi? Manusia bukan apa2 tanpa angan.. Cukup dg sedikit harapan. Jangan hilang..jangan terbang..
We always need a little magic. And I call it prayer..
Now I pray for your best.Wishing u the stars,moon,dark sky of nite, sun, wind, bright light of day, leaves, sand.. Remember that God's always by your side!
Va dove ti porte ill cuore (melangkahlah kemana hati membawamu)
We'll make not only magic,but miracles..
Manusia membuat banyak batasan. Dinding,pagar,jalan,marka,atau tanda. Bahkan pada mereka yg telah berserah nyawa,kita beri ruang untuk kebebasannya. Tapi hidup adalah ruang tanpa sisi atau tepi. Waktu terus bergulung tanpa henti. Mungkin tidak juga ketika kita mati.
Kemana kita tanpa mimpi? Manusia bukan apa2 tanpa angan.. Cukup dg sedikit harapan. Jangan hilang..jangan terbang..
We always need a little magic. And I call it prayer..
Now I pray for your best.Wishing u the stars,moon,dark sky of nite, sun, wind, bright light of day, leaves, sand.. Remember that God's always by your side!
Va dove ti porte ill cuore (melangkahlah kemana hati membawamu)
We'll make not only magic,but miracles..
Sunday, April 26, 2009
bagi para perempuan bangsaku...
“Earning for the Children (Ragat’e Anak)” adalah salah satu karya gabungan dari empat film dokumenter Indonesia yang kemudian diberi judul At Stake (Pertarungan). Film ini diputar di Berlinale Film Festival (Berlin Palas) Februari tahun ini. Memang kesemuanya memiliki benang merah yang sama, yaitu mengangkat cerita tentang perempuan. Kesedihan mengalir ketika ulasan film ini ditayangkan di Metro TV tadi malam. Sumpah, saya menangis waktu menulis ulasan ini, karena saya juga dilahirkan sebagai seorang perempuan.
Nur dan Mira. Mereka adalah pemeran utama yang seharusnya meraih penghargaan sekelas Academy Award. Pekalongan adalah tempat syuting film tersebut, kota kecil yang tidak lebih maju dari daerah asal saya (Palembang) dan kota tempat saya tinggal kini, Bandung. Mereka adalah pekerja-pekerja seks komersil yang menjajakan diri di sebuah sudut kota Pekalongan, tempat orang-orang yang sudah meninggal disemayamkan untuk selamanya, daerah pekuburan.
Bisa? Tentu saja bisa. Buktinya mereka dengan nyaman bergerilya dengan hidup mereka, di sekitar kuburan-kuburan Tionghua. Berapa banyak jumlah perempuannya? Sekitar 80 orang yang aktif berdagang dengan lelaki. Umur berapa saja? Dari 20 tahun sampai 50an tahun. WOW… Fantastis untuk ukuran seorang PSK. Berapa tarif mereka? Jangan terkejut, jangan pula tercengang. Mereka hanya dibayar Rp. 10.000 untuk kali berhubungan. OH MY GOOOSSSH!!! Saya langsung tutup mulut dan merasa ngeri. Kurang kaget apa saya jadinya? Kurang miris gimana? Berapa banyak dalam semalam mereka melayani pria-pria (bajingan)? Dua sampai empat orang… Sekali lagi, OH MY GOOOOSSSSH!!! Kali ini saya memukul-mukul kepala sendiri.
Anda mungkin tidak ragu-ragu ingin marah melihat perempuan-perempuan itu menjual dirinya untuk harga yang tidak lebih mahal dari makan malam saya (yang biasanya saya habiskan dalam waktu 20 menit). Saya tinggal nge-kost di daerah universitas swasta yang lumayan mahal, tentu saja biaya makan dan lain-lain jadi lebih mahal di bandingkan dengan daerah kost universitas negri. Uhm… Jantung saya langsung tidak bisa berdetak pelan. Keringat membasahi telapak tangan walaupun udara dingin. Perasaan campur aduk ada di dalam diri saya.
Tapi jangan marah dulu, Anda harus melihat apa yang dilakukan mereka pada siang hari. Mereka BEKERJA!!! Tetap bekerja sebagai pemecah batu. Satu waktu, film ini sedang menyorot kegiatan Nur memecah batu bersama anak bungsunya yang perempuan. Tangannya tidak sengaja terluka karena terpukul palu. Telunjuk kirinya berdarah. Tapi Nur tidak menghentikan pekerjaannya barang semenit pun. Dia tetap mengambil bebatuan di sebelahnya dan terus memecah batu. Tidak sakitkah itu? Padahal kalau terjepit pintu, saya langsung menangis atau malah memaki-maki. Melihat itu, hati saya pun melunak. Mata saya berair, bukan karena saya memang lagi sakit mata (kebetulan sudah 3 hari). Sedih dan pilu sekali rasanya melihat dia yang luar biasa tabah menjalani hidup tiga sisi, siang sebagai pemecah batu, malam sebagai penjaja seks, dan pekerjaan seumur hidup sebagai seorang ibu dari dua anak yang masih kecil-kecil.
Dengan alasan perjuangan hidup, mereka lalu meletakkan kehormatan mereka di tempat yang sangat rendah. Dengan ukuran ekonomi, mereka lalu membiarkan tubuhnya dikerjai oleh lelaki. Saya menghapus air mata, geleng-geleng sambil mengelus dada. Apa saya bisa membantu mereka-mereka itu, Nur dan Maya serta yang lainnya? Mungkin memang tidak ada, karena boro-boro membantu, kenal saja tidak.
Saya tahu dan mengerti sekali, mereka pasti akan memilih bisa hidup nyaman tanpa harus bekerja semacam itu. Mengingat betapa susahnya mendapat pekerjaan yang baik di tempat terkecil begitu, rasanya tidak mungkin mereka serta-merta meninggalkan sumber nafkahnya. Kisruh hidup mereka tidak bisa hilang karena uang. Mereka percaya, inilah yang harus mereka jalani jadi cukup bertabah hati saja.
Ngomong-ngomong soal penghargaan diri, maaf kalau saya melenceng sedikit dari ulasan film tadi. Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang betapa berharganya seorang perempuan sebagai manusia yang berkewajiban mengandung dan melahirkan.
Seringkali saya pernah melihat seorang perempuan menggendong bayi di dalam angkutan umum. Dua-tiga kali saya melihat ibu-ibu dengan tanpa ragu membuka sebagian pakaiannya dan menyusui anak mereka. Dadanya terlihat, menggantung penuh dan jelas. Orang sekitar menjadi risih, serba salah, kikuk, bingung. Ada yang tertunduk, ada yang diam-diam mengamati, ada juga yang tidak diam-diam ikut mengamati, ada yang memandang jijik, ada yang memandang kesal, ada yang langsung tertegun, ada yang kaget. Tapi jarang sekali, bahkan belum pernah saya lihat (mungkin anda pernah), ada orang yang memandang kagum lalu tersenyum pada si pemberi ASI alias si ibu yang menyusui anaknya. Pernah satu kali malahan, seorang ibu yang berbuat hal itu turun terlebih dahulu dari saya. Dua orang lelaki dan perempuan yang duduk di sebelah saya mencibir dan mengomentari si ibu tadi. Kurang sopanlah, tidak tahu situasi lah, tidak berpendidikanlah, dan sebagainya.
Sebenarnya saya sangat mengagung-agungkan seorang ibu dan perjuangannya menjadi ibu, termasuk menyusui bayi. Tapi saya juga tidak bisa menerima keadaan semacam ini, dimana wanita “memajang” bagian dadanya di depan umum, walaupun dengan tujuan sangat mulia. Tiga ibu yang pernah saya temui, kebetulan semuanya tidak memakai semacam kain penutup atau penghalang pandangan apapun. Padahal mereka bisa saja menutupinya dengan kain bukan? Saya pernah lho melihat ibu-ibu lain melakukannya, tapi dengan lebih terhormat. Entah mereka sudah biasa atau merasa malu atau tidak merasa atau tidak peduli. Saya Cuma bisa gigit jari, dan malu dengan diri saya sendiri. Bukankah seharusnya mereka menghargai diri sendiri, menghargai keindahan mereka, menghargai tanggung jawab untuk melahirkan dan menyusui???
Lebih baik kita kembali lagi pada si cerita Nur dan Mira. Ada lagi adegan yang membuat saya naik darah. Seorang lelaki diwawancara mengenai keadaan tempat itu. Dia adalah preman penguasa, begitu ceritanya. Dengan gamblang dia menjelaskan ini dan itu, termasuk kebiasaan mereka untuk menjadikan salah satu perempuan sebagai gundik, bahkan ada yang punya lebih dari satu. Ada juga pria lain yang kemudian mengoceh tentang perempuan yang sudah seharusnya dijadikan pemuas nafsu mereka. Dia bicara seperti tidak memiliki otak, tidak memiliki anak perempuan, tidak pernah punya ibu, tidak diberi akal, tidak seperti manusia lah pokoknya. “Wanita itu ya harusnya begitu. Di sini kalau ada yang baru, ya dicicipi dulu. Kalau enak, ya lanjut. Kan pertamanya kita melihat saja, berikutnya harus mencoba. Kelihatannya bagus, belum tentu kalau dicoba memang beneran enak,” begitu kira-kira isi bualannya. Sempat lagi si pria pertama bilang, “itu namanya test drive”.
Saya langsung saja memaki-maki. @#$%^&*!@$%^&*! Kurang ajar bener tuh pria-pria bodoh, dalam hati saya. Namun apa boleh buat, ketiadaan empati lantas membuat mereka menjadi tiada malu lagi untuk berbicara seperti itu di depan kamera. Mereka juga menjadi tiada rasa takut, tiada rasa risih. Sampai kapanpun, mereka meletakkan perempuan di bawah kaki mereka, berderajat tidak sama, mungkin bisa dibilang tidak menghargai sedikit pun seorang wanita dan menganggap mereka layaknya barang yang bisa dipakai, disimpan, lalu dibuang begitu saja.
Saya melemahkan jemari, menulis tanpa henti membuat mata saya lelah. Lalu saya sejenak meratapi perjalanan hidup saya sebagai seorang wanita. Diskriminasi yang tidak begitu kentara memang, karena saya tinggal di sebuah kota yang menjanjikan pendidikan bagi mereka yang tinggal di sana. Tapi tidak juga menihilkan ketimpangan-ketimpangan antara lelaki dan perempuan. Ada saja cerita-cerita bagaimana saya diperlakukan kurang adil, kurang sopan, kurang dihargai, dan sebagainya.
Namun bagi Anda, para ibu, saudara-saudara wanita, tante, nenek, sahabat-sahabat arisan, tetangga, penjual pecel, penjual nasi kuning di pasar, mahasiswa, guru, tukang cuci, pembantu rumah tangga, pramuniaga, pramugari, pramusaji, sales promotion girl, polisi wanita, dan perempuan-perempuan dengan titel apapun… Saya berikan penghormatan yang paling tinggi untuk perjuangan kita sebagai perempuan yang mengindahkan dunia, yang memberikan kelahiran, yang mengerti merawat rumah, yang lincah mengasuh anak, yang suka menangis, yang cantik, yang lemah lembut, yang meratui hidup. Kita adalah perempuan bangsa, dan saya bangga.
Selamat Hari Kartini
21 April 2009
Lidya - seorang perempuan Indonesia
Nur dan Mira. Mereka adalah pemeran utama yang seharusnya meraih penghargaan sekelas Academy Award. Pekalongan adalah tempat syuting film tersebut, kota kecil yang tidak lebih maju dari daerah asal saya (Palembang) dan kota tempat saya tinggal kini, Bandung. Mereka adalah pekerja-pekerja seks komersil yang menjajakan diri di sebuah sudut kota Pekalongan, tempat orang-orang yang sudah meninggal disemayamkan untuk selamanya, daerah pekuburan.
Bisa? Tentu saja bisa. Buktinya mereka dengan nyaman bergerilya dengan hidup mereka, di sekitar kuburan-kuburan Tionghua. Berapa banyak jumlah perempuannya? Sekitar 80 orang yang aktif berdagang dengan lelaki. Umur berapa saja? Dari 20 tahun sampai 50an tahun. WOW… Fantastis untuk ukuran seorang PSK. Berapa tarif mereka? Jangan terkejut, jangan pula tercengang. Mereka hanya dibayar Rp. 10.000 untuk kali berhubungan. OH MY GOOOSSSH!!! Saya langsung tutup mulut dan merasa ngeri. Kurang kaget apa saya jadinya? Kurang miris gimana? Berapa banyak dalam semalam mereka melayani pria-pria (bajingan)? Dua sampai empat orang… Sekali lagi, OH MY GOOOOSSSSH!!! Kali ini saya memukul-mukul kepala sendiri.
Anda mungkin tidak ragu-ragu ingin marah melihat perempuan-perempuan itu menjual dirinya untuk harga yang tidak lebih mahal dari makan malam saya (yang biasanya saya habiskan dalam waktu 20 menit). Saya tinggal nge-kost di daerah universitas swasta yang lumayan mahal, tentu saja biaya makan dan lain-lain jadi lebih mahal di bandingkan dengan daerah kost universitas negri. Uhm… Jantung saya langsung tidak bisa berdetak pelan. Keringat membasahi telapak tangan walaupun udara dingin. Perasaan campur aduk ada di dalam diri saya.
Tapi jangan marah dulu, Anda harus melihat apa yang dilakukan mereka pada siang hari. Mereka BEKERJA!!! Tetap bekerja sebagai pemecah batu. Satu waktu, film ini sedang menyorot kegiatan Nur memecah batu bersama anak bungsunya yang perempuan. Tangannya tidak sengaja terluka karena terpukul palu. Telunjuk kirinya berdarah. Tapi Nur tidak menghentikan pekerjaannya barang semenit pun. Dia tetap mengambil bebatuan di sebelahnya dan terus memecah batu. Tidak sakitkah itu? Padahal kalau terjepit pintu, saya langsung menangis atau malah memaki-maki. Melihat itu, hati saya pun melunak. Mata saya berair, bukan karena saya memang lagi sakit mata (kebetulan sudah 3 hari). Sedih dan pilu sekali rasanya melihat dia yang luar biasa tabah menjalani hidup tiga sisi, siang sebagai pemecah batu, malam sebagai penjaja seks, dan pekerjaan seumur hidup sebagai seorang ibu dari dua anak yang masih kecil-kecil.
Dengan alasan perjuangan hidup, mereka lalu meletakkan kehormatan mereka di tempat yang sangat rendah. Dengan ukuran ekonomi, mereka lalu membiarkan tubuhnya dikerjai oleh lelaki. Saya menghapus air mata, geleng-geleng sambil mengelus dada. Apa saya bisa membantu mereka-mereka itu, Nur dan Maya serta yang lainnya? Mungkin memang tidak ada, karena boro-boro membantu, kenal saja tidak.
Saya tahu dan mengerti sekali, mereka pasti akan memilih bisa hidup nyaman tanpa harus bekerja semacam itu. Mengingat betapa susahnya mendapat pekerjaan yang baik di tempat terkecil begitu, rasanya tidak mungkin mereka serta-merta meninggalkan sumber nafkahnya. Kisruh hidup mereka tidak bisa hilang karena uang. Mereka percaya, inilah yang harus mereka jalani jadi cukup bertabah hati saja.
Ngomong-ngomong soal penghargaan diri, maaf kalau saya melenceng sedikit dari ulasan film tadi. Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang betapa berharganya seorang perempuan sebagai manusia yang berkewajiban mengandung dan melahirkan.
Seringkali saya pernah melihat seorang perempuan menggendong bayi di dalam angkutan umum. Dua-tiga kali saya melihat ibu-ibu dengan tanpa ragu membuka sebagian pakaiannya dan menyusui anak mereka. Dadanya terlihat, menggantung penuh dan jelas. Orang sekitar menjadi risih, serba salah, kikuk, bingung. Ada yang tertunduk, ada yang diam-diam mengamati, ada juga yang tidak diam-diam ikut mengamati, ada yang memandang jijik, ada yang memandang kesal, ada yang langsung tertegun, ada yang kaget. Tapi jarang sekali, bahkan belum pernah saya lihat (mungkin anda pernah), ada orang yang memandang kagum lalu tersenyum pada si pemberi ASI alias si ibu yang menyusui anaknya. Pernah satu kali malahan, seorang ibu yang berbuat hal itu turun terlebih dahulu dari saya. Dua orang lelaki dan perempuan yang duduk di sebelah saya mencibir dan mengomentari si ibu tadi. Kurang sopanlah, tidak tahu situasi lah, tidak berpendidikanlah, dan sebagainya.
Sebenarnya saya sangat mengagung-agungkan seorang ibu dan perjuangannya menjadi ibu, termasuk menyusui bayi. Tapi saya juga tidak bisa menerima keadaan semacam ini, dimana wanita “memajang” bagian dadanya di depan umum, walaupun dengan tujuan sangat mulia. Tiga ibu yang pernah saya temui, kebetulan semuanya tidak memakai semacam kain penutup atau penghalang pandangan apapun. Padahal mereka bisa saja menutupinya dengan kain bukan? Saya pernah lho melihat ibu-ibu lain melakukannya, tapi dengan lebih terhormat. Entah mereka sudah biasa atau merasa malu atau tidak merasa atau tidak peduli. Saya Cuma bisa gigit jari, dan malu dengan diri saya sendiri. Bukankah seharusnya mereka menghargai diri sendiri, menghargai keindahan mereka, menghargai tanggung jawab untuk melahirkan dan menyusui???
Lebih baik kita kembali lagi pada si cerita Nur dan Mira. Ada lagi adegan yang membuat saya naik darah. Seorang lelaki diwawancara mengenai keadaan tempat itu. Dia adalah preman penguasa, begitu ceritanya. Dengan gamblang dia menjelaskan ini dan itu, termasuk kebiasaan mereka untuk menjadikan salah satu perempuan sebagai gundik, bahkan ada yang punya lebih dari satu. Ada juga pria lain yang kemudian mengoceh tentang perempuan yang sudah seharusnya dijadikan pemuas nafsu mereka. Dia bicara seperti tidak memiliki otak, tidak memiliki anak perempuan, tidak pernah punya ibu, tidak diberi akal, tidak seperti manusia lah pokoknya. “Wanita itu ya harusnya begitu. Di sini kalau ada yang baru, ya dicicipi dulu. Kalau enak, ya lanjut. Kan pertamanya kita melihat saja, berikutnya harus mencoba. Kelihatannya bagus, belum tentu kalau dicoba memang beneran enak,” begitu kira-kira isi bualannya. Sempat lagi si pria pertama bilang, “itu namanya test drive”.
Saya langsung saja memaki-maki. @#$%^&*!@$%^&*! Kurang ajar bener tuh pria-pria bodoh, dalam hati saya. Namun apa boleh buat, ketiadaan empati lantas membuat mereka menjadi tiada malu lagi untuk berbicara seperti itu di depan kamera. Mereka juga menjadi tiada rasa takut, tiada rasa risih. Sampai kapanpun, mereka meletakkan perempuan di bawah kaki mereka, berderajat tidak sama, mungkin bisa dibilang tidak menghargai sedikit pun seorang wanita dan menganggap mereka layaknya barang yang bisa dipakai, disimpan, lalu dibuang begitu saja.
Saya melemahkan jemari, menulis tanpa henti membuat mata saya lelah. Lalu saya sejenak meratapi perjalanan hidup saya sebagai seorang wanita. Diskriminasi yang tidak begitu kentara memang, karena saya tinggal di sebuah kota yang menjanjikan pendidikan bagi mereka yang tinggal di sana. Tapi tidak juga menihilkan ketimpangan-ketimpangan antara lelaki dan perempuan. Ada saja cerita-cerita bagaimana saya diperlakukan kurang adil, kurang sopan, kurang dihargai, dan sebagainya.
Namun bagi Anda, para ibu, saudara-saudara wanita, tante, nenek, sahabat-sahabat arisan, tetangga, penjual pecel, penjual nasi kuning di pasar, mahasiswa, guru, tukang cuci, pembantu rumah tangga, pramuniaga, pramugari, pramusaji, sales promotion girl, polisi wanita, dan perempuan-perempuan dengan titel apapun… Saya berikan penghormatan yang paling tinggi untuk perjuangan kita sebagai perempuan yang mengindahkan dunia, yang memberikan kelahiran, yang mengerti merawat rumah, yang lincah mengasuh anak, yang suka menangis, yang cantik, yang lemah lembut, yang meratui hidup. Kita adalah perempuan bangsa, dan saya bangga.
Selamat Hari Kartini
21 April 2009
Lidya - seorang perempuan Indonesia
Thursday, April 9, 2009
carpe diem (2'nd part.. END)
Blok berikutnya, aku berbelok ke kiri. Aku lantas melintas ke seberang, menuju sebuah flat tiga lantai berwarna abu-abu, berjendela dua di tiap lantainya. Pintunya terlihat begitu kecil sekarang. Entah karena aku memang masih jauh dari sana atau memang ukurannya berubah begitu saja dalam kepala, efek dari sensasi senang yang berlebihan. Dua orang, sepasang lelaki dan perempuan baru saja keluar dari sana, saling merangkul dan merengkuh. Sedikit kecemburuan terbit di dalam hati, mengingat hampir tidak ada satu pun kenanganku seperti yang mereka lakukan sekarang saat melangkah keluar dari pintu itu.
Untungnya mereka menuju ke arah yang lainnya, jadi kami tidak perlu berpapasan dan aku juga tidak perlu melihat raut penuh cinta yang mereka tampilkan. Aku tidak mengurangi kecepatan, terus bergerak dan menyemangati diri yang sebenarnya sudah memaksa ingin berhenti. Sudah dekat. Kini pintu itu telah kembali dalam ukuran normalnya di hadapanku. Dekat sekali rasanya, sampai-sampai aku bisa membaui kertas itu dan tinta yang menempel di atasnya. Kertas dan tetesan tinta yang melengkapi perjalananku, melengkapi lagi jiwaku.
Dengan pintu itu kini aku berhadapan. Sebuah keputusan yang sudah lama aku nantikan, terletak persis di baliknya. Aku memutar kenop pintu perlahan, membatasi gerakan dan keinginanku untuk lebih cepat lagi menemui kenyataan. Karena hatiku menginginkan untuk menikmati setiap detik menuju saat itu, menikmati debaran jantung yang berdegup keras, menikmati angan yang melayang-layang, menikmati momen-momen yang sampai kapanpun akan aku kenang. Kenikmatan luar biasa mengaliri setiap pembuluh darah ketika aku melihat tanda merah di depan kotak suratku. Tanda itu mengisyaratkan bahwa ada sebuah kiriman di dalamnya. Kotak kecil itu berukuran 50x50 cm dan panjang ke dalam, dengan sebuah tangkai kecil berbahan logam.
Aku menarik kotak nomer 202 milikku dengan hati-hati. Sebuah amplop coklat mengacaukan pikiran, membuyarkan konsentrasi sehingga aku terpaksa mengeja dengan teramat pelan baris demi baris tulisan di halaman depan. Namaku tertera disitu, lengkap dengan alamat tempat tinggalku di flat ini. Aku lantas membaliknya, melihat sang pengirim dan pada momen berikutnya kekuatanku benar-benar habis, mengirimkan aku pada lantai berlapis kayu koridor itu. Aku terduduk di sana, entah untuk berapa lama.
Pada akhirnya, kubuka segel yang merekat pada pinggirnya. Dua lembar tulisan yang diketik rapi harusnya cukup terbaca. Tapi air mata yang menggenang membuatnya buram. Aku lantas menyapu sudut mataku yang basah, membiarkan air mata itu jatuh berderai. Kemampuan melihatku membaik dan aku mulai membaca satu persatu kata yang terangkai di sana.
Lembaran pertama berisi ucapan selamat atas keberhasilanku menyelesaikan program studiku yang telah didanai, tepat pada waktunya. Tiga tahun yang aku jalani penuh beban kini menguap bebas. Debar jantung pun seakan-akan berhenti melihat lembaran berikutnya. Sebuah tanggal tertera di situ, tanggal kepulanganku. Tanggal kebebasanku. Tanggal yang aku hitung dan nantikan hari demi hari sejak pertama berada di kota ini.
-o-0-o-
Bandung, 1 Agustus 2008. Kini aku kembali pada tanah kelahiran yang sejuk dan tenang. Di atas sebuah bukit, aku menikmati senja yang membaur, mewarnai langit menjadi merah menyala, berbatasan dengan biru yang makin kelabu di ujung cakrawala. Perlahan-lahan udara membeku, memeluk aku yang diam tanpa kata. Melayangkan kembali ribuan waktu yang berjalan sebelumnya, detik-detik yang terangkai menjadi memori berbingkai mimpi. Aku kelu, menyaksikan kehadiran anak-anak yang tertawa dan bercanda dengan bahasa yang sama, bahasa ibu yang kupelajari sejak 22 tahun yang lalu. Hari ini, adalah tepat hari ini. Hari ini aku menginjakkan kaki lagi pada bumi, bukan sekedar tanah tempat orang-orang sekitarku berada. Inilah bumi yang aku kenal sejak lahir ke dunia.
Lalu apa yang terjadi pada esok hari? Setelah segala masa yang kualami semenjak tiga tahun terakhir yang penuh dengan isakan dan tangisan serta segukan hampir setiap malam. Esok hari, adalah tepat hari esok. Kurang tujuh jam lagi dari sekarang, segalanya mungkin akan berubah. Orang-orang akan menuliskan tanggal yang berbeda, mengulangi rutinitas mereka, mengerjakan sedikit lagi tanggung jawabnya, belajar di sekolah, atau hanya mengisinya tanpa makna. Hari ini, walaupun hanya sedikit tersisa, aku akan menikmati menjadi diriku yang telah pulang ke dunia.
Hari ini aku sudah melewati jalan-jalan yang membentang, pergi ke sana kemari. Hari ini membawa aku dalam ketenangan luar biasa, kenikmatan penuh, dan kesadaran total mengenai diri. Kelelahan jiwaku tergantikan dengan keindahan tempat ini. Kekosongan yang telah menenggelamkanku pada sendu, terisi dengan alunan cantik nuansa ini. Kemarin aku masih meringkuk dalam kesendirian, di balik selimut biru di sebuah flat nun jauh di sana. Kini, pada detik yang tersisa ribuan jumlahnya, aku menegakkan kepala menghadap dunia yang aku rindukan sekian lama.
“Lara, ayo kita pulang,” suara berat itu memanggil dan menggenggam tanganku lebih erat.
Pasangan jiwaku kini aku temukan dalam wujudnya yang telah utuh kembali. Dia adalah bayanganku sampai dengan akhir hari. Kucondongkan badanku semakin dekat, memeluk segenap raganya berikut jiwa yang ada. Tak akan aku habiskan waktuku tersia-sia, tidak kali ini. Tidak hari ini.
Kulihat jam di lengan yang berwarna perak, serasi dengan terusan putih yang aku kenakan. Jarum yang lebih panjang kini menunjuk angka dua, berarti sudah lewat sepuluh menit dari pukul lima. Aku masih punya banyak waktu untuk mengumpulkan kembali kenangan dan masa. Tapi lalu aku berkata, “Lima menit lagi lalu kita boleh bergegas pergi”.
Carpe Diem, Quam Minimum Credula Postero. Hiduplah untuk hari ini, jangan terlalu percaya pada esok. Raihlah hari yang tersisa.
Untungnya mereka menuju ke arah yang lainnya, jadi kami tidak perlu berpapasan dan aku juga tidak perlu melihat raut penuh cinta yang mereka tampilkan. Aku tidak mengurangi kecepatan, terus bergerak dan menyemangati diri yang sebenarnya sudah memaksa ingin berhenti. Sudah dekat. Kini pintu itu telah kembali dalam ukuran normalnya di hadapanku. Dekat sekali rasanya, sampai-sampai aku bisa membaui kertas itu dan tinta yang menempel di atasnya. Kertas dan tetesan tinta yang melengkapi perjalananku, melengkapi lagi jiwaku.
Dengan pintu itu kini aku berhadapan. Sebuah keputusan yang sudah lama aku nantikan, terletak persis di baliknya. Aku memutar kenop pintu perlahan, membatasi gerakan dan keinginanku untuk lebih cepat lagi menemui kenyataan. Karena hatiku menginginkan untuk menikmati setiap detik menuju saat itu, menikmati debaran jantung yang berdegup keras, menikmati angan yang melayang-layang, menikmati momen-momen yang sampai kapanpun akan aku kenang. Kenikmatan luar biasa mengaliri setiap pembuluh darah ketika aku melihat tanda merah di depan kotak suratku. Tanda itu mengisyaratkan bahwa ada sebuah kiriman di dalamnya. Kotak kecil itu berukuran 50x50 cm dan panjang ke dalam, dengan sebuah tangkai kecil berbahan logam.
Aku menarik kotak nomer 202 milikku dengan hati-hati. Sebuah amplop coklat mengacaukan pikiran, membuyarkan konsentrasi sehingga aku terpaksa mengeja dengan teramat pelan baris demi baris tulisan di halaman depan. Namaku tertera disitu, lengkap dengan alamat tempat tinggalku di flat ini. Aku lantas membaliknya, melihat sang pengirim dan pada momen berikutnya kekuatanku benar-benar habis, mengirimkan aku pada lantai berlapis kayu koridor itu. Aku terduduk di sana, entah untuk berapa lama.
Pada akhirnya, kubuka segel yang merekat pada pinggirnya. Dua lembar tulisan yang diketik rapi harusnya cukup terbaca. Tapi air mata yang menggenang membuatnya buram. Aku lantas menyapu sudut mataku yang basah, membiarkan air mata itu jatuh berderai. Kemampuan melihatku membaik dan aku mulai membaca satu persatu kata yang terangkai di sana.
Lembaran pertama berisi ucapan selamat atas keberhasilanku menyelesaikan program studiku yang telah didanai, tepat pada waktunya. Tiga tahun yang aku jalani penuh beban kini menguap bebas. Debar jantung pun seakan-akan berhenti melihat lembaran berikutnya. Sebuah tanggal tertera di situ, tanggal kepulanganku. Tanggal kebebasanku. Tanggal yang aku hitung dan nantikan hari demi hari sejak pertama berada di kota ini.
-o-0-o-
Bandung, 1 Agustus 2008. Kini aku kembali pada tanah kelahiran yang sejuk dan tenang. Di atas sebuah bukit, aku menikmati senja yang membaur, mewarnai langit menjadi merah menyala, berbatasan dengan biru yang makin kelabu di ujung cakrawala. Perlahan-lahan udara membeku, memeluk aku yang diam tanpa kata. Melayangkan kembali ribuan waktu yang berjalan sebelumnya, detik-detik yang terangkai menjadi memori berbingkai mimpi. Aku kelu, menyaksikan kehadiran anak-anak yang tertawa dan bercanda dengan bahasa yang sama, bahasa ibu yang kupelajari sejak 22 tahun yang lalu. Hari ini, adalah tepat hari ini. Hari ini aku menginjakkan kaki lagi pada bumi, bukan sekedar tanah tempat orang-orang sekitarku berada. Inilah bumi yang aku kenal sejak lahir ke dunia.
Lalu apa yang terjadi pada esok hari? Setelah segala masa yang kualami semenjak tiga tahun terakhir yang penuh dengan isakan dan tangisan serta segukan hampir setiap malam. Esok hari, adalah tepat hari esok. Kurang tujuh jam lagi dari sekarang, segalanya mungkin akan berubah. Orang-orang akan menuliskan tanggal yang berbeda, mengulangi rutinitas mereka, mengerjakan sedikit lagi tanggung jawabnya, belajar di sekolah, atau hanya mengisinya tanpa makna. Hari ini, walaupun hanya sedikit tersisa, aku akan menikmati menjadi diriku yang telah pulang ke dunia.
Hari ini aku sudah melewati jalan-jalan yang membentang, pergi ke sana kemari. Hari ini membawa aku dalam ketenangan luar biasa, kenikmatan penuh, dan kesadaran total mengenai diri. Kelelahan jiwaku tergantikan dengan keindahan tempat ini. Kekosongan yang telah menenggelamkanku pada sendu, terisi dengan alunan cantik nuansa ini. Kemarin aku masih meringkuk dalam kesendirian, di balik selimut biru di sebuah flat nun jauh di sana. Kini, pada detik yang tersisa ribuan jumlahnya, aku menegakkan kepala menghadap dunia yang aku rindukan sekian lama.
“Lara, ayo kita pulang,” suara berat itu memanggil dan menggenggam tanganku lebih erat.
Pasangan jiwaku kini aku temukan dalam wujudnya yang telah utuh kembali. Dia adalah bayanganku sampai dengan akhir hari. Kucondongkan badanku semakin dekat, memeluk segenap raganya berikut jiwa yang ada. Tak akan aku habiskan waktuku tersia-sia, tidak kali ini. Tidak hari ini.
Kulihat jam di lengan yang berwarna perak, serasi dengan terusan putih yang aku kenakan. Jarum yang lebih panjang kini menunjuk angka dua, berarti sudah lewat sepuluh menit dari pukul lima. Aku masih punya banyak waktu untuk mengumpulkan kembali kenangan dan masa. Tapi lalu aku berkata, “Lima menit lagi lalu kita boleh bergegas pergi”.
Carpe Diem, Quam Minimum Credula Postero. Hiduplah untuk hari ini, jangan terlalu percaya pada esok. Raihlah hari yang tersisa.
Subscribe to:
Posts (Atom)